by

Megengan Cara Orang Jawa Sambut Ramadan

-Ramadan-116 views

Oleh: Nur Said

Nur Said
Sekretaris PCNU Kudus. Dosen Filsafat UIN Sunan Kudus. Pendiri Pesantren Literasi/ Yayasan Prisma Quranuna Indonesia (YAPQI), Maheswara Utama BPIP.

Bulan Suci Ramadan 1447 H sudah di depan mata.  Sejak bulan Rajab doa yang sangat popuer adalah permohonan: “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban ini, dan sampaikanlah umur kami bertemu Ramadan”.

Doa ini memberikan isyarat betapa bermaknanya kita menangi Ramadan, bulan seribu bulan itu. Maka dalam tradiri Islam pesisir terutama di kampung-kampung orang-orang dulu di Jawa terutama di Pantui Utara Jawa Tengah mempersiapkan diri dengan tradisi Megengan di bulan Sya’ban sebagai wujud rasa senang menyongsong bulan suci Ramadan.

Tradisi Megengan sebagai modal sosial yang mampu merekatkan masyarakat dalam bingkai menyamput bulan suci agar manusia bisa megang (mengisinya) dengan berbagai amalan kebajikan, maka perlu dipahami, dilestarikan dan dikembangkan oleh generasi berikutnya.

Megengan dalam bahasa Jawa dari kata “megeng” (Jawa: mbatek atau menahan/mengendalikan). Pada bulan Sya’ban, adalah detik-detik akan hadirnya bulan yang sangat mulia, suci dan penuh berkah yaitu Ramadan. Maka sejak pertengahan kedua bulan Sya’ban, umat Islam harus menyiapkan diri untuk kembali sadar bahwa manusia adalah makhluk spiritual. Maka semua urusan yang bersifat materi secara bertahap dikurangi untuk kemudian bertransformasi diri memasuki dimensi spiritualtas dalam arti luas.

Orang Jawa menyebut bulan Sya’ban adalah Ruwah (arwah) sedangkan bulan Ramadan disebut poso. Hal ini memberikan penyadaran kepada kita bahwa poso itu perupakan bagian dari jalan penegasan pentingnya menemukenali dimensi arwah (spiritual) dalam kedirian manusia, Maka dalam tradisi Megengan yang diselenggarakan pada bulan Sya’ban, sejumlah keluarga secara bergantian, setiap hari mulai 15 Ruwah  mempersembahkan sedekah semampunya dengan membawa makanan ke langgar atau masjid selepas magrib untuk dimakan bersama jamaah. Sebelumnya diawali dengan hadrah kirim bacaan Surat Al Fatihah, tahlil dan doa bersama yang ditujukan kepada ahli kubur shahibul hajah yang mempersembahkan sedekah tadi bersama jamaah langgar atau masjid setempat. Sabagain umat Islam menyelenggarakan sendiri di rumahnya masing-masing dengan mengundang tetangga sebelah. Hal ini adalah sebagai modal kultural dan sekaligus modal spiritual dalam membangun kerukunan dalam masyarakat sebagai aktualisasi dari Islam yang ramah, Islam rukun,  anti teror, sebagaimana dawuh Nabi Shallallahu’alaihissalam: Afsyussalam wa athímuththoám (tebarkan kedamaian, berikan makanan).

Baca Juga  Wujudkan Kepedulian Sesama, Pesantren Prisma Quranuna Gelar Aksi Berbagi Takjil dan Buka Bersama

Tradisi Megengan tampaknya sederhana dan biasa, tapi pesan penting yang perlu diketengahkan di sini adalah bahwa orang-orang kampung begitu antusias menyambut kehadiran Ramadan, dan mereka siap-siap menyambut bulan spiritual tersebut dengan selalu mengingat jasa-jasa para leluhur dengan mengirimkan doa dan sedekah semampunya. Mengorbankan materi berupa sedekah makanan demi meraih derajat spiritual dengan harapan bulan berikutnya bisa megang (ngumani) kesempatan mengisi berbagai kegiatan kebajikan di bulan Ramadan.

Kearifan nilai-nilai kampung begitu tinggi bahkan masih dibawa meskipun sebagian mereka ada yang kerja di luar kota atau bahkan luar negeri sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Seperti terlihat dalam suatu kesempatan penulis di suatu bandara sempat bertemu puluhan TKI dari Malaysia berbondong-bondong pulang kampung menjelang Ramadan. Ketika penulis tanya mengapa pulang mas-mas dan mbak-mbak?  Mereka menjawab dengan penuh kerinduan, tak lain demi silaturrahim keluarga dan untuk ziarah kepada orang tua/leluhur, dan sekaligus demi kemuliaan Ramadan. Sungguh terharu mendengarnya.

Maka ketika sudah memasuki bulan Ramadan, saatnya ON-kan  kesadaran batin kita untuk melejitkan energi positif dalam memasuki ruang-ruang kehidupan di manapun kita berada. Sungguh terlalu sayang, kalau Ramadan hanya terlena dan terjebak urusan mengejar materi dan meninggalkan ranah spiritual sebagai esensi kemanusiaan, sehingga bulan suci ini berlalu begitu saja. Dahulukan spiritual di atas material. Semoga Ramadan ini menjadi tangga spiritual kita, sehingga Ramdhan penuh makna dalam meningkatkan kesalehan diri baik kesalehan individual maupun sosial.  Semoga mendapat ridla dariNya. Aamiin. Wallahu a’lam. ***

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed