by

Anak Muda Jawa Dan Ramadhan: Menjaga Tradisi Di Tengah Arus Digitalisasi

Oleh: Muna Karima

Muna Karima
Mahasantri Pesantren Literasi Prisma Quranuna Kudus

     Sore Ramadhan di kampung-kampung Jawa selalu terasa hangat. Aroma kolak dari dapur, suara anak-anak berlarian menjelang Maghrib, dan lantunan tadarus dari masjid menjadi pemandangan yang akrab. Di daerah Jawa seperti Yogyakarta dan Surakarta, tradisi Ramadhan masih hidup: megengan sebelum puasa, takjil bersama, hingga tarawih yang ramai oleh anak muda. Bahkan tradisi membangunkan sahur dengan kentongan masih terdengar di beberapa sudut kampung.

     Namun hari ini, suasana itu berjalan berdampingan dengan dunia digital. Alarm sahur berbunyi dari ponsel, jadwal imsak tersebar lewat media sosial, ceramah bisa ditonton kapan saja. Anak muda Jawa hidup di antara bedug dan notifikasi—di anatara suara ayat suci dan bunyi pesan masuk.

     Digitalisasi sering dianggap menggerus tradisi. Padahal, banyak anak muda justru merawatnya dengan cara baru. Kegiatan berbagi takjil dipromosikan lewat platform digital, kajian disiarkan secara daring, bahkan dokumentasi takbir keliling dibagikan agar lebih banyak orang ikut merasakan semangatnya. Di beberapa komunitas di Semarang, Ramadhan tidak hanya dirayakan di masjid, tetapi juga di ruang virtual.

     Tantangannya bukan pada teknologinya, melainkan pada kesadaran dalam menggunakannya. Ramadhan bisa berubah menjadi sekadar konten—foto buka bersama, video tarawih, postingan estetik—tanpa adanya makna. Di sinilah anak muda diuji: apakah mereka menggunakan media sosial sebagai sarana berbagi kebaikan, atau sekadar ruang eksistensi?

     Bagi masyarakat Jawa, Ramadhan selalu tentang kebersamaan dan nilai. Ada tepa selira, unggah-ungguh, dan gotong royong yang diwariskan turun-temurun. Nilai itu tetap relevan, bahkan di era digital yang serba cepat dan sering penuh perdebatan. Menahan diri bukan hanya dari lapar dan haus, tetapi juga dari komentar kasar dan ego di media sosial, adalah bentuk ibadah yang tak kalah penting.

Baca Juga  Lantunan Tadarus: Warisan Spiritual dan Memori Ramadhan Mahasantri PrismaQu

     Tradisi tidak harus kaku mengikuti bentuk lama. Ia bisa beradaptasi selama ruhnya tetap terjaga. Selama masjid masih dipenuhi anak muda, takjil masih dibagikan di jalan, dan keluarga masih berkumpul saat berbuka, tradisi itu belum hilang.

     Anak muda Jawa hari ini tidak sedang memilih antara tradisi atau modernitas. Mereka belajar merangkul keduanya—menjaga akar budaya, sambil melangkah di tengah arus digitalisasi. Dan di balik cahaya layar yang menyala, semoga tetap ada cahaya Ramadhan yang lebih dalam, yang menuntun mereka bukan hanya menjadi generasi digital, tetapi juga generasi yang berakar dan berkarakter.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed