Kudus – Momentum Ramadan di lingkungan UIN Sunan Kudus semakin semarak dengan penguatan tradisi kajian kitab turats di Masjid dan mushollah kampus. Salah satu yang menjadi perhatian adalah kajian rutin Muqoddimah Al Qonun Al Asasi karya Syaikhina KH Hasyim Asy’ari rencana digelar setiap hari Senin pukul 07.30 WIB hingga selesai di Ramadan sejak Senin yang lalu, bersama Dr. KH. Nur Said, M.A., M.Ag., dosen UIN Sunan Kudus, yang juga Sekretaris PCNU Kudus dan Pengasuh Pesantren Literasi Prisma Quranuna (PrismaQu) Kudus.
Kajian ini diikuti oleh remaja masjid kampus, santri mahasiswa yang sebagian mondok di Ma’had Al-Jami’ah UIN Sunan Kudus, di PrismaQu, serta terbuka bagi mahasiswa-mahasiswi lintas fakultas yang kebetulan tidak ada jadwal kuliah. Antusiasme peserta menunjukkan tingginya minat generasi muda kampus dalam memperdalam literasi keislaman berbasis sanad keilmuan.
Kitab Muqoddimah Al Qonun Al Asasi sendiri merupakan fondasi ideologis berdirinya Nahdlatul Ulama (NU). Dalam kajian, peserta diajak memahami nilai-nilai dasar berorganisasi yang bersumber dari Al-Qur’an dan teladan Rasulullah Shallallahu álaihi wasallam, seperti prinsip tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (adil). Nilai-nilai ini dipandang relevan bagi mahasiswa dalam menghadapi dinamika sosial dan arus informasi digital yang kian kompleks.
Selain Muqoddimah Al Qonun Al Asasi, Masjid dan mushollah kampus UIN Sunan Kudus juga menjadi pusat kajian kitab-kitab klasik lainnya. Kitab At-Tibyan dikaji bersama Dr. K.H. Saiful Mujab, M.S.I.; Irsyadul ‘Ibad bersama Dr. K. Thoifuri, M.Ag.; Adabul Islam fi Nidhamil Usroh bersama Dr. K. Fauzan Adim, M.A.; serta Ayyuhal Walad bersama Dr. K. Cihwanul Kirom, Lc., M.E.I.
Sementara itu, kajian Fathul Qorib dan Al-Hikam dipandu oleh K. Nurul Fatah, S.H.I., M.A., yang memperkuat pemahaman fikih dasar sekaligus dimensi tasawuf dalam kehidupan mahasiswa.
Rangkaian kajian ini mencerminkan sinergi kuat antara budaya akademik kampus dan tradisi pesantren. Di satu sisi, mahasiswa ditempa dengan metodologi ilmiah di ruang kuliah; di sisi lain, mereka dibekali kedalaman spiritual dan adab melalui kajian kitab kuning di masjid kampus.
Ramadan menjadi momentum penguatan nilai tersebut. Selepas aktivitas akademik, mahasiswa memanfaatkan waktu untuk mengikuti kajian, berdiskusi, dan memperkaya wawasan keislaman. Masjid kampus pun tidak hanya berfungsi sebagai ruang ibadah, tetapi juga sebagai pusat literasi turats dan pembinaan karakter.
Melalui konsistensi kajian rutin sesuai jadwal yang dipelopori oleh Kelompok Remaja Masjid UIN Sunan Kudus, Forum Kajian Turats, Ta’mir masjid, Ma’had Al Jamiáh dan support langsung Rektorat, UIN Sunan Kudus berupaya melahirkan generasi mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kokoh dalam nilai keislaman dan kebangsaan berakar pada tradisi lokal, serta adaptif terhadap perkembangan zaman dalam menghadapi tantangan global. (Ainur).











Comment