by

Falsafah Gusjigang, Semangan KKY dalam Mendukung Pembangunan Kudus

-Gusjigang-148 views

 Catatan perjalanan sejarah  telah menunjukkan  bahwa  masyarakat  Kudus adalah masyarakat pembelajar , kreatif dan sangat menyukai pendidikan. Terbukti dengan adanya   tokoh – tokoh nasional  dalam berbagai bidang yang yang berasal  dari  Kudus. Salah satu tokoh dari Kudus yang terkenal dalam sejarah  adalah Syeh  Ja’far Shodiq  atau yang bergelar Sunan Kudus, beliau merupakan  salah satu tokoh Walisongo  yang mempunyai peranan penting dalam pemerintahan Kerajaan Demak.  Kepiawaiannya dalam berdiplomasi yang dikombinasikan dengan semangat toleransi yang  tinggi, menjadikan seorang Ja’far  Shodiq sebagai Senopati Panglima Perang Kerajaan Demak dan sekaligus pendakwah ulung dalam penyebaran agama Islam di Kudus. Dengan pendekatan budaya, yang diwujudkan dalam bentuk arsitektur dan seni, beliau berhasil menarik simpati orang-orang Kudus agar bersedia memeluk agama Islam. Sepak terjang kehidupan Syeh Ja’far Shodiq menunjukkan bahwa beliau menjaga  keseimbangan antara kehidupan beragama dan bermasyarakat, oleh karena itu selain sebagai seorang ulama, negarawan, beliau juga membangun jaringan perdagangan dengan orang-orang China. Salah satu teman akrabnya bernama Tee Lin Sing atau dikenal sebagai  Kyai Telingsing, adalah seorang pedagang sekaligus ulama asal China yang berperan sebagai penasehat Syeh Ja’far Shodiq dalam bidang perdagangan dan perekonomian. Menurut beberapa sumber sejarah, dalam berkehidupan Syeh  Ja’far Shodiq mempunyai filsafat  hidup Gus Ji Gang, yaitu akronim kepanjanganan dari baGus budi pekertinya, pinter ngaJi dan pinter daGang.  Bagus Budi Pekerti mengisyaratkan bahwa masyarakat Kudus adalah masyarakat yang baik tingkah lakunya, santun dalam berkehidupan , Pinter Ngaji tidak hanya diartikan sekedar ngaji dalam pemahaman mengaji Al-Quran namun juga mempunyai konotasi bahwa masyarakat Kudus gemar berpikir  melakukan  kajian terhadap berbagai sumber-sumber kitab agama yang dapat memperkokoh ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, maupun mengkaji  referensi ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan Pinter Dagang jelas sekali menujukkan bahwa masyarakat Kudus adalah masyarakat yang pandai berdagang, berkiprah dalam kegiatan ekonomi.  Tiga hal yang terkandung dalam makna Gus Ji Gang , dapat dijadikan  “semangat” bagi warga  Kudus sebagai modal untuk membangun intregritas  dalam  berkehidupan dengan didasari pada prinsip keseimbangan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat melalui praktek-praktek kegiatan pembangunan ekonomi dan pembangunan pendidikan , guna menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) Kudus yang berkualitas. 

Keluarga Kudus Yogyakarta (KKY)  adalah organisasi sosial kemasyarakatan yang dibentuk karena rasa “senasib sepenangungan “ orang Kudus di rantau orang kota Yogyakarta. Mayoritas anggota KKY adalah pelajar dan mahasiswa , mengingat bahwa kota Yogyakarta adalah “magnet” bagi masyarakat Kudus khususnya para pelajar untuk mewujudkan  cita cita melanjutkan sekolah.   Yogyakarta mempunyai banyak perguruan tinggi yang bagus kualitasnya, dengan berbagai displin ilmu yang  beragam, hal ini memungkinkan para pelajar dapat memilih spektrum bidang ilmu yang luas sesuai bakat, kemampuan dan cita-cita. Puluhan kampus yang tersebar di seluruh Yogyakarta, baik kampus besar seperti Universitas Gadjah Mada, maupun kampus-kampus lainnya menjadi tujuan para pelajar seluruh Indonesia dan juga pelajar dari  mancanegara untuk menimba ilmu .  Iklim kehidupan “belajar” yang mewarnai kehidupan masyarakat Yogyakarta setidak-tidaknya akan berpengaruh terhadap pola pikir seluruh warga pendatang yang bermukim di Yogyakarta,   khususnya keluarga besar KKY karena selaras dengan semangat  filsafat  Syeh Ja’far Shodiq kedua  yaitu Pinter Ngaji.  Namun demikian  gemerlap kota Yogyakarta sebagai ibukota propinsi dan sekaligus sebagai kota wisata dan budaya dengan masyarakat yang multikultural, dapat menjadi godaan tersendiri.  Falsafah kehidupan Gus Ji Gang,  diharapkan dapat menjadi prinsip  moral sebagai benteng untuk menahan gempuran  dari godaan  kehidupan negatif kota Yogyakarta dan juga sebagai kekuatan untuk membangun semangat yang akan mendorong warga KKY agar sukses merenda kehidupan untuk mencapai tujuan mulia  sesuai cita-cita, bermetamorfose menjadi  warga Kudus yang  berkualitas,  manusia dengan kepribadian yang   matang bermodalkan falsafah kehidupan mulia warisan Syeh Ja’far Shodiq dan telah  ditempa dengan berbagai pengalaman kehidupan kota Yogyakarta. Di masa depan keluarga besar KKY diharapkan dapat memberikan  sumbangan bagi pembangunan baik bagi wilayah Kudus maupun bagi Indonesia. 

Baca Juga  Mengenal Sosok Sunan Kudus dan Local Wisdom (Kearifan Lokal) Dakwahnya

Sejalan dengan arah  Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)  tahap  empat yang menekankan pada pembangunan di berbagai bidang dengan menekankan terbangunnya struktur perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan kompetetif yang didukung oleh SDM berkualitas dan berdaya saing,  Kabupaten Kudus sangat berpotensi untuk mendukung tercapainya  tujuan pembangunan tersebut tersebut.  Kabupaten Kudus merupakan salah satu daerah tingkat dua yang dinilai berhasil pembangunannya,   hal  ini ditunjukkan oleh salah satu indikator pembangunan  yaitu  laju Produk Domestik Regional Brutto (PDRB) pada tahun 2014 sebesar 45,99 Trilyun Rupiah yang mengalami kenaikan sebesar 11,64 % dari tahun sebelumnya (Kudus  Dalam Angka 2015, BPS) seperti ditunjukkan oleh Gambar 1.  Data ini menunjukkan  potensi kekuatan perekonomian Kabupaten Kudus,  yang mana sektor Industri merupakan penyumbang terbesar, dengan PDRB tahun  2014 atas dasar harga berlaku sebesar 61,3 % persen, diikuti oleh  lapangan usaha perdagangan, hotel  dan restoran sebesar  26,87% persen.   

(sumber: Kudus Dalam Angka 2015)

Gambar 1: PDRB Kabupaten Kudus (Juta Rp)

Sedangkan kontribusi dari lapangan usaha  pertanian  dan lapangan  usaha lainnya masih di bawah 10%, yakni sektor sektorpertanian  sebesar 2,66%, sektor jasa 2,95%,  sektor keuangan  sebesar 2,53%,  sektor  pengangkutan dan komunikasi 1,46%  persen (lihat Gambar  2). 

