Kudus, Sabtu (28/2/2026) — Komitmen membentuk generasi unggul dan adaptif terhadap perubahan zaman kembali ditegaskan oleh Pesantren Prisma Quranuna (PrismaQu) melalui kegiatan bimbingan konseling yang digelar di Aula Prisma Quranuna pukul 09.25 WIB sebagai bagian dari rangkaian program Prismaguna (Program Intensif Santri Mahasiswa Siap Guna) khas Ramadan. Seluruh mahasantri mengikuti kegiatan ini dengan antusias di bawah bimbingan Bunda Hj. Farida Ulyani, M.Pd., pengasuh pesantren sekaligus dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Kudus.
Kegiatan ini tidak hanya membahas pengembangan karakter personal, tetapi juga menekankan kesiapan menghadapi tantangan dunia digital di era Internet of Everything (IoE), di mana manusia, data, perangkat, dan sistem saling terhubung secara masif.
Menjadi Versi Terbaik di Tengah Disrupsi Digital
Dalam arahannya, Bunda Farida menegaskan bahwa menjadi versi terbaik bukanlah kompetisi sosial, melainkan proses pertumbuhan diri yang berkelanjutan.
“Jangan sibuk membandingkan diri dengan orang lain, apalagi dengan apa yang terlihat di media sosial. Setiap orang memiliki timeline dan takdir prosesnya masing-masing. Bercerminlah dengan cermin sendiri.”
Beliau mengingatkan bahwa di era digital, standar kesuksesan sering kali terdistorsi oleh citra dan pencitraan. Karena itu, mahasantri perlu memiliki fondasi mental yang kuat agar tidak terjebak dalam budaya perbandingan semu yang justru melemahkan potensi diri.
Manajemen Diri sebagai Kunci Ketahanan Digital
Menurut Bunda Farida, kesiapan menghadapi era Internet of Everything tidak cukup hanya dengan literasi teknologi, tetapi harus diawali dengan manajemen diri yang matang. Ia memaparkan tiga pilar utama:
- Self-Awareness (Kesadaran Diri): Mahasantri harus mampu mengenali kekuatan dan batasannya, termasuk dalam penggunaan teknologi. Kesadaran diri mencegah kecanduan digital serta membantu pengelolaan waktu secara produktif.
- Manajemen Stres dan Emosi: Arus informasi yang deras dapat memicu tekanan mental. Kemampuan menyaring informasi, mengelola emosi, dan menjaga kesehatan psikologis menjadi kompetensi penting di era digital.
- Goal Setting (Penetapan Tujuan: Teknologi harus menjadi alat untuk mencapai visi hidup, bukan justru mengendalikan arah hidup. Dengan tujuan yang jelas, mahasantri dapat memanfaatkan platform digital untuk pengembangan akademik, dakwah, literasi, dan kepemimpinan.
Di era digital ini, tantangan terbesar bukan pada teknologinya, tetapi pada kemampuan kita mengendalikan diri. Jika diri kita kuat, teknologi akan menjadi alat kebaikan. Jika tidak, kita akan mudah terseret arus.
Pesantren Progresif dan Futuristik
Melalui pendekatan ini, Pesantren Prisma Quranuna menunjukkan wajah pesantren yang progresif: mengintegrasikan spiritualitas, psikologi, dan literasi digital. Pesantren tidak lagi dipahami sebagai ruang yang terpisah dari perkembangan teknologi, tetapi sebagai pusat pembentukan karakter yang siap menghadapi kompleksitas dunia terkoneksi.
Di tengah era Internet of Everything, mahasantri didorong untuk menjadi insan yang adaptif, reflektif, dan visioner – mampu memimpin diri sendiri sebelum memimpin ruang publik digital.
Menjadi versi terbaik, sebagaimana ditekankan dalam sesi tersebut, adalah tentang melampaui diri kemarin, mengelola pikiran hari ini, dan merancang masa depan dengan sadar. Dengan manajemen diri yang kokoh, mahasantri tidak hanya siap menghadapi dunia digital, tetapi juga siap mewarnainya dengan nilai-nilai Islam yang ramah, cerdas, dan berdaya saing global (Aini).











Comment