Pada kisaran tahun 2030-2045 kelak, Indonesia diperkirakan akan mendapatkan bonus demografi. Sebab, jumlah penduduk usia produktif mencapai 70% dari total keseluruhan penduduk Indonesia (Al-Mahfud, 2017).
Termasuk Kudus sebagai salah satu kota di Indonesia juga akan memiliki potensi sama dalam bonus demografi. Grafik berikut menunjukkan jumlah usia produktif di Kota Kudus pada tahun 2015.

Sumber: SIPD Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil
Jelas bahwa penduduk dengan usia produktif (15-64) sangat cukup tinggi di kabupaten Kudus. Belum lagi setiap tahun ada kelahiran baru, dalam kurun waktu sejak tahun 2015 sampai sekarang bahkan bisa lebih. Dan, di masa depan, jumlah usia produktif tentu akan menjadi semakin banyak. Mengingat, anak-anak juga akan tumbuh menjadi remaja dan menjadi dewasa.
Dalam konteks ini, bonus demografi bisa menjadi momentum yang berpeluang besar dimanfaatkan guna membangun dan memajukan negara menuju Indonesia Emas. Sebaliknya, bonus demografi juga bisa membawa masalah bagi bangsa Indonesia ketika penduduk usia produktif yang melimpah tersebut tak dibekali Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul. Alih-alih menjadi tumpuan membangun Kudus, limpahan penduduk usia produktif justru akan menjadi beban bagi kota Kudus. Tentunya, kita tidak mengharapkan hal tersebut terjadi. Maka, penting bagi kita untuk mempersiapkan generasi yang akan mengisi bonus demografi. Di sinilah, pendidikan bertugas menjawabnya.
Untuk itu, hal pertama yang perlu kita perhatikan adalah seperti apa karakteristik generasi yang akan mengisi bonus demografi tersebut? Jika diperhatikan, penduduk yang berusia produktif (15-64) pada kisaran tahun 2030-2045 adalah mereka yang lahir di pasca tahun 1970-an. Jika dikerucutkan lagi, yang termasuk dalam kategori usia emas di mana mereka mulai memasuki dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan, yakni berusia antara 23-30 tahun, berarti muncul generasi yang lahir pada kisaran tahun 2000-an. Generasi tersebut adalah mereka yang saat ini berusia antara 13-20 tahun. Dengan kata lain, mereka adalah para remaja yang sedang menempuh jenjang pendidikan baik SD, SMP, SMA, maupun Perguruan Tinggi.
Berdasarkan teori generasi Karl Mannheim (1923), para ahli sosiolog membagi manusia menjadi beberapa generasi; Generasi Era Depresi, Generasi Perang Dunia II, Generasi Pasca-Perang Dunia II, Generasi Baby Boomer I, Generasi Baby Boomer II, Generasi X, Generasi Y (Milenial), dan Generasi Z. Istilah Generasi Z, menjadi semakin populer setelah digunakan saat presentasi oleh agen pemasaran Spark and Honey pada 2014, dan menyebutkan bahwa Generasi Z adalah mereka yang lahir antara tahun 1995 sampai 2014 (tirto.id, 28/4/2017). Jika merujuk pendapat ini, generasi yang akan mengisi bonus demografi masuk golongan Generasi Z.
Perlu dipahami, karakteristik kuat Generasi Z adalah kefasihannya dalam menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Oleh sebab generasi Z lincah menggunakan teknologi canggih, maka mereka hidup dengan limpahan informasi (pengetahuan). Mereka juga mudah mengambil dan menyebarkan informasi tersebut, sehingga rentan terbangun pola pikir instan. Padahal, kegiatan bernalar dan berargumentasi yang menjadi pondasi terbangunnya kecerdasan. Namun, justru cenderung terpinggirkan di era informasi sekarang ini. Alhasil, kemampuan bernalar kritis dan memecahkan masalah menjadi minim. Anak sekadar bisa menghafal materi tanpa memiliki kecakapan literer yang butuh penalaran yang mencakup: kegiatan mencerna, menganalisis, dan menyampaikan kembali dengan baik. Inilah di antara tantangan yang perlu dijadikan fokus pendidikan saat ini.
Lebih lanjut, berdasarkan Laporan Bank Dunia tentang hasil tes membaca murid kelas IV SD, Indonesia menduduki peringkat terendah di antara negara-negara Asia. Hasil tes menyebutkan, siswa Indonesia hanya mampu memahami 36% dari materi bacaan, mereka kesulitan menjawab soal-soal uraian yang butuh penalaran dan analisis (Aan Hasanah, 2015).
Metode Pembelajaran
Generasi Z penuh pengetahuan, namun berisiko lemah dalam kecakapan berpikir. Mereka cenderung tahu banyak hal, namun sulit menjelaskan dengan baik apa yang mereka ketahui. Oleh karena itu, perlu adanya revolusi metode pembelajaran yang harus kita lakukan. Pertama, kurangi metode ceramah. Hal ini karena mereka sudah bosan dengan gaya ini. Menurut Felder dan Soloman (1993): “Pembelajar di zaman informasi ini mempunyai kecenderungan gaya belajar aktif, sequential, sensing, dan visual.“
Kedua, fokus pada pembelajaran seumur hidup, bukan untuk ujian. Ini karena hal terpenting bukan hanya tentang apa yang mereka ketahui ketika mereka lulus, tapi juga untuk mencintai pembelajaran seumur hidup (Arifin, 2015). Para guru tidak perlu khawatir siswanya lupa tanggal peristiwa penting dalam sejarah, karena mereka dapat mencari informasi itu kapan saja dengan melalui buku maupun web. Para guru perlu mengajari mereka cara belajar, gemar membaca dan menulis, bukan hanya cara mengetahui.
Ketiga, berdayakan para siswa untuk berkolaborasi. Kerja sama dan kolaborasi ini penting untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan. Berdasarkan pengalaman Uri Treisman, seorang profesor matematika di Universitas California-Berkeley, ia menemukan bahwa banyak mahasiswa kulit hitam yang awal mula nilai kalkulus-nya sangat jelek, lalu ketika konsep pembelajaran disusun agar semuanya bisa saling bekerja sama, prestasi para mahasiswa kulit hitam dapat meningkat pesat.
Keempat, fokus pada pembelajaran konsep kesahihan, daripada konsep transfer pengetahuan. Mengenai ini, Iwan Pranoto, dalam tulisannya berjudul Menyelisik Kesahihan (Kompas, 6/12/2016), memberi gambaran menarik tentang pendidikan yang perlu mulai menggeser fokusnya dari konsep mentransfer pengetahuan atau kebenaran, menjadi berkonsep kesahihan. Kesahihan, tulis Iwan, adalah tentang nilai pada struktur pernyataan, berfokus pada kepaduan rangkaian argumen dalam menurunkan simpulan akhir. Inilah hal yang perlu diasah lewat pendekatan yang dilakukan guru saat berinteraksi dengan pemikiran muridnya.
Inilah sekadar gambaran konsep sekaligus metode pembelajaran dalam praktik pendidikan kecakapan berpikir yang dibutuhkan generasi Z dalam menyongsong bonus demografi di era mendatang. Kecakapan berpikir dan bernalar yang telah diasah sejak dalam pembelajaran inilah yang akan membuat murid mampu mengolah setiap informasi (pengetahuan) yang didapat. Kecakapan bernalar juga akan membuat murid memiliki kecakapan berkomunikasi, yang selanjutnya bermuara pada kecakapan sosial-yang sangat dibutuhkan dalam berinteraksi di era global sekarang.Pun, juga menjadi modal penting untuk membangun masa depan Indonesia yang maju dan mandiri.
Merajut Masa Depan
Dalam merajut masa depan, sangat diperlukan kecakapan berpikir. Generasi yang tak punya kecakapan berpikir tidak akan punya kesempatan untuk turut membangun masa depan kota Kudus menjadi lebih baik. Maka itu, mempersiapkan generasi yang memiliki kecakapan berpikir matang merupakan hal pertama yang harus dilakukan. Sebab, di tangan mereka masa depan kota Kudus diletakkan. Di tangan mereka, masa depan kota Kudus dipertaruhkan.
Kita pahami bahwa sejak tahun 2015, keran berlakunya masyarakat ekonomi ASEAN telah dibuka. Artinya, sejak saat itu persaingan ekonomi bukan hanya lingkup suatu Kabupaten/Kota ataupun negara. Tapi, satu wilayah benua, Asia Tenggara. Tentu saja, hal itu menjadi tantangan tersendiri. Apalagi berdasarkan ASEAN Mutual Recognition Arrangement (MRA), telah diputuskan ada 8 profesi yang akan dibuka kerja sama lingkup ASEAN, yaitu: 1) Insinyur; 2) Arsitek; 3) Tenaga pariwisata; 4) Akuntan; 5) Dokter gigi; 6) Tenaga survei; 7) Praktisi medis; dan 8) Perawat.
Tentunya, bagi generasi yang memiliki kecakapan berpikir yang bagus, hal itu tidak menjadi masalah. Dia bisa memutuskan hal-hal yang tepat dan bermanfaat. Bisa jadi dia memilih menjadi seorang ahli dalam suatu profesi. Bisa jadi pula ia memilih jalur wirausaha. Tetapi, bagi generasi tanpa kecakapan berpikir yang bagus, dia akan merasa kebingungan. Mau kemana dia harus melangkah. Dan apa yang harus dilakukan dalam menghadapi tantangan kehidupan yang kian kompleks.
Mengenai ini, sebagai masyarakat Kudus, kita harus benar-benar menerapkan filosofi “Gusjigang” dalam sendi-sendi kehidupan. Filosofi ini dicetuskan oleh Sunan Kudus sebagai tokoh terkemuka Kudus kala itu. GusJiGang sendiri bermakna bocah baGus budi pekerti, pinter ngaJi, dan pinter daGang. Apabila ketiga hal ini dipegang secara sungguh-sungguh, jaminan sukses kehidupan pasti berada di tangan setiap masyarakat Kudus. Kita benar-benar akan menatap masa depan Kudus dengan capaian gemilang.
Pertama, bagus budi pekerti. Jelas bahwa budi pekerti bagus akan menjamin kesuksesan seseorang. Saya akan sedikit memberikan contoh. Di Jogja, ada salah satu penerbitan yang cukup terkenal dan ternama. Suatu hari karena kesalahan teknis, MoU yang diberikan kepada penulis mengalami kesalahan. Lalu, si penulis tanpa ada komunikasi penyelesaian masalah dengan membangun jembatan komunikasi antara kedua belah pihak, justru memberikan umpatan lewat media sosial. Tentu saja, sang pemilik lewat akun media sosialnya memberikan keterangan bahwa mau sebagus apa pun tulisannya, kerja sama kedua belah pihak tidak akan pernah terjadi lagi. Tentu sebagai penulis berbakat yang pernah beberapa kali karya sastranya dimuat di media massa dan menang beberapa kompetisi. Hal tersebut akan sangat merugikan. Karena, bisa jadi bukan hanya di-lacklist oleh satu penerbit, apabila ternyata ada ikatan kuat antara satu penerbit dengan penerbit lain, karir sebagai penulis sudah dipastikan akan habis di situ disebabkan tidak ada penerbit yang mau menerbitkan karyanya. Semua itu disebabkan cara komunikasi yang kurang berbudi. Inilah pentingnya menerapkan bagus budi pekerti dalam setiap aspek kehidupan kita.
Kedua, pinter ngaji. Jelas bahwa pinter ngaji mengindikasikan masyarakat Kudus harus menjadi generasi cerdas. Generasi yang senantiasa mau belajar. Generasi yang punya cita-cita menempuh jenjang pendidikan setinggi-tingginya. Generasi yang memiliki kecakapan berpikir yang tinggi. Maka itu, semangat belajar dan menempuh jenjang pendidikan setinggi-tingginya harus digelorakan. Di sisi lain, perbaikan kualitas pendidikan di lingkungan masyarakat Kudus juga harus senantiasa dilakukan.
Ketiga, pinter dagang. Jelas bahwa pinter dagang menunjukkan bahwa masyarakat kudus harus pandai berwirausaha. Tidak ada kemapanan sosial dan ekonomi yang diraih tanpa jalur wirausaha. Ini dibuktikan, semua orang terkaya di dunia Lagipula, kita juga tidak akan memiliki kematangan sosial tanpa kemapanan ekonomi. Dan, kemapanan ekonomi hanya bisa diraih melalui jalur-jalur wirausaha. Maka itu, warga Kudus harus mempunyai mental seorang wirausahawan. Harus berani jatuh bangun demi melangkah menuju pintu-pintu kesuksesan. Tidak ada kesuksesan yang ditempuh instan. Pola pikir ini yang seharusnya dimiliki oleh setiap warga Kudus. Dia siap jatuh bangun dan bersaing dalam hal apa pun dengan tetap mengedepankan budi pekerti (andap asor).
Inilah cara-cara yang bisa ditempuh oleh generasi Z sebagai generasi yang akan memenuh-sesaki Kudus untuk dapat benar-benar memajukan kota Kudus. Sebagai calon generasi masa depan, di era kini ia harus rajin belajar. Rajin mengasah kemampuan berpikirnya. Lewat kegiatan positif seperti rajin membaca, ikut organisasi, atau kegiatan sosial lainnya. Dengan itu, generasi Z sebagai generasi masa depan akan benar-benar dapat dipercayai untuk meneruskan estafeta keberlanjutan pembangunan kota Kudus.
Akhirnya, untuk generasi Z, penulis berpesan, “Di tangan kalianlah masa depan Kota Kudus dipertaruhkan. Maka, kalian jangan sampai mengecewakan!”. Wallahu a’lam bish-shawaab.
Penulis : Mohammad Sholihul Wafi
Alumnus UIN Sunan Kalijaga, Warga Undaan, Kudus
Email: alwafy_31@yahoo.co.id











Comment