(sumber: Kudus Dalam Angka 2015)

Gambar 2 : Distribusi PDRB Kab Kudus

Pertumbuhan ekonomi yang baik,  adalah indikasi suksesnya  pemeratan pembangunan, peningkatan kesejahteraan penduduk Kabupaten  Kudus yang secara tidak langsung menjadi indikasi  adanya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia.  Kualitas SDM juga menjadi indikator suksesnya pembangunan sebuah wilayah, yang ditandai dengan peningkatan jumlah SDM berpendidikan.   Bila dibandingkan dengan  daerah sekitarnya ,   keberhasilan pembangunan yang dicerminkan dengan Index Pembangunan Sumberdaya Manusia  (IPM)  

Baca Juga  Kearifan Budaya Lokal di Kota Kretek

Tabel 1 : Index Pembangunan Sumberdaya Manusia (IPM)

menunjukkan bahwa Kudus berada pada peringkat 2 (kedua) , dan masih berada di atas rata-rata Index Pembangunan Sumber Daya Manusia wilayah propinsi Jawa Tengah (lihat Tabel 1).

Peluang masih terbuka lebar bagi keluarga Besar KKY untuk  ikut berpartisipasi dalam membangun Kudus. Berdasarkan data PDRB , sektor Industri menjadi penyumbang terbesar dalam pembangunan, artinya sektor ini menjadi tulang punggung perekonomian Kudus. Industri adalah hilir dari salah satu buah pemikiran hasil falsafah Ji atau Pinter Ngaji, menelaah ilmu pengetahuan dan teknologi , melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan  untuk menghasilkan “sesuatu”  yang bisa dijual sebagai perwujudan falsafah ketiga yaitu Gang atau Pinter Dagang.  Kudus mempunyai potensi Industri yang cukup besar , baik industri besar, sedang dan kecil. Menurut statistik dalam Buku Kudus Dalam Angka 2015, terdapat kecenderungan peningkatan jumlah unit usaha industri, contoh pada tahun 2014  terdapat kenaikan jumlah industri dan nilai produksi  sebesar 1(satu) persen. Bila dilihat dari jenisnya,   industri rokok atau tembakau masih mendominasi dengan jumlah sebesar 32,5 % dari total industri yang ada,  hal  ini menunjukkan  bahwa ikatan sejarah Kudus sebagai kota kretek di masa lampau masih belum pudar. PT Djarum Kudus , lahir sebagai perusahaan rokok 3 (tiga)  terbesar di Indonesia yang melanjutkan legenda eksistensi Kudus sebagai kota kretek  masa kini.  Meskipun demikian jenis industri lainnya tidak dapat disepelekan, misalnya diwakili oleh PT Pura Barutama Group   dalam bidang teknologi percetakan dan  disain grafis mampu menciptakan produk-produk berkelas dunia yang mendapat penghargaan internasional  dalam bidang teknologi hologram . PT Polytron, industry elektronik berskala nasional mampu bersaing dengan merek merek internasional lain dalam pasar produk produk elektronik . Tak ketinggalan juga prestasi industri menengah dalam bidang pengolahan makanan,  misalnya PT Mubarookfood yang berhasil menembus pasar internasional diantaranya  Dubai, Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand, Hongkong, Arab Saudi, Jepang dan beberapa negara lain dengan produk olahan makanan tradisional khas Kudus.

Contoh contoh Industri di atas adalah  industri yang mampu bertahan dalam persaingan pasar yang ketat dan keras   karena adanya era globalisasi yang mana para pesaing tidak hanya dari Indonesia akan tetapi datang dari seluruh dunia. Agar Industri Kudus mampu bersaing  tentu saja harus mempunyai  kekuatan daya saing,  tidak cukup hanya mengandalkan apa yang sudah ada dan apa yang sudah berjalan seperti yang sudah dilakukan (bussiness as usual)  Oleh karena itu, dibutuhkan “Pinter Ngaji” untuk menemukan inovasi inovasi baru baik dalam produk maupun proses.  Konsep inovasi menurut Felix Jansen (The Age of Innovation, 2000) secara garis besar mengatakan bahwa inovasi adalah perubahan terhadap  3 (tiga) hal dalam industri yaitu produk, proses atau organisasi agar produk-produknya  dapat dikomersialkan/dijual.  Dalam konsep penelitian dan pengembangan (litbang) , inovasi biasanya didahului oleh proses litbang atau dengan kata lain inovasi adalah hilir dari sebuah proses litbang dengan usaha-usaha untuk memastikan  agar produk litbang  tersebut dapat dimanfaatkan oleh industri, masyarakat   atau pengguna secara komersial.  Sebagai contoh, dalam industri transportasi  kita tidak menyangka akan lahir inovasi dalam proses pemesanan ojek secara On Line yang dipelopori oleh Nabiel L Makarim dengan “Go Jek” nya. Inovasi bergulir terus menerus dan saling susul menyusul dengan  lahirnya karya-karya baru yang tidak terduga.   Secara sistemik (Tatang A. Taufik, Sistem Inovasi 2000) untuk mewujudkan inovasi dipersyaratkan tiga unsur  yang harus berjalan secara  sinergi yang dikenal sebagai ABG , yaitu :

  1. Akademisi (A), yang disumbangkan oleh Sumberdaya manusia yang mempunyai kemampuan olah pikir   untuk menemukan hal-hal baru dalam bidang-bidang terkait.   
  2. Bussiness (B), sebagai penerima manfaat  temuan hasil olah pikir, penerima ini dapat berupa industri, pengusaha yang bergerak dalam kegiatan ekonomi
  3. Govenment (G), Pemerintah yang berperan sebagai mediator yang bila dibutuhkan dapat  menghubungkan antara A dengan B  dengan membuat kebijakan, regulasi dan menciptakan iklim industry yang  kondusif  menguntungkan semua pihak
Baca Juga  Arabe Digarap Jowone Digowo, Barate Diruwat

Pemerintah Daerah Kabupaten Kudus saat ini telah berusaha memajukan daerah Kudus dan sekitarnya dengan memanfaatkan teknologi sebagai daya ungkit perekonomian daerah. Salah satu contoh adalah pemanfaatan teknologi informasi untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi  jalannya pemerintahan dan pembangunan dengan merintis usaha pembangunan Gerakan  Desa Cerdas yaitu penerapan teknologi Informasi  pada Organisasi Perangkat Daerah untuk pelayanan publik.   Diharapkan dimasa yang akan datang usaha-usaha pemanfaatan teknologi di  berbagai bidang dan sektor sektor pembangunan akan terus berjalan, meskipun pemerintahan telah silih  berganti.

Keluarga Besar KKY  yang lahir dari budaya Gus Ji Gang warisan Syeh Ja’far Shodiq dan terdidik oleh perguruan tinggi berkualitas  di Yogyakarta, diharapkan dapat menyumbangkan pemikiran, tenaga dan kesempatan  melalui tiga unsur  sistem inovasi tersebut atau minimal dapat memulai memberikan kontribusi dengan berperan sebagai akademisi untuk bekerjasama dengan industri-industri yang sudah ada di Kudus guna meningkatkan pembangunan ekonomi melalui karya karya inovasi.  Kapan lagi ? terakhir, mengutip salah satu hadis Rosulullah,  Muhammad SAW yang mengatakan bahwa “ Sebaik-baik Manusia  Adalah Manusia  Yang Bermanfaat Bagi Orang Lain”

Jakarta, Februari 2018

DAFTAR PUSTAKA

  1. Badan Pusat Statistik , Kabupaten Kudus” Kudus Dalam Angka 2015,
  2. Taufik Tatang, “Sistem Inovasi”, Badan Pengkajian dan Penderapan Teknologi, 2000
  3. Jansen , Felix “ The Age of Innovation” 2000
  4. www.kompasiana.com “Gusjigang Sebuah Ajaran Sunan Kudus yang Mendalam” 2016

Pe: Noor Asfa Fuad

Alumni Teknik Elektro Universitas Gajah Mada (1981). Sekarang bekerja di BPPT, Jakarta.

Email: noorasfafuad@gmail.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed