Nur Said
Bagi kebanyakan orang di Indonesia, kata Gusjigang mungkin terdengar asing dan aneh. Namun tidak demikian bagi masyarakat Kudus dan sekitarnya. Gusjigang yang merupakan singkatan dari baGus , ngaJi dan daGang merupakan etos kepribadian muslim yang mengedepankan keutamaan ( bagus ) akhlak, kedalaman keilmuan ( ngaji ), dan jiwa kemandirian ( dagang ).
Secara kultural, ada kesinambungan budaya antara etos Gusjigang yang kini populer di Kudus dengan spirit dakwah dari Sunan Kudus. Yang jelas etos Gusjigang sudah hidup sebagai mode of reality dalam sebagian besar masyarakat santri di Kudus.
Untuk melacak etos Gusjigang ini tidak bisa lepas dari proses sejarah berdirinya Kadipaten Kudus yang dipelopori oleh Sunan Kudus sejak sekitar lima abad yang lalu (956 H./1.549 M.). Citra Sunan Kudus dalam sosiologis masyarakat Kudus menjadi model figur yang turut mengkonstruksi identitas masyarakat Kudus.
Diantara sejumlah citra Sunan Kudus yang menonjol adalah dikenal sebagai waliyyul ‘ilmi dan sekaligus wali saudagar. Kebesaran Sunan Kudus sebagai waliyyul ‘ilmi meruapakan penanda bahwa dirinya sebagai guru akbar dan pecinta ilmu. Diantara ilmu yang ditekuni adalah ilmu ushul, ilmu hadis, ilmu tauhid, fiqh, mantiq, dan juga ilmu tasawuf. Dikenal juga sebagai ahli arsitektur, ilmu pertukangan, seni tembang dan pewayangan.
Sementara citra Sunan Kudus sebagai wali saudagar didukung dengan jejak sejarah Sunan Kudus jaringan global terutama dengan semenanjung Arab (aljaziratul ‘arabiyah) dalam mengemban misi dakwah dan sekaligus perdagangan. Bahkan dengan Palestina memililiki hubungan khusus sehingga kota ini yang dulunya bernama Tajug sekarang dikenal dengan Kota Kudus karena adanya hubungan sosio-spiritual dengan Al-Quds di Palestina. Maka, sesungguhnya kota Kudus ini, sejak zaman kewalian sudah menjadi “kota internasional” baik dalam jejaring dagang maupun dakwah.
Dua predikat Sunan Kudus sebagai waliyyul ‘ilmi (ngaji) dan wali saudagar tersebut dalam semiotika dapat dilihat sebagai sistem tanda untuk merepresentasikan citra diri Sunan Kudus. Hal ini mencerminkan sebuah pesan bahwa Sunan Kudus memiliki kedalaman keilmuan yang tinggi (guru besar) dan sekaligus memiliki etos kerja dan kemandirian ekonomi (dagang). Kedalaman dua karakter sebagai ahli ilmu dan dagang inilah yang menunjukkan kepribadian baik yang dikenal bagus akhlaknya. Untuk memudahkan, orang Kudus lebih suka menyebutnya secara singkat sebagai etos Gusjigang.
Kalau kemudian etos Gusjigang semakin populer dalam masyarakat Kudus hingga sekarang, hal ini sebagai konsekwensi kesadaran paradigmatik (paradigmatic counsciesness) spirit Gusjigang Sunan Kudus yang mengendap dalam stok tanda budaya yang saling menguatkan dalam masyarakat Kudus. Dengan perspektif inilah genealogi Gusjigang bisa dipahami asal-usul dan kesinambungannya hingga sekarang.
Kendatipun demikian yang terpenting sekarang bukan sekedar romantisme sejarah, namun bagaimana 3 (tiga) core values etos Gusjigang yang meliputi spiritualitas (baGus), intelektualitas (ngaJi) dan enterpreneurship (daGang) secara terpadu menjiwai identitas budaya bangsa, kini dan nanti.
Untuk itu upaya kontekstualisasi tiada henti menjadi penting dilakukan, agar etos Gusjigang semakin hidup nyata dalam lintas generasi bangsa. Untuk kepentingan semua itulah antara lain ruang maya “PAWESTREN.ID, Portal Wasathiyyatul Islam, Transformasi Gender & Disabilitas ” ini digagas di tengah semangat revolusi mental yang digalakkan oleh Pemerintah. Semoga mendapat ridla-Nya. Wallahu a’lam (NS).








Comment