Gusjigang Leadership (G-Lead) merupakan alternatif sistem kepemimpinan berbasis spiritual dan local wisdom namun bervisi global menuju world class integrity, world class civilization. G-Lead digali dari endapan pikiran, perasaan, praktek dan refleksi atas fenomena Gusjigang (Bagus Laku, Pinter Ngaji dan Wasis Dagang) yang makin populer dalam ruang publik sejak sepuluh tahun terakhir. Setidaknya ada 3 (tiga) ranah nilai dalam Gusjigang, yaitu harus bagus akhlaknya, pinter mengaji dan terampil berdagang atau kalau disederhanakan ketiga tata nilai tersebut mencakup dimensi moralitas (akhlak), intelektualitas, dan enterprenership (Said, 2010: 38; Said, 2012: 22; Said, 2013: 123-125). Ketiga etos nilai Gusjigang yang berkesinambungan budaya dengan sistem nilai yang dikembangkan oleh para wali khususnya Sunan Kudus tersebut hanya sekedar menjadi romantisme sejarah tanpa ada upaya sistemik dan terpadu dalam proses rekonstruksi dan reprodukasi budaya melalu strategi kebudayaan (Abdullah, 2006).
Model G-Lead ini masih merupakan tawaran hipotetik atau bisa dikenal juga Mendidik Anak Berkarakter (MenARa) Bagus Ngaji dan Dagang (Gusjigang) sebagai bagian dari kesinambungan sistem nilai yang dikenal sebagai warisan Sunan Kudus dan juga bagian dari warisan auliya di nusantara. Pendidikan ibarat sebuah bangunan menara dimana ada aspek fondasi, dinding penyangga dan atapnya. Fondasinya adalah kesadaran spiritual berupa iman, dinding penyangganya adalah menegakkan lima pilar rukun Islam, dan atap menjulang tinggi di bawah naungan tauhid yang memancarkan cahaya ilahiah untuk semesta alam.
Model hipotetik G-Lead ini bisa memberikan kritik epistemologis atas praktek pendidikan di berbagai jenjang dan jalur yang dalam banyak kasus masih banyak ditemukan pola-pola dikotomik dan mekanistik sehingga terjadi ketercerabutan dan ketidakharmonisan dalam proses pembelajaran dan pendidikan terutama dalam perspektif dimensi materi (jiwa) dan immateri (raga) juga dalam konteks ilmu agama dan ilmu umum.
Hal ini sebagai dampak dari kompetensi pendidikan yang cenderung lebih berorientasi pemenuhan lapangan kerja (materialistis) daripada pembangunan manusia seutuhnya yang mengedepankan nilai kemuliaan. Sehingga pendidikan kita saat ini masih jauh dari empan papan (relevansi dengan identitas budaya dimana pendidikan itu diselenggarakan).
Kendatipun demikian dalam perspektif tertentu, model G-Lead sudah dan sedang dikembangkan terus dalam ranah ruang budaya di Pesantren Riset Sains-Spiritual Moderasi Al-Qur’an (PRISMA) Quranuna Kudus sejak 2020 hingga sekarang dan nanti.
Portal GusjugangLeadership.id ini juga menjadi momentum sebagai supporting sistem dari masyarakat adanya Perda Kabupaten Kudus Nomor 05 Tahun 2021 tentang Penguatan Pedidikan Karakter yang di dalamnya banyak menjadikan 22 (dua puluh dua) nilai-nilai Gusjigang sebgai core values-nya antara lain: religius; jujur; toleransi; disiplin; kerja keras; kreatif dan inovatif; mandiri; demokratis; rasa ingin tahu; semangat kebangsaan; cinta tanah air; menghargai prestasi; bersahabat/ komunikatif; cinta damai; gemar membaca; peduli lingkungan; peduli sosial; tanggung jawab; bernalar kritis; berkebhinekaan global; gotong royong; dan hormat dan berbakti pada orang tua dan guru.
Yang lebih penting lagi bahwa kehadiran GusjugangLeadership.id ini juga sebagai ikhtiar untuk turut mempuk cinta kapada para ulama dan para wali (auliya), karena ulama dan auliya adalah pewaris risalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alai wa sallam. Semoga mendapat ridlaNya.
