by

Buka Puasa Bersama: Tradisi Filantropi dan Silaturahmi

Oleh: Wardah Arina Rahmah

Wardah Arina Rahmah
Mahasantri Pesantren Literasi Prisma Qur’anuna Kudus

Bulan Ramadan selalu datang dengan nuansa yang beragam. Saat menjelang waktu magrib, seolah waktu berjalan lebih lambat. Di pondok pesantren, setelah kegiatan mengaji sore usai, biasanya para santri akan segera mencari makanan untuk berbuka puasa. Kala itu, lorong-lorong aula dipenuhi dengan langkah yang cepat dan obrolan santai mengenai makanan yang akan dinikmati. Namun sore itu berbeda dari yang biasanya. Mereka tidak sibuk mencari makanan berat, melainkan hanya membeli makanan ringan untuk menemani sambil menunggu waktu berbuka.

Senyuman para santri hari itu tampak lebih lebar sejak mengetahui bahwa akan ada buka puasa bersama. Raut wajah yang biasanya tampak lelah setelah seharian beraktivitas kini berubah menjadi bahagia. Ruangan aula yang sederhana tiba-tiba terasa lebih nyaman dan ramai. Suara tawa kecil terdengar di berbagai sudut, obrolan berjalan dengan lancar, dan beberapa santri mengabadikan momen dengan berfoto bersama.

Kami duduk berjajar rapi dengan makanan di hadapan masing-masing. Beberapa santri berbagi cerita tentang kegiatan kampus, sementara yang lain membicarakan tugas-tugas yang belum tuntas, dan ada juga yang hanya bercanda santai. Di balik status kami sebagai santri, kami juga adalah mahasiswa yang memiliki tanggung jawab di bidang akademik. Kehidupan sehari-hari tidak hanya diisi dengan kajian kitab dan ibadah, tetapi juga dengan kuliah, diskusi, dan berbagai tuntutan akademik. Dalam kesibukan menjalani dua peran tersebut, buka puasa bersama menjadi momen istirahat yang menenangkan.

Buka puasa bersama memang tampak sederhana. Kita hanya duduk bersama dan menyantap makanan ketikan adzan Maghrib sudah berkumandang. Tetapi di balik kesederhanaan itu tersimpan sebuah nilai filantropi yang mendalam. Ada tangan-tangan yang dengan tulus menyiapkan makanan, ada yang menyisihkan sedikit rezekinya agar dapat berbagi dengan seksama dan supaya acara berjalan dengan lancar. Semua hal tersebut di lakukan dengan semangat berbagi. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda:

Baca Juga  Nilai Etis Takjil Gratis: Sedekah Jawa Dalam Spirit Ramadan

“Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini menegaskan bahwa memberi makanan orang yang berpuasa bukan sekedar tindakan sosial, namun juga ibadah yang bernilai besar di sisi Allah SWT. Dari sini kita belajar bahwasannya buka puasa bukan hanya sekedar tradisi, melainkan wujud nyata dari ajaran islam tentang kepedulian.

Selain sebagai wujud filantropi, buka puasa bersama juga menjadi sarana silaturahmi. Di tengah kesibukan belajar dan kegiatan masing-masing, kebersamaan seperti ini adalah hal yang paling di tunggu karena dapat mempererat hubungan antar sesama. Duduk berdampingan tanpa sekat, berbagi cerita, tertawa ringan, dan menanti adzan bersama menghadirkan rasa persaudaraan yang lebih erat. Tidak ada perbedaaan latar belakang, tidak ada kata senior dan junior. Semua menyatu dalam satu momen hangat yang sama.

Menjelang waktu azan Magrib, suasana menjadi semakin tenang. percakapan sedikit demi sedikit mulai berkurang, doa-doa dipanjatkan dalam hening, dan saat suara azan terdengar, kami berbuka puasa dengan rasa syukur. Kebahagiaan yang dirasakan tidak hanya disebabkan oleh hilangnya rasa lapar dan haus, tetapi juga karena momen kebersamaan yang memberikan kehangatan.

Pada akhirnya, berbuka puasa bersama bukan hanya sekadar kegiatan makan. Ia adalah momen yang menggabungkan kegiatan spiritual dan kepedulian sosial. Di situ, kami menyadari bahwa perjuangan sebagai santri dan mahasiswa akan lebih mudah dihadapi ketika dilakukan secara bersama. Dari makanan yang sederhana, muncul rasa nikmat dan syukur. Dari kebersamaan yang penuh kehangatan, lahir silaturahmi yang semakin erat.

Ramadan mungkin hanya berlangsung sebulan, tetapi pelajaran yang dihasilkan dari tradisi ini seharusnya tetap ada. Karena di tengah doa, tawa, dan makanan sederhana tersebut, kita memahami bahwa arti puasa tidak hanya sebatas menahan diri, tetapi juga menguatkan hubungan batin dengan sesama.

Baca Juga  Santri dan Puasa: Disiplin Spiritual yang Membentuk Karakter

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed