by

Ramadan Akademik di PrismaQu: Dari Dhandangan, SURGA, hingga One Day One Artikel

Oleh: Alvisa Putri

Alvisa Putri
Musrifah Pesantren Literasi Prisma Quranua Kudus/ Mahasiswi Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kudus

Ramadan di Kudus selalu menghadirkan nuansa yang khas. Ia bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga musim kebudayaan dan pembelajaran. Di Pesantren Literasi Prisma Quranuna—yang akrab disebut PrismaQu—Ramadan dipersiapkan jauh sebelum hilal terlihat. Para santri diajak menata batin dan orientasi intelektual melalui rangkaian tradisi lokal yang membumi sekaligus mencerahkan: ziarah ke makam Sunan Kudus, mengikuti tradisi Dhandangan, hingga Obor Ma’rifat (Orientasi Budaya Pesantren dan Masa Ta’aruf Santri).

Ziarah ke Sunan Kudus bukan sekadar ritual tahunan. Ia menjadi pengingat bahwa Islam di Nusantara tumbuh melalui dialog budaya dan kearifan lokal. Menara Kudus yang ikonik mengajarkan bahwa dakwah dapat berjalan beriringan dengan penghormatan pada tradisi. Setelah itu, suasana Dhandangan—yang menandai datangnya Ramadan—menghadirkan denyut sosial masyarakat: pasar rakyat, perjumpaan lintas generasi, dan kegembiraan kolektif menyambut bulan suci. Santri PrismaQu tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pembelajar yang membaca fenomena sosial sebagai teks kebudayaan.

Rangkaian itu kemudian dilanjutkan dengan Obor Ma’rifat. Di sinilah nilai-nilai dasar pesantren diteguhkan: literasi sebagai jalan peradaban, disiplin sebagai fondasi karakter, dan spiritualitas sebagai ruh keilmuan. Obor Ma’rifat menjadi momen penyatuan visi bagi mahasantri baru di PrismaQu, bahwa Ramadan bukan bulan “libur akademik”, melainkan justru puncak intensifikasi belajar.

Memasuki Ramadan, ritme harian berubah menjadi lebih terstruktur. Sejak Subuh, santri mengikuti kajian kitab salaf serta pembelajaran formal bagi yang masih kuliah. Metode bandongan dan halaqah berjalan berdampingan. Kitab-kitab klasik dibaca dengan kesungguhan, sementara diskusi kontemporer mengaitkan teks dengan konteks. Waktu dari Asar hingga Magrib menjadi jeda reflektif: murojaah, ngaji ringan, kajian kitab bandongan, dan persiapan berbuka. Namun, selepas Isya suasana intelektual justru menguat. Salat tarawih dan tadarus Al-Qur’an berlangsung, diselingi kuliah tujuh menit (speak up) Islam ramah yang kadang terasa seperti forum akademik terbuka.

Baca Juga  Ketupat di Meja Lebaran: Jejak Tradisi Islam dalam Kuliner Jawa

Salah satu program khas Ramadan di PrismaQu adalah One Day One Artikel. Setiap santri ditantang menulis satu artikel setiap hari selama Ramadan. Tema tulisan tidak dilepas begitu saja. Sebelum program dimulai, santri mengikuti materi khusus bernama SURGA (Sorogan Gagasan). Dalam sesi ini, setiap santri “menyorogkan” atau mempresentasikan ide tulisannya di hadapan pembimbing dan teman-teman, baik secara langsung maupun daring (WA). Ide tersebut diuji: apakah relevan dengan semangat Ramadan, apakah memiliki sudut pandang segar, dan apakah memiliki rujukan yang memadai.

SURGA bukan sekadar forum teknis penentuan topik. Ia adalah latihan berpikir kritis. Santri belajar membedakan opini dan argumentasi, membangun kerangka tulisan, serta menemukan kebaruan dalam tema-tema klasik seperti puasa, zakat, atau Lailatul Qadar. Dari SURGA lahir beragam tulisan: refleksi tafsir sosial ayat-ayat shaum, kajian tradisi Dhandangan sebagai kearifan lokal, opini tentang filantropi Ramadan, hingga esai lingkungan hidup dalam perspektif etika Islam.

Setelah melalui SURGA, barulah One Day One Artikel dijalankan. Tantangan ini melatih konsistensi dan disiplin intelektual. Menulis setiap hari di tengah puasa bukanlah hal mudah. Namun, justru di situlah letak pendidikannya. Santri belajar mengelola waktu, menajamkan ide, dan menyederhanakan gagasan agar komunikatif. Tulisan-tulisan itu dipublikasikan di media internal maupun platform digital, menjadikan Ramadan sebagai musim produktivitas literasi.

Tentu ada tantangan. Puasa menghadirkan kelelahan fisik, terutama pada pekan-pekan awal. Kantuk selepas sahur kerap menguji fokus saat kajian kitab. Namun, kultur kolektif pesantren menjadi penyangga utama. Istirahat siang diatur, sahur dijaga gizinya, dan jadwal disusun dengan bijak. Teknologi juga dimanfaatkan—mulai dari aplikasi pencatat hafalan hingga platform berbagi tulisan melalui gusjigangleadership.com—untuk memastikan produktivitas tetap terjaga.

Baca Juga  Peran Perpustakaan dalam Menyemarakkan Budaya Literasi Ramadan

Yang paling terasa dari Ramadan di PrismaQu adalah suasana kebersamaan. Berbuka sederhana bersama, tadarus bergantian, diskusi hangat setelah tarawih, serta saling memberi umpan balik atas tulisan teman bila diperlukan. Ramadan membentuk ekosistem belajar yang kohesif. Di sini, ibadah dan intelektualitas tidak dipertentangkan, melainkan dipertemukan. Spiritualitas menjadi energi bagi produktivitas, sementara literasi menjadi ekspresi dari penghayatan iman.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa pesantren dapat menjadi laboratorium pendidikan integratif. Tradisi lokal seperti ziarah dan Dhandangan tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi menjadi pintu masuk memahami sejarah dan identitas. SURGA melatih keberanian berargumen. One Day One Artikel menumbuhkan disiplin menulis. Kajian kitab salaf menjaga kesinambungan tradisi keilmuan.

Ketika Ramadan berakhir, yang tersisa bukan hanya catatan hafalan atau kumpulan artikel, melainkan transformasi karakter. Santri pulang dengan disiplin yang terasah, daya pikir yang lebih sistematis, dan kepekaan sosial yang lebih kuat. Dari Dhandangan hingga SURGA, dari tadarus hingga One Day One Artikel, Ramadan di PrismaQu membuktikan bahwa bulan suci dapat menjadi momentum kebangkitan literasi dan penguatan peradaban.

Ramadan, pada akhirnya, bukan hanya bulan menahan lapar dan dahaga. Di PrismaQu, ia adalah musim membaca—membaca kitab, membaca realitas, dan membaca diri sendiri.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed