Ibnu Al-Jauzi sudah membongkar rahasia puasa 800 tahun lalu…dan sains baru mengakuinya hari ini.
Puasa bukan sekadar menahan lapar. la adalah teknologi pembersihan jiwa, akal, dan ruh. Sudahkah puasamu sampai ke ruh? (Mari kita muhasabah diri)
—-
Malam itu, di serambi zawiyah yang sunyi, murid perempuan itu duduk bersimpuh.Wajahnya rupawan, matanya basah oleh pencarian. Di hadapannya, sang guru sufi menatap dengan teduh, seolah menembus lapisan jiwa.
Murid:
“Guru…selama ini aku mengira puasa hanya memindahkan jam makan. Tapi mengapa hatiku tetap gaduh meski perutku kosong?
Guru:
“Wahai anak jiwa.. Ibnu Al-Jauzi telah membisikkan rahasia ini delapan abad lalu, bahwa Puasa bukan satu, tapi tiga. Dan siapa yang hanya mengambil satu, ia kehilangan dua lainnya.”
Murid itu terdiam. Angin malam menggoyang lentera.
Guru:
“Pertama, puasa jasad. Menahan makan, minum, dan syahwat. Saat jasad lapar, tubuhmu membersihkan dirinya. Sel-sel yang rusak dimakan kembali, diganti dengan yang baru.”
Ini yang hari ini mereka sebut autofagi.
Lapar adalah dzikir tubuh. la mengingatkanmu bahwa seteguk air adalah karunia yang dulu kau anggap biasa.”
Murid menunduk, merasakan perih lambung sebagai doa yang tak terucap.
Guru melanjutkan:
“Kedua, puasa akal. Menyelisihi hawa nafsu. Saat engkau menahan marah, menahan impuls, engkau sedang melatih pusat kebijaksanaan dalam otakmu. Prefrontal cortex melawan amigdala.
Puasa akal adalah jeda suci sebelum engkau bertindak. la memerdekakanmu dari tirani ego.”
Mata murid itu bergetar. la teringat kata-kata yang pernah melukai orang lain.
Guru:
“Ketiga, puasa ruh.”
(Suara sang guru menjadi lirih, seperti datang dari dunia lain.)
“Memendekkan angan-angan. Sebab kegelisahan terbesar manusia adalah kecemasan pada masa depan yang belum tentu ada. Fokuslah pada saat ini. Saat engkau hadir sepenuhnya, hormon stresmu turun, hatimu tenang.
Lanjutnya Dunia selalu berkata: belum cukup.
Puasa ruh berkata: cukup dengan Tuhan.”
Air mata murid itu jatuh tanpa suara.
Murid:
“Guru… jadi puasa adalah jalan pulang?”
Guru tersenyum:
“Ya. Jasad yang lapar akan sehat. Akal yang terkendali akan bijak. Ruh yang tenang akan bahagia”
Tanpa ketiganya, puasamu hanya haus dan lapar yang sia-sia.
Dengan ketiganya… puasa menjadi perjalanan kembali ke jati dirimu yang paling murni.”
Malam semakin sunyi. Dan di kesunyian itu, murid itu merasa untuk pertama kalinya dirinya benar-benar berpuasa.
—-
Wallahu a’lam bish shawab











Comment