by

Indahnya Kehidupan Mahasantri di bulan Ramadhan

Oleh: Manunal Ahna

Manunal Ahna
Mahasantri Pesantren Literasi Prisma Qur’anuna Kudus

Kehidupan mahasantri di bulan Ramadhan bisa di bilang “double mode on” Pagi kuliah, malam Ngaji. Menjadi mahasantri tentu tidak mudah di jalani kebanyakan orang, tetapi jika kita punya niat, tujuan yang tetap, semua yang awalnya berat akan terasa lebih ringan. Mahasantri adalah mahasiswa yang tinggal dipesantren. Jadi dialam kehidupan mahasantri mereka bukan hanya sekedar mikir tugas kuliah, tapi juga harus disiplin mengikuti kegiatan baik ngaji kitab maupun sholat berjamaah yang sudah terjadwal. Di bulan ramdhan, kegiatannya semakin padat, tapi justru disitulah serunya.

Kegiatan pada umumnya di lakukan pada jam 03.00 sudah bangun sahur bersama-sama dan dilanjut sholat tahajud. Sambil menunggu adzan subuh biasanya diisi dengan membaca alqur’an sesuai target masing-masing mahasantri yaitu “one day one juz” baru setelah itu berjamaah dan ngaji kitab Yi Khoironi dengan kitab ayyuhal walad. Mungkin jeda sebentar rebahan sambil nungguin antrian mandi,setelah itu, mereka siap-siap berangkat kuliah. Dikelas mereka tetap harus aktif, diskusi, presentasi, dan memahami materi, semua itu harus kita jalani di hari itu juga. Capek? Pasti, tapi disitulah justru mental kita dilatih biar ga gampang ngeluh dan bersyukur apa yang kita alami sekarang.

Siang hari menjadi momen paling manantang bagi mahasantri dan disitulah letak bagaimana mereka berjuamg dalam mencari ilmu di tengah rasa lapar dan dahaga pada bulan ramadhan, belum lagi tambah dengan rasa kantuk melanda diri, mulai sahur sampai siang di tengah aktivitas padat sebagai mahasantri. Tetapi mahasiswa sudah terbiasa hidup terjadwal, jadi mau tidak mau harus pintar bagi waktu. Dengan santainya mereka menjalani aktivitas yang begitu padat dengan menikmati bertapa indahnya menjadi mahasantri. Dibulan ramadhan mengajarkan waktu itu mahal dan energi itu harus dipakai buat hal yang benar-benar penting.

Baca Juga  Di Balik Hidangan Iftar: Cerita tentang Berbagi, Silaturahmi, dan Keberkahan

Bukan sampai disini saja, menjelang sore suasana pesantren berubah menjadi hangat, para mahasiswa pada kembali kepondok untuk melanjutkan aktivitas di pesantren. Ini yang berbeda dengan mahasiswa lain, mungkin mereka diisi dengan rebahan, atau jalan-jalan kelur untuk merefresh otak setelah padatnya kuliah. Tetepi bukan untuk mahasantri, mereka mengisi ngabuburit dengan menkaji kitab watsiyatul musthofa baru dilanjut mencari takjil dan menu buka puasa. Moment buka puasa bareng terasa senderhana tapi penuh makna. Tidak harus mewah, justru dari kesederhanaan itu muncul rasa syukur dan kebersamaan yang kuat.

Malam hari belum selesai. Setelah buka puasa dilanjut dengan jamaah sholat maghrib dan tadarus Al-Qur’an sambil menunggu adzan isya. Setelah itu tarawih dan mengaji Al-Qur’an. Waktu isya bukan hanya diisi dengan ibadah saja tetapi disertai dengan kultum sebelum melaksanakan sholat witir. Dengan diadakkan kegiatan kultum sebelum witir dapat menjadikan motivasi buat santri dalam melakukan ibadah puasa, jadi ibadah juga dapat, ilmu juga dapat.

Ramadhan buat mahasantri itu kayak semacam momen reset diri. Reset niat, reset semangat, reset mindset. Mereka belajar bahwa sukses dalam hal akademik itu penting, tetapi karakter dan spiritualitas juga tidak kalah penting. Jadi bukan Cuma IPK yang tinggi tetapi juga kulitas diri. Kehidupan mahasantri dibulan ramadhan itu tentang proses jadi lebih dewasa. Belajar kuat, belajar sabar, belajar konsisten. Mungkin ga semua orang bisa sanggup menjalankan aktivitas sepadat itu, tetapi berkat niat dan tujuan mereka dapat sadar kemana arah tujuan hidupnya.

Intinya, kehidupan mahasantri di bulan ramdhan bukan tentang sibuknya jadwal atau kurangnya istirahat. Tetapi ini tentang perjalanan pembentukan karakter, tentang bagaimana seseorang bisa tetap mengejar mimpi akademiknya tanpa kehilangan arah spiritulnya. Dan dimulai dari proses itulah lahir pribadi yang lebih matang, lebih sadar tujuan, dan lebih kuat menghadapi kehidupan setelah ramadhan selesai.

Baca Juga  PrismaQu dan Jamaah Nur Madina Satukan Langkah, Perkuat Dakwah Kolaboratif di Bawah Spirit Al Mawaddah

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed