by

Paradigma Pendidikan KH. Hasyim Asy’ari Dalam Tantangan Internet Of Everything (Refleksi Houl ke-111 Penggerak dan Pendiri NU 7 Ramadan 1447 H.)

Oleh: Drs. Saniman Al Kudusi

Drs. Saniman Al Kudusi
Pengurus Lakpesdam NU Kudus dan Praktisi Pendidikan di MA NU Banat Kudus

KH. Hasyim Asy’ari, (W. 7 Ramadan, 1366 H) muassis Nahdlatul Ulama (NU), menyampaikan pemikiran pendidikan Islam yang komprehensif dalam karyanya berbahasa Arab Adabul Alim wal Muta’allim (أداب العالم والمتعلم : Etika Pengajar dan Pelajar), yang diselesaikan pada 22 Jumadas Sani, 1343 H/ 18 Januari 1925 (setelah saya konversikan). Kitab ini yang terbagi menjadi 8 bab ini mengkaji etika, strategi, dan gaya pembelajaran berbasis nilai-nilai keislaman, dengan tujuan agar ilmu yang dipelajari bermanfaat dan penuh berkah.
**

Tujuan Pendidikan: Pembentukan Akhlak dan Adab

Secara paradigmatik, konsep pendidikan KH. Hasyim Asy’ari berorientasi pada pembentukan karakter yang mulia, dengan mengutamakan akhlak dan adab sebagai inti proses pendidikan. Beliau menekankan bahwa pendidikan tidak hanya sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga membentuk pribadi yang bertakwa, memiliki integritas, dan mampu mengaplikasikan ilmu untuk kesejahteraan diri dan masyarakat. Nilai-nilai etis yang ditegaskan meliputi niat yang murni, perilaku qana’ah (puas dengan apa yang dimiliki), wara’ (jaga diri dari hal-hal yang tidak baik), tawadhu’ (rendah hati), zuhud (tidak terpaku pada duniawi/ nyingkur kadonyan), sabar, serta menjauhi hal-hal kotor dan maksiat. Selain itu, pendidikan juga bertujuan untuk meraih ridho Allah dan menguatkan ketauhidan, dengan nuansa sufistik yang menekankan kedalaman spiritual dalam pembelajaran.

Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum

KH. Hasyim Asy’ari mengemukakan bahwa ilmu pengetahuan memiliki kesatuan yang tidak terpisahkan antara ilmu agama (syar’i) dan ilmu umum (ghoiru syar’i). Keduanya saling melengkapi dan harus diintegrasikan dalam proses pendidikan agar peserta didik memiliki pemahaman yang holistik tentang dunia. Beliau menegaskan bahwa ilmu yang diperoleh harus bermanfaat bagi kehidupan, baik dalam aspek spiritual maupun material, dan tidak boleh menyimpang dari prinsip-prinsip agama. Inilah yang kini disebut dengan pendidikan integral dalam Islam. Pendidikan yang mengembangkan aspek jiwa dan raga secara utuh

Baca Juga  Tadarusan: Budaya Membaca Al-Qur'an di Kampung Jawa

Etika dalam Hubungan Guru dan Murid

Relasi etis antara guru dan murid menjadi poros utama dalam konsep pendidikan beliau.
1. Etika bagi Murid: Murid diwajibkan untuk bersikap tawadhu’, menghormati guru, dan memiliki kesabaran dalam belajar. Selain itu, murid juga harus menjaga etika terhadap pelajaran dan kitab bacaan, seperti rajin membaca, menulis catatan materi baru, dan merawat buku dengan baik.

2. Etika bagi Guru: Guru diharapkan memiliki integritas pribadi, berperilaku sesuai sunnah, bersifat zuhud, dan memiliki semangat belajar yang tinggi. Dalam mengajar, guru harus serius, adil terhadap semua murid, dan menggunakan metode yang sesuai agar materi dapat dipahami dengan baik.

Relevansi dalam Pendidikan Modern

Konsep pendidikan KH. Hasyim Asy’ari dalam Adabul Alim wal Muta’allim memiliki relevansi yang tinggi dengan kebutuhan pendidikan di era modern. Nilai-nilai pendidikan karakter yang ditegaskan dapat menjadi dasar dalam membangun sistem pendidikan yang holistik dan berbasis nilai. Selain itu, integrasi ilmu agama dan ilmu umum yang beliau ajarkan juga sejalan dengan upaya pengembangan pendidikan nasional yang ingin menghasilkan generasi yang berpengetahuan luas dan berakhlak mulia. Bahkan, konsep ini telah berkontribusi pada pengakuan formal pesantren melalui kebijakan negara dan penguatan nilai kebangsaan dalam sistem pendidikan Indonesia.
**
Implementasi Konsep Pendidikan KH. Hasyim Asy’ari dalam Pesantren Modern

Konsep dari Adabul Alim wal Muta’allim bukan cuma jadi teori saja, tapi benar-benar hidup dan berkembang di lingkungan pesantren Indonesia saat ini, sbb:

1. Pembentukan Akhlak sebagai Prioritas Utama
a. Setiap hari, pesantren menyisipkan pembelajaran akhlak melalui kajian rutin seperti wirid, pengajian pagi, dan ceramah agama. Murid diajarkan untuk menghormati sesama, menjaga kebersihan lingkungan, dan berlaku santun kepada guru serta sesama temannya – sesuai dengan ajaran tentang pentingnya adab dalam pendidikan.

Baca Juga  Kedamaian Ramadan di Balik Tarawih dan Qiyamul Lail

b. Banyak pesantren juga menerapkan sistem muhaffizh (penghafal Al-Qur’an) yang tidak hanya fokus pada hafalan, tapi juga pada pemahaman/ tadabbur makna dan penerapan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.

2. Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum

a. Kini banyak pesantren yang memiliki program pendidikan formal (sekolah dasar hingga menengah kejuruan) yang menggabungkan mata pelajaran agama dengan ilmu umum seperti matematika, bahasa Inggris, IPA, dan IPS. Ini sesuai dengan konsep KH. Hasyim tentang kesatuan ilmu pengetahuan.

b. Beberapa pesantren bahkan membuka jurusan yang mengkombinasikan agama dengan keilmuan modern, seperti ekonomi syariah, teknologi informasi, dan kedokteran Islam – agar ilmu yang dipelajari benar-benar bermanfaat untuk kehidupan masyarakat.

3. Etika Hubungan Guru dan Murid yang Terjaga

a. Sikap tawadhu’ murid terhadap guru masih terjaga dengan baik. Murid biasanya akan memberikan salam yang sopan, berdiri ketika guru datang, dan menghormati pendapat guru – sesuai dengan etika yang diajarkan dalam buku tersebut.

b. Guru juga tidak hanya berperan sebagai pengajar, tapi juga sebagai pembimbing dan contoh teladan. Banyak guru pesantren yang tinggal bersama murid di lingkungan pesantren, sehingga bisa membimbing mereka secara menyeluruh mulai dari ibadah hingga masalah pribadi.

4. Penerapan Nilai Spiritual dalam Pembelajaran

Pembelajaran di pesantren tidak hanya berlangsung di kelas, tapi juga melalui aktivitas sehari-hari seperti shalat berjamaah, puasa sunnah, dan kerja bakti bersama. Ini menguatkan nilai sufistik yang ditegaskan KH. Hasyim tentang kedalaman spiritual dalam proses pendidikan.
Dengan demikian paradigma pendidikan KH. Hasyim sangat relevan dikembangkan di era internet of everything yang tengah menghadapi tantangan etis dan estetis di tengah generasi digital native.
**
Tulisan ini untuk memperingati haul KH. Hasyim Asy’ari, yang meninggal pada 7 Ramadan, 1366 H.
Lahu Alfatihah.

Baca Juga  Buka Puasa Bersama: Tradisi Filantropi dan Silaturahmi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed