Prisma – Dalam rangka penguatan pendidikan karakter berbasis nilai pesantren di era digital, Pesantren Literasi Prisma Quranuna (PrismaQu) di bawah Yayasan Prisma Quranuna Indonesia (YAPQI) secara resmi menggelar agenda peluncuran logo dan platform Gusjigang Leadership.com pada Sabtu, 21 Februari 2026/2 Ramadhan 1447 H, pukul 08.30 WIB, bertempat di Aula Prismaga. Kegiatan ini menjadi momentum strategis dalam mengintegrasikan nilai-nilai luhur pesantren dengan transformasi digital yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Agenda utama kegiatan meliputi peluncuran logo dan platform @Gusjigang Leadership serta pembahasan tema “Kecerdasan Algoritma untuk Santri Gen Z” sebagai respons atas tantangan era teknologi dan kecerdasan buatan. Diskusi menghadirkan narasumber kompeten, yaitu Dr. KH Nur Said MA., M.Ag. (Pengasuh PrismaQu), Ust. Jamal Taufiq, S.H.I. (Programmer), dan Ust. M. Dwi Wahyu Eristiyanto, A.Md. (Pustakawan/Media Solution). Ketiganya membahas pentingnya literasi algoritma dan penguasaan teknologi sebagai bagian dari penguatan karakter dan kompetensi santri masa kini.
Dalam sambutannya, Nur Said menegaskan bahwa transformasi digital tidak boleh memisahkan santri dari akar nilai spiritualitas.
“Santri Gen Z harus memiliki fondasi akhlak yang kokoh sekaligus literasi algoritmik agar mampu berperan aktif dalam ruang digital secara bijak dan produktif,” ujarnya.
Pada sesi pembukaan, beliau juga menjelaskan filosofi logo Gusjigang Leadership sebagai simbol gerakan yang memadukan kekuatan tradisi dan visi masa depan. Logo tersebut bukan sekadar identitas visual, melainkan representasi nilai dan arah gerakan.
“Logo ini adalah refleksi dari semangat Gusjigang-bagus akhlak, pintar ngaji, dan wasis dagang. Ia menggambarkan pesantren yang tetap berakar pada spiritualitas, namun mampu menjulang tinggi menghadapi tantangan zaman,” jelasnya.
Materi kecerdasan algoritma disampaikan oleh Ust. Jamal Taufiq, S.H.I. Ia menekankan bahwa algoritma bukanlah konsep yang lahir secara tiba-tiba di era modern, melainkan memiliki akar historis yang kuat dalam tradisi keilmuan Islam. Ia menjelaskan bahwa istilah algoritma berasal dari nama ilmuwan Muslim abad ke-9, yaitu Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi, pelopor dalam bidang matematika dan aljabar.
Menurutnya, kontribusi Al-Khwarizmi menjadi fondasi penting bagi perkembangan sistem perhitungan, logika matematis, hingga teknologi komputasi yang saat ini berkembang menjadi coding, pemrograman, dan kecerdasan buatan.
“Dulu saya juga santri yang bisa dibilang gaptek, mahasiswa yang tidak fokus pada algoritma karena saya kuliah di jurusan Hukum Syariah Islam. Namun saya belajar bahwa perkembangan teknologi tidak bisa dihindari. Ini menunjukkan bahwa tradisi intelektual Islam sejak dahulu telah meletakkan dasar bagi lahirnya teknologi modern. Maka santri hari ini tidak boleh merasa asing dengan dunia algoritma dan coding,” tegasnya.
Sementara itu, Ust. M. Dwi Wahyu Eristiyanto, A.Md., menyoroti urgensi mempelajari coding, programming, dan algoritma di era digital. Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi yang semakin pesat berpotensi menggantikan berbagai jenis pekerjaan manusia melalui sistem otomatisasi dan kecerdasan buatan. Oleh karena itu, pemahaman terhadap dasar-dasar teknologi menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari.
“Literasi digital tidak hanya bertujuan agar kita mampu bersaing, tetapi juga agar tidak mudah tertipu oleh perkembangan teknologi serta mampu beradaptasi dengan perubahan zaman,” jelasnya.
Ia juga mendorong generasi muda untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi menjadi pencipta dan pengembang inovasi di masa depan. Santri, menurutnya, harus mampu menggabungkan kekuatan nilai moral dengan kecakapan teknologis sehingga dapat berkontribusi dalam pembangunan peradaban digital yang beretika.
Peluncuran logo dan platform Gusjigang Leadership ini menjadi penegasan komitmen Pondok Pesantren Prisma dalam membangun ekosistem kepemimpinan santri yang berkarakter, adaptif, dan visioner. Dengan mengusung semangat Gusjigang, pesantren diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara spiritual dan intelektual, tetapi juga tangguh dalam menghadapi dinamika era algoritma dan kecerdasan buatan. (Zaki).











Comment