by

Menjemput Ramadan dengan Cahaya Tradisi: Catatan Santri dari Menara Kudus

Oleh: Ilma Naurotul Hudha

Ilma Naurotul Hudha
Mahasantri Pesantren Literasi Prisma Quranuna Kudus / Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kudus

Ramadan selalu punya caranya sendiri untuk mengetuk hati. Kadang ia hadir lewat sunyi yang mengajak kita menunduk, kadang melalui riuh yang membuat kita tersenyum menyambutnya. Di Kudus, dua suasana itu bertemu dalam satu rangkaian pengalaman yang dijalani para santri Pondok Pesantren Prisma Quranuna: Obor Ma’rifat (Orientasi Budaya Santri dan Masa taáruf Santi), ziarah ke makam Sunan Kudus, dan menyelami tradisi Dandangan.

Selama dua hari, 16–17 Februari 2026, para santri baru penerima beasiswa KIP Kuliah bersama para pengurus pondok mengikuti agenda yang bukan hanya bersifat orientasi, tetapi juga perenungan. Obor Ma’rifat menjadi pintu awal bagi mereka untuk memahami dunia pesantren—sebuah dunia yang dibangun di atas nilai adab, disiplin, dan kebersamaan.

Di Aula Prisma tiga, suasana terasa hangat sekaligus serius. Para santri diperkenalkan pada tata tertib pondok, program kerja kepengurusan, serta arah visi pesantren ke depan. Mereka diajak memahami bahwa pesantren bukan sekadar tempat tinggal atau ruang belajar, melainkan ruang pembentukan karakter. Di sinilah etika ditempatkan lebih tinggi dari sekadar prestasi, dan adab menjadi fondasi sebelum ilmu.

Obor Ma’rifat bukan sekadar nama kegiatan. Ia adalah simbol. Obor melambangkan cahaya, sementara ma’rifat menunjuk pada kesadaran dan pengenalan yang lebih dalam. Santri tidak hanya dikenalkan pada aturan, tetapi juga diajak menyadari makna keberadaan mereka sebagai penuntut ilmu. Menjadi santri berarti siap dibentuk lahir batin agar kelak mampu memberi manfaat bagi masyarakat.

Malam harinya, perjalanan berlanjut ke kompleks Masjid Menara Kudus. Di sanalah makam Sunan Kudus berada, sosok wali yang jejak dakwahnya masih terasa hingga hari ini. Sebelum berangkat, para santri berkumpul untuk doa bersama, memohon kelancaran dan keberkahan perjalanan.

Baca Juga  Santri Gen-Z Antusias Ngaji Kitab Muqoddimah Al Qonun Al Asasi NU di UIN Sunan Kudus

Di pelataran makam, suasana berubah hening. Lantunan doa dan shalawat mengalun pelan. Para santri menundukkan kepala, merenungi perjalanan hidup, sekaligus mengenang perjuangan ulama yang menyebarkan Islam dengan pendekatan kultural. Dari Sunan Kudus, mereka belajar bahwa dakwah tidak harus keras dan konfrontatif. Ia bisa lembut, bijak, dan menyatu dengan tradisi masyarakat.

Ziarah ini juga menjadi pengingat akan kefanaan hidup. Bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an. Kesadaran itu bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menguatkan niat: belajar dengan sungguh-sungguh, berbuat baik selagi ada kesempatan, dan menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian.

Usai ziarah, rombongan santri menyatu dengan keramaian Dandangan. Tradisi yang telah berlangsung sejak abad ke-16 ini berakar dari metode dakwah Sunan Kudus dalam menyambut datangnya Ramadan. Dahulu, Dandangan menjadi momentum pengumuman awal puasa. Kini, ia berkembang menjadi pasar malam rakyat yang meriah di sekitar Masjid Menara Kudus.

Lampu-lampu berwarna-warni menghiasi jalanan. Pedagang menjajakan aneka jajanan khas. Anak-anak tertawa di wahana permainan. Suara tawar-menawar bercampur dengan gema azan dari masjid. Di sanalah agama, budaya, dan ekonomi bertemu dalam satu ruang yang hidup.

Bagi santri Prisma Quranuna, Dandangan bukan sekadar hiburan. Ia adalah laboratorium sosial. Mereka belajar bahwa Islam di Kudus tumbuh melalui dialog dengan budaya. Tradisi tidak dipandang sebagai ancaman, tetapi sebagai media untuk menanamkan nilai. Dari sini, santri memahami bahwa keberislaman yang kuat justru mampu merangkul kearifan lokal.

Keesokan harinya, Obor Ma’rifat dilanjutkan dengan penguatan visi dan misi pesantren serta ajakan menggali potensi diri. Santri didorong untuk mengenali bakat, membangun kepercayaan diri, dan memupuk semangat kepemimpinan. Mereka diingatkan bahwa menjadi santri berarti siap menjadi agen perubahan—di kampus, di masyarakat, dan di ruang-ruang sosial lainnya.

Baca Juga  Ketupat di Meja Lebaran: Jejak Tradisi Islam dalam Kuliner Jawa

Rangkaian kegiatan ini memperlihatkan wajah pesantren yang dinamis. Ia tidak terpisah dari masyarakat, tetapi hadir di tengah-tengahnya. Ia menjaga tradisi, sekaligus menyiapkan generasi masa depan. Dari aula hingga menara, dari doa yang khusyuk hingga pasar yang riuh, semuanya menjadi bagian dari proses pendidikan.

Menjemput Ramadan dengan cara seperti ini menghadirkan makna yang lebih dalam. Ramadan tidak hanya disambut dengan jadwal ibadah, tetapi juga dengan kesadaran sejarah dan kebersamaan sosial. Santri belajar bahwa spiritualitas tidak selalu identik dengan kesunyian; ia juga bisa hadir dalam kegembiraan kolektif yang sarat nilai.

Di Kota Kudus, cahaya itu terus menyala—cahaya ilmu, cahaya tradisi, dan cahaya keteladanan. Dan di tengah cahaya itu, para santri Prisma Quranuna sedang menapaki jalan panjang menjadi pribadi yang berilmu, beradab, dan membumi. Ramadan pun datang bukan sebagai tamu biasa, melainkan sebagai momentum untuk meneguhkan kembali arah perjalanan hidup.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed