by

Modal Kultural Muria Raya Untuk Perdamaian Global

Oleh: Nur Said

Nur Said
Sekretaris PCNU Kudus. Dosen Filsafat UIN Sunan Kudus. Pendiri Pesantren Literasi/ Yayasan Prisma Quranuna Indonesia (YAPQI), Maheswara Utama BPIP.

Setelah menjadi viral, isu hangat kawasan Muria Raya yang meliputi lima kabupaten: Kudus, Jepara, Pati, Rembang dan Blora atau sering dikenal Letter K. sebagai salah satu alternatif wilayah Pemekaran Propinsi di Jawa Tengah, kini Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kudus menggelar Tawajuhan Aswaja Ramadlan 1443 H. dengan tema: Modal Kultural Muria Raya Untuk Perdamaian Global. Tema ini diangkat juga sebagai wujud kerpihatinan semakin maraknya tindakan kekerasan, radikalisme dan ektremisme yang  mengatasnamakan agama yang justru dalam banyak hal bertentangan dengan nilai-nilai esensi dari pesan Islam itu sendiri. Sementara sudah dimaklumi bersama di Muria Raya telah diletakkan pondasi budaya Islam yang ramah penuh toleran atas peran Walisongo seperti Sunan Kudus dan Sunan Muria.

Sebagai pemantik topik diundang Prof. Dr. Abdurrahman Mas’ud, Ketua Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP) yang juga mantan Kepala Balai Litbang dan Dijlat Kemenag RI. Acara ini merupakan gerakan kolaborasi yang dimotori oleh  Lakpesdam NU Kudus dengan dukungan PCNU, SMA NU Al Ma’ruf, PC Ansor, PC Fatayat NU, ISNU, IPNU-IPPNU, Pergunu, JQHNU dan lembaga terkait Kudus setiap Jum’at malam selama Romadlan tahun ini.

Secara khusus kajian ini diharapkan mampu membangun kesadaran budaya di kawasan Muria Raya kepada generasi milenial sehingga para pengambil kebijakan mampu memanfaatkan kesadaran budaya ini secara cerdas untuk menyemaikan Islam rahmatan lil’alamin dari Kudus untuk perdamaian dunia.

Yang menarik Prof Dur memulai kajiannya dengan sebuah keprihatinan dengan mengingatkan adanya “Talqin Gus Dur” tahun 2005 yang sudah memprediksi bahwa ancaman radikalisme, ektremisme dan juga terorisme akan mewarnai kampung-kampung global Aswaja sehingga perlu mendapatkan perhatian serios bangsa ini. Ini sudah terbukti dimana ideologi trans-nasional sudah mulai masuk desa yang mengancam kerawanan sosial dan tumbuhnya disharmoni.

Menanggapi gejala ini menurut Prof Dur, kita perlu merevitalisasi modal kultural warisan kearifan lokal yang sudah disemaikan oleh para wali terutama di sekitar Muria Raya dengan tokoh kuncinya adalah Sunan Kudus, Sunan Muria dan Sunan Kalijaga. Tiga sunan paku bumi Muria Raya inilah yang telah menumbuhkan benih-benih Islam yang ramah, sejuk dan penuh toleran. Dari ketiga Sunan lalu tersebar murid-muridnya yang memperkokoh paku aswaja di Muria Raya seperti Ratu Kalinyamat hingga RA Kartini yang menyemaikan kiprah publik ruang perempuan hingga emansipasi wanita. Kalau Ratu Kalinyamat telah membawa kejayaan maritim di kawasan Jepara hingga mampu menyerang kolonial Protugis ke Malaka pada zamannya, maka RA Kartini menjadi telah membangkitkan pendidikan perempuan yang menginspirasi anak bangsa habis gelap terbitlah terang. Demikian juga Saridin atau dikenal sebagai Syaikh Jangkung juga telah mengajarkan pentingnya kearifan lingkungan dengan “sabda”nya setiap air ada ikannya. Bahkan Mbah Mutamakkin telah menempuh jalan sufi sebagai perlawanan menghadapi ketidakadilan. Di Rembang dengan kearifan lokal pesisir pantainya penuh pesona dengan sejumlah pesantren khas Sarang. Demikian juga Tiongkok kecil, Lasem sebagai potret kerukunan bangsa. Di Blora dengan etika lingkungan Samin yang lugu ramah dengan lingkungan dadi tani utuh (menjadi petani utuh) dan lahan jatinya mengajarkan pentingnya mengembangkan lahan agraris yang sejati.

Baca Juga  Sentuh Montel, Biar Seksi

Di Kudus warisan ajaran toleransi (tepo sliro) Sunan Kudus serta etos Gusjigang (Bagus, Ngaji dan Dagang) telah mempu memadukankan dimensi dakwah dan dagang itu saling kait kelindan. Mengingat pesan para Rama Yai, jihad dengan harta itu lebih dulu baru jihad dengan jiwa sebagai inspirasi dari pesan Al Qur’an: wajaahiduu biamwaalikum wa anfuskum fii sabiilillaah (QS. At Taubah: 41). Demikian juga Sunan Muria yang meninggalkan pesan ekoreligi, kearifan lingkungan dan juga pager mangkok sebagai pesan pentingnya kedermawanan sosial.

Beberapa pesan moral itu terekam dalam berbagai warisan budaya peninggalan para wali di sepanjang pesisir utara dan lereng Muria yang kemudian dikenal dengan Muria Raya. Hal ini bisa dilihat dari dari berbagai bukti foklor dan juga data historis dan arkeologis yang  terekam dalam bentuk masjid wali, punden dan juga banyu panguripan. Spirit Aswaja dengan ruh moderasi beragama ini masih hidup dalam masyakarat Muria Raya, bahkan dalam berbagai pertemuan hari besar Islam komunitas Aswaja begitu masif dalam ragam acara ritual dan karnaval, namun sayang sepi dalam media maya (Cyber media).

Media maya cenderung didominasi oleh kelompok garis keras. “Jangan sampai kita hanya menang di darat, tapi bonyok di media sosial”, begitu peringatan tegas Prof Dur kepada peserta tawajuhan melalui blended di SMA NU Al Ma’ruf Kudus Media Center. Mengapa hal ini terjadi? Ternyata kita cenderung masih menjadi silent majority (mayoritas yang diam) tak bersuara.  `Kita cenderung politeness (terlalu sopan) berlebihan sehingga nyaris tak bersuara, sementara di Barat cenderung Directness (blak-blakan, obyektifitas, bebas). Ada kontestasi ideologis yang kita tidak boleh hanya diam, begitu pesan Prof Dur.

Baca Juga  Meluruskan "Jejak Khilafah" di Nusantara Tak Ada Bukti di Arsip Turki

Maka ketika Politeness dan Directness ini menjadi dua kutup yang bersebaranagan, maka santri aswaja perlu mengambil jalan tengah. Kalau ditarik dalam relasi partisipasi hubungan antara tradisi aswaja dunia nyata dan dunia maya. Generasi Aswaja perlu berani bersuara melestarikan tradisi jalan terus, berkiprak jihad dalam kontra narasi di media masa perlu digas terus.

Acara Tawajuhan Aswaja dibuka langsung oleh Ketua PCNU Drs. H. Asyrofi Masyito, ini makin gayeng karena puluhan peserta juga ikut luring di studio dan memberikan tanggapan yang menukik juga. Misalnya Fajar Nugroho yang juga Pembina Lakpesdam NU Kudus mengingatkan pentingnya resolusi konflik dengan pendekatan tasawuf dengan mengandalkan spirit husnudhan atau oleh Saniman al-Kudusi dengan mengutip sesepuh Kudus dikenal dengan akroniom Sornodopes yang itu ngrasa asor, ino, bodho, apes (merasa rendah, hina, bodoh dan lemah). Namun semua ini perlu dengan formula yang pas, kalau berlebihan ini seperti dikhawatirkan oleh Prof Dur sebagai fenomena politeness yang berdampak warga Aswaja cenderung diam menghadapi berbagai tantangan ektremesme di dunia nyata maupun dunia maya sehingga jangan kaget kalau tiba-tiba generasi kita ada yang terpapar estremisme akibat terjajah oleh ideologi trnas-nasional melaui medsos.

Apalagi sebagai representasi generasi muda Hidayat Nur mewakili PC Ansor Kudus dan Arum Nugopho dari PC Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) juga merasakan kampung-kampung kita dalam bahaya. Apalagi seringkali diperparah dengan resido gerakan politik yang terkadang berdampak panjang melahirkan disharmoni dalam masyarakat pinggiran. Menghadapi hal ini Prof Dur menyarankan saatnya jihad damai. Elemen politik dan masyarakat sipil perlu berkolaborasi jihad damai dengan mendahulukan the power of love di atas the love of power. Menggali mata air cinta daripada dijajah oleh syahwat kekuasaan.

Forum tawajuhan Aswaja ini meskipun awal terjadi perbedaan sudut pandang namun akhirnya satu kesepahaman bahwa di bulan Ramadlan sebagai bulan turunnya Al Qur’an ini pada akhirnya yang terpenting adalah disamping tadarus, ngaji dan juga meningkatkan kedermawanan sosial yang tak kalah penting adalah menghidupkan spirit Al Qur’an terutama yang sering dikutip oleh Gus Dur terkait “ayat lita’arafu” bahwa dijadikannya manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar agar saling mengenal menuju jalan taqwa dalam bingkai bhinneka tunggal ika (QS. Al-Hujurat: 13).

Baca Juga  Burung Sebagai Bioindikator di Kawasan Perkotaan Kabupaten Kudus

Ayat ini telah menginspirasi penggerak etika global dunia misalnya Hans Kung yang berpesan: Dunia tidak akan damai tanpa hubungan damai antar umat beragama. Hubungan damai antar umat beragama tidak akan tercipta tanpa dialog antar umat beragama. Dialog dalam bahasa Al Qur’an sering dihubungkan dengan lita’aarafu (saling kenal mengenal).

Masihkan kita diam dan tetap menjadi mayoritas diam? Ketua PCNU Kudus, Drs H Asyrofi Masyito secara tegas tak bosan mengingatkan dalam sambutan pembukaan dan juga kesempatan lain bahwa saatnya kita bergandengan tangan bergerak memberikan ruh lembaga di bawah PCNU maupun lembaga banomnya dengan memawarkan program terobosan yang terukur dan berdampak sosial untuk khoira ummah. Gedung terpadu NU Center yang sedang dibangun oleh PCNU Kudus dalam menyambut satu abad NU ini, salah satunya adalah mewadahi berbagai gerakan Aswaja di berbagai bidang ini membutuhkan ide-ide kreatif dari kader.

Ibarat sistem komputer, NU Center adalah sebagai hardwarenya dan modal kultural Muria Raya adalah sebagai softwarenya, perlu berjalan seiring akan tidak pincang dan tidak tercerabut dari akarnya.  Maka, Acara Tawajuhan Aswaja yang berkelanjutan ini diharapkan menjadi free market of ideas (pasar bebas gagasan aswaja) aspek sosial, budaya, politik, ekonomi maupun spiritual agar reproduksi mode beragama yang damai di Muria Raya ini mendunia sebagaimana dilakukan oleh Prof Dur melalui gagasan The Smiling Islam untuk semesta.

Selama Ramadhan ini menurut Dr H Kisbiyanto sekretaris PCNU, Tawajuhan Aswaja akan digelar selama tiga atau empat kali. Yang sudah terjadwal Jum’at depan adalah songsong Hari Kartini dengan dengan tema Women Leadership bersama Ning Hj. Hindun Anisah, Stafsus Kemenaker RI, kemudian Juamt terakhir Ramadhan bertsama Gus Ulil Abshar Abdullah, Ketua Lakpesdam PBNU, akan mengulas Arah baru pengakaderan Aswaja. Acara Tawajuhan Aswaja PCNU ini diharapkan disamping menjadi ruang klangenan antar kader Aswaja juga bisa menjadi penyejuk ilmiah di saat sedang haus keharmonisan hidup dalam berbangsa dan bernegara.***

Nur Said
Ketua Lakpesdam NU Kudus; Peneliti Cultural Studies IAIN Kudus;
Pegiat Pesantren Riset Prisma Quranuna Kudus

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed