by

Sentuh Montel, Biar Seksi

Bulan lolok, sariban balok

Balok sunat, sholla Allah ‘ala Muhammad

Bisa jadi anak zaman now Kudus tidak familier tembang atau nyanyian di atas. Dulu, ini sering didendangkan oleh para orang tua kepada anak-anak, terutama di kampung-kampung. Terdengar merdu. Akrab dinyanyikan ketika bulan purnama sembari bermain di halaman depan atau kadang sebagai pengantar tidur.

Muatannya tidak hanya sarat kearifal lokal. Tapi yang lebih dan paling penting adalah ada ruh dari rangkaian kata tersebut, menyimpan pesan pengenalan dan pada akhirnya mencintai Nabi Muhammad SAW, sejak dini. Ini salah satu yang saya dapat dan ingat dari Kudus hingga kini. Oleh-oleh berharga, dan ini saya tularkan kepada anak-anak saya meski lahir dan besar tidak di Kudus.

Kudus layak dirindukan. Tidak hanya bagi mereka yang lahir dan besar di Kota Kretek tersebut. Bagi para pelancong atau luar daerah, Kudus menjadi magnet tersendiri. Ada yang tertarik karena faktor pekerjaan, pendidikan, termasuk pesantren. Kudus juga punya sosial budaya, tradisi, kuliner, dan wisata. Bicara pekerjaan, Kudus yang ada dua makam wali dari sembilan wali atau Wali Songo itu, banyak menjadi tujuan untuk mencari nafkah. Pabrik-pabrik dan tempat usaha bertaburan. Tentunya ini membuka lapangan pekerjaan. Demikian juga pendidikan, khususnya pesantren, jumlahnya tak bisa dihitung dengan jari. Dari yang ada di kota hingga di pelosok desa.

Sosial budaya bisa dilihat Menara Kudus dan masjidnya. Juga filosofi Gusjigang dari Sunan Kudus; bocah bagus budi pekerti, pinter ngaji, juga pinter dagang. Demikian juga tradisi, ada dandangan; yang digelar di sekitar Menara Kudus. Dulu sekitar perempatan Jember hingga alun alun atau Simpang Tujuh, penuh sesak. Jalan berhimpit-himpitan, senggol-senggolan biasa, makin asoy. Ini yang—barangkali– disuka muda-mudi, he he he. Dandangan ini hampir sama dugderan di Semarang. Jelang 1 Ramadan, biasanya sepekan jelang puasa, kegiatan yang menjajakan dagangan, hiburan, dan permainan itu semakin ramai. Malam 1 Ramadan adalah puncaknya. Ketika Subuh hari pertama Ramadan, para pedagang dan mereka yang meramaikan dandangan berangsur surut dan mengemas barang-barangnya karena waktu telah usai. Rasanya bagi orang yang lahir di Kudus atau yang mengaku bangga Kudus, tidak lengkap jika belum pernah melihat dandangan.

Ada juga bodo kupat. Kalau di Jakarta, misalnya Lebaran hari pertama menu kupat sudah dihidangkan, beda di Kudus. Di kota yang membutuhkan waktu tempuh sekitar satu jam dari Semarang ke utara itu,–dan sejumlah daerah lain– kupat baru ditemukan di banyak rumah warga sepekan setelah bodo atau Idul Fitri. Warga setempat menyebut, bodo kupat. Isi kupat seperti lontong. Dibungkus daun kelapa yang dirajut khusus. Ada juga lepet. Selain di makan sendiri, warga membagikan kupat ini ke tetangga dan saudara.

Baca Juga  Memaknai Pergeseran Kudus Kota Santri, Menjadi Kota Industri

Pada saat bodo kupat, tempat tertentu ramai pengunjung. Dulu seperti Sendang Jodo, Panjang, dan Sumber Hadipolo, Jekulo, selalu ramai. Bahkan di Sumber Hadipolo, momentum bulusan diperingati warga setempat. Konon mereka ingin melihat bulus (kura-kura) yang merupakan jelmaan dua orang manusia. Bulusan diisi di antaranya bersih-bersih sendang, bancaan, dan hiburan seperti wayang dan dangdutan untuk sekarang, barangkali. Karena selalu ramai, ini digunakan warga setempat untuk menjajakan barang dagangannya kepada para pengunjung.

Tradisi bodo kupat dan bulusan merupakan kearifan lokal yang sarat makna. Tidak hanya makna sebagai pengingat nilai-nilai agama yang termuat di dalamnya, termasuk bodo selepas puasa sunat tujuh hari. Lebih dari itu, makna sosial dan penghargaan serta perawatan warisan leluhur begitu kental. Tak hanya itu, juga pemberdayaan dan penguatan ekonomi warga setempat.

