Prisma – Cahaya obor itu bukan sekadar simbol. Ia adalah nyala kesadaran, suluh ma’rifat, dan peneguhan arah perjuangan santri. Pondok Pesantren Prisma Quranuna Kudus menggelar rangkaian kegiatan Obor Ma’rifat, ziarah ke makam Sunan Kudus, serta mengikuti tradisi Dandangan sebagai bagian dari penyambutan bulan suci Ramadan.
Selama dua hari, 16–17 Februari 2026, para santri-baik penerima beasiswa KIP Kuliah maupun santri lama yang menjadi pengurus-menjalani orientasi spiritual dan kultural yang sarat makna. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Pengasuh Pondok, Abah Dr. H. Nur Said, S.Ag., M.A., M.Ag., didampingi Hj. Farida Ulyani, M.Pd.
Obor Ma’rifat digelar di Aula Prisma tiga pada Senin pagi. Sesi awal diisi dengan penguatan tata tertib dan dinamika kepesantrenan oleh Musyrifah, Mba Devi Luailik Hanina Khulda, S.Pd. Dilanjutkan pemaparan program kerja oleh jajaran pengurus, serta refleksi “Etika dan Etos Santri Unggul” oleh Hj. Farida Ulyani, M.Pd., yang menekankan pentingnya adab sebagai fondasi keilmuan.
“Santri itu bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial,” pesan beliau di hadapan para peserta.
Malam harinya, rombongan santri bergerak menuju kompleks Masjid Menara Kudus untuk berziarah ke makam Sunan Kudus. Sebelum berangkat, doa bersama dipanjatkan sebagai ikhtiar batin dan bentuk tawakal. Ziarah ini bukan sekadar tradisi, melainkan ikhtiar menghubungkan sanad spiritual-menghadirkan kembali jejak dakwah kultural sang wali yang menyebarkan Islam dengan kearifan lokal.
Dalam suasana khusyuk, para santri diajak merenungi pesan Al-Qur’an bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan kematian (QS. Ali Imran: 185). Ziarah menjadi momentum tazakkur—mengingat kematian agar hidup lebih bermakna, belajar lebih sungguh, dan berkhidmah lebih tulus.
Dari makam wali, langkah santri berlanjut ke kawasan Dandangan. Tradisi yang telah hidup sejak abad ke-16 ini berakar dari metode dakwah Sunan Kudus dalam menyambut Ramadan. Kini, Dandangan menjelma menjadi pasar malam rakyat yang meriah di sekitar Masjid Menara Kudus-ruang temu antara agama, budaya, dan denyut ekonomi masyarakat.
Bagi para santri, menghadiri Dandangan bukan sekadar menikmati gemerlap lampu dan hiruk-pikuk pasar. Mereka belajar membaca budaya sebagai teks dakwah. Di tengah keramaian, nilai-nilai Islam tetap menjadi napas utama: menyambut Ramadan dengan gembira, mempererat silaturahim, serta menguatkan solidaritas sosial.
Keesokan harinya, Obor Ma’rifat dilanjutkan dengan dua sesi utama oleh Abah Nur Said. Sesi pertama mengupas visi, misi, dan program strategis Pondok Pesantren Prisma Quranuna. Sesi kedua bertajuk “Gali Potensi Diri Santri Juara,” mengajak santri mengenali bakat, merawat integritas, dan membangun kepemimpinan berbasis nilai.
Dalam perspektif jurnalisme profetik, kegiatan ini bukan hanya peristiwa seremonial, tetapi praksis kenabian dalam pendidikan. Ada dimensi humanisasi (memanusiakan santri melalui adab dan kebersamaan), liberasi (membebaskan dari kebodohan dan krisis moral), serta transendensi (menghubungkan ilmu dengan Allah Swt.).
Obor Ma’rifat menjadi metafora perjalanan santri: dari pengenalan menuju kesadaran, dari tradisi menuju transformasi. Ziarah mengajarkan kerendahan hati di hadapan sejarah, sementara Dandangan menegaskan bahwa Islam hadir tidak untuk meniadakan budaya, melainkan merangkul dan memuliakannya.
Di Kota Wali, cahaya itu terus menyala. Dari aula pesantren hingga pelataran menara, dari doa yang lirih hingga gemuruh pasar rakyat, santri Prisma Quranuna meneguhkan langkah: menyambut Ramadan dengan ilmu, adab, dan cinta tradisi.*(Ilma).











Comment