Kudus merupakan salah satu kabupaten yang ada di Jawa Tengah, terletak di jalur pantai timur laut Jawa Tengah antara Kota Semarang dan Kota Surabaya. Kota ini berjarak 51 kilometer dari timur Kota Semarang. Kabupaten Kudus berbatasan dengan Kabupaten Pati di timur, Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Demak di selatan, serta Kabupaten Jepara di barat. Kudus dikenal sebagai kota penghasil rokok (kretek) terbesar di Jawa Tengah dan juga dikenal sebagai kota santri. Kota ini adalah pusat perkembangan agama Islam pada abad pertengahan. Hal ini dapat dilihat dari adanya tiga makam wali / sunan, yaitu Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Kedu. Kabupaten Kudus memiliki bangunan bersejarah yang disebut Menara Kudus dan sudah berdiri pada jaman dahulu oleh Syekh Ja’far Shodiq atau lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus.
Menara Kudus memiliki ketinggian 18 meter dengan bagian dasar berukuran 10 x 10 m. Di sekeliling bangunan dihias dengan piring-piring bergambar yang kesemuanya berjumlah 32 buah. Dua puluh buah di antaranya berwarna biru serta berlukiskan masjid, manusia dengan unta dan pohon kurma. Sementara itu, 12 buah lainnya berwarna merah putih berlukiskan kembang. Di dalam menara terdapat tangga yang terbuat dari kayu jati yang mungkin dibuat pada tahun 1895 M. Bangunan dan hiasannya jelas menunjukkan adanya hubungan dengan kesenian Hindu Jawa karena bangunan Menara Kudus itu terdiri dari 3 bagian: (1) kaki, (2) badan, dan (3) puncak bangunan. Menara ini dihiasi pula antefiks (hiasan yang menyerupai bukit kecil)[1]
Pola akulturasi budaya lokal Hindu-Budha dengan Islam ada dalam Menara Kudus. Menara Kudus bukanlah menara yang berarsitektur bangunan Timur Tengah, melainkan lebih mirip dengan bangunan Candi Jago atau serupa juga dengan bangunan Pura di Bali. Menara tersebut difungsikan oleh Sunan Kudus sebagai tempat adzan dan tempat untuk memukul bedug setiap kali datangnya bulan Ramadhan. Kini, menara yang konon merupakan menara masjid tertua di wilayah Jawa tersebut dijadikan sebagai landmark Kabupaten Kudus. Strategi (akulturasi) dakwah Sunan Kudus adalah suatu hal yang melampaui zamannya. Melampaui zaman karena dakwah dengan mengusung nilai-nilai akulturasi saat itu belumlah ramai dipraktikkan oleh penyebar Islam di Indonesia pada umumnya. Kini, toleransi beragama berada di titik nadir. Ironisnya, toleransi beragama tak cuma menjadi barang mahal tetapi sudah terlalu langka. Dengan jalan menghidupkan kembali esensi serta spirit dakwah Sunan Kudus, kiranya masyarakat muslim bisa mengembalikan lagi wajah Islam yang ramah dan toleran setelah sebelumnya dihinggapi oleh stigma negatif. Ajaran Toleransi Ala Sunan Kudus.[2]
Dari bentuk bangunan Menara sendiri membuktikan bahwa akulturasi budaya pada waktu itu saling menghargai agama lain melihat arsitek bangunan tersebut berlatar agama lain yang mana Menara kudus sendiri merupakan bangunan Umat Islam. Dari segi desaign arsiteknya, menara kudus terlihat cantik ketika dipadukan dengan kultur agama lain dan membuat Menara itu sendiri terlihat beda. Sedangkan makna lain dari arsiteknya adalah nilai sosialnya. Yang mana dengan perpaduan tersebut membuat agama lain lebih merasa dihargai walaupun di lingkungan setempat menjadi agama minoritas.
Nilai filosofis lain dari yang penulis jelaskan di atas adalah bahwasannya perbedaan agama bukanlah yang menjadikan dasar terbentuknya kelas-kelas sosial seperti yang saat ini banyak diisukan di media-media sosial dan menjadi trend sebuah chaos di suatu daerah. Hal ini tidak sesuai dengan salah satu dari empat pilar bangsa Indonesia yang berbunyi “Bhinneka Tunggal Ika” dengan makna walaupun berbeda-beda tapi tetap satu. Yang artinya walaupun bangsa ini memiliki banyak suku dan bangsa serta agama namun punya semangat untuk tetap satu tujuan untuk mempertahankan keutuhan NKRI. Karena inti dari sebuah agama dalam nilai sosialnya sesuai dengan sepemahaman penulis adalah tentang perbuatan sesama makhluk hidup ketika hidup di dunia. Dengan berbuat baik antar sesama makhluk Tuhan akan tercipta kehidupan yang nyaman, aman, tentran, dan damai.
Selain itu dalam memahami akulturasi budaya yang ada di bangunan Menara Kudus adalah masyarakat Kudus yang tidak memotong hewan kurban sapi dalam perayaan Idul Adha untuk menghormati masyarakat penganut agama Hindu dengan mengganti kurban sapi dengan memotong kurban dengan binatang kerbau, hal ini merupakan salah satu dari output yang dihasilkan dalam akulturasi budaya setempat.
Jadi jika ditanya apakah akulturasi budaya itu memperindah atau memperburuk? Kesimpulan penulis dengan melihat fenomena yang terjadi di Kudus yang digambarkan dengan Menara Kudus adalah baik dan itu sangat perlu dengan alasan bahwa latar belakang bangsa ini yang mempunyai beberapa umat beragama. Dengan adanya akulturasi pasti akan melahirkan tradisi-tradisi baru yang memberikan banyak warna dalam SARA di suatu daerah. Efeknya positif juga akan mengikuti berupa kerukunan antar umat beragama karena saling menghargai agama masing-masing. Dari segi artistikpun akan memberikan warna baru dan membentuk keindahan yang penuh dengan makna filosofis kerukunan. Dengan tidak menyalahgunakan perpaduan atau akulturasi serta memperkeruh suasana dengan dalil-dalil agama yang hanya dengan penilaian sepihak, maka suatu bangsa ini akan menjadi negara yang maju dan keutuhan NKRI pun akan terus terjaga. Untuk bangunan Menara Kudus sendiri adalah bentuk nasionalisme Sunan Kudus pada masa itu, semua sudah terbukti dengan ajaran dan peninggalan-peninggalan bangunan sejarahnya yang memberikan arti filosofis tinggi. Yaitu toleransi dan kerukunan yang termasuk dalam dasar Negara dan menjadi pilar bangsa Indonesia. Nasionalisme sendiri merupakan sikap warga negara yang cinta akan suatu Negara dan mencegah adanya perpecahan diantaranya.
Salah satu cara untuk mencegah perpecahan adalah dengan open-minded. Terbuka untuk segala macam informasi dan lebih fleksibel dalam menerima perbedaan. Mentolelir perbedaan itu berbeda dengan lantas menyeujuinya lalu mengikutinya. Stay as you are, but don’t judge others if they aren’t on the same page as you. Kami minum kopi dan yang lainnya minum teh. Kami tidak berhak dan tidak sepatutnya kemudian memaksa kalian minum teh juga kan? And vice versa. Berinteraksi dengan orang dari luar daerah asal yang berbeda kebudayaan, membuat kita terbiasa menanggapi perbedaan. Menjadi open-minded, sadar ataupun tidak, akan membuat kita menjadi susah menjudge orang lain. Kita akan memperoleh banyak pelajaran dari berbagai latar belakang yang berbeda, tentang bagaimana perceive life, god, etc. Kita tidak akan mendapatkan apa-apa apabila apabila kita menjadi close-minded. Karena pada hakikatnya seseorang akan berbagi sesuatu dengan kita, apabila kita membuka pintu dan juga mau berbagi sesuatu dengan mereka. Saling berbagi sesuatu ini adalah satu langkah awal untuk menjalin pertemanan. And yes, friendship is really important because of many reasons. Dunia ini terlalu bias untuk didefinisikan dengan satu kaca mata saja.
[1]https://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Menara_Kudus
[2]Nur Said (2010). JejakPerjuanganSunan Kudus DalamMembangunKarakterBangsa. Penerbit :Brillian Media Utama, Bandung &Sanggar ‘Menaraku’, Kudus Cetakan : Pertama. hlm. 25.
Penulis: Risma Widiyanti











Comment