Selain tradisi, Kudus juga terkenal dengan kuliner. Hmmmm. Rasanya, susah diungkapkan. Maknyus, dijamin bikin ketagihan. Pecinta kuliner mana yang tak pernah mencicipi, setidaknya mendengar, soto kudus? Beda dengan soto betawi atau daerah lainnya. Yang lebih khas, soto kudus tak hanya mempunyai varian ayam. Ada soto daging. Bedanya, jika di daerah lain dagingnya sapi, di Kudus dagingnya kerbau, ya soto kebo. Soto yang terakhir ini juga mempunyai cerita panjang dan tak lepas dari sejarah penyebaran Islam yang dilakukan Sunan Kudus. Singkat cerita, karena menghormati pemeluk Hindu yang mensakralkan sapi, Sunan Kudus meminta santrinya dan masyarakat muslim di Kudus menghormati pemeluk Hindu dengan cara tidak menyembelih sapi. Alhasil, termasuk para pengusaha, pedagang makanan, tidak menjajakan sapi. Melainkan diganti kerbau. Nah, makanya di Kudus terkenal dengan soto kebo. Jadi jangan berharap, mencari dan mendapatkan soto daging sapi ketika Anda ke Kudus. Ini dulu. Tapi saya yakin ini masih dipegang hingga sekarang.

Ada juga garang asem khas Kudus. Bagi mereka yang sudah pernah mencici makanan yang satu ini, dijamin ketagihan. Dibungkus daun pisang, isinya ayam,–kalau ayam kampung tambah dahsyat– ada juga jerohan. Dudoh, air atau kuahnya berasa pedes kombinasi asem. Makin oke jika rasa asem yang dipakai menggunakan blimbing wulu. Bahkan, sejumlah orang rela datang jauh-jauh, hanya untuk membeli garang asem tersebut. Garang asem ini memang tidak semudah menemukan warung atau rumah makan yang menjajakan soto kudus. Hanya di beberapa titik. Di antaranya di deretan seberang JHK Kudus. Mereka yang di perantuan seperti Jabodetabek dan beberapa kota besar di Indonesia, tak harus datang ke Kudus. Di sejumlah tempat, sudah ada dua kuliner khas Kudus tersebut. Hanya, kadang rasanya berbeda. Ya, lumayan untuk mengobati kangen kuliner ini. Di antara pedagang atau pengusaha kuliner tersebut putra asli Kudus atau keturunannya.

Baca Juga  Meneladani Sunan Muria Menuju Kudus Sebagai Kota Filantropi

Kudus juga terkenal dengan lentog. Meski di sejumlah tempat di Kudus belakangan ini bisa ditemukan pedagang lentog, di Tanjung yang paling terkenal. Ya, lentog tanjung. Isinya, tahu, lontong, dan sayur nangka bersantan. Rasanya khas. Ada juga jenang. Ya, jenang kudus, hampir sama—atau kalau di daerah lainnya orang menyebut dodol. Ini di antara oleh-oleh dari Kudus. Barangkali kurang afdol jika pergi ke Kudus, pulangnya tidak membawa jenang. Di antara tempatnya di jalan Sunan Muria, sekitar 2 hingga 3 kilo dari Simpang Tujuh arah utara. Belakangan, jenang Kudus juga sudah ekspansi, bisa dijumpai di luar Kudus, terutama di pusat oleh-oleh atau kuliner.

Sementara bicara objek wisata di Kudus, juga tak kalah menarik. Di antaranya, Menara Kudus, Museum Kretek, dan air terjun Montel. Di kawasan Gunung Muria, selain Montel ada juga makam Sunan Muria. Juga Makam Syekh Sadzali. Ada juga air tiga rasa. Kembali ke Montel. Montel merupakan salah satu tempat wisata di Gunung Muria atau Colo, Dawe, Kudus. Dari alun alun, sekitar 15 km arah utara. Untuk transportasi ke Gunung Muria yang juga ada makam Sunan Muria, salah satu Wali Songo, bisa dengan kendaraan pribadi atau umum. Ya, butuh sekitar 30 menit dari jantung kota memakai kendaraan pribadi. Sedangkan dari terminal Kudus, untuk transportasi umum, naik angkutan jurusan Dawe. Angkutan ini ada yang langsung sampai Muria. Ada yang sampai Pasar Dawe dilanjutkan naik angkutan lain ke arah Muria.

Sekali lagi, selain berziarah ke makan Sunan Muria, yang berada di puncak Gunung Muria, destinasi lain yang sayang dilewatkan adalah air terjun Montel. Terakhir saya ke Montel, beberapa hari setelah Lebaran 2017. Sebelum itu, mungkin belasan tahun tidak ke Montel. Apalagi, selepas menyelesaikan MA TBS Kudus, praktis tidak pernah lama di Kudus. Hanya pasca S1 di UIN Jogja, sempat tinggal di Kudus sekitar dua tahun, setelah itu waktu banyak dihabiskan menetap di luar Kudus. Dulu Montel masih alami, aksesnya tidak semudah yang saya rasakan pada 2017. Airnya berlimpah turun dari atas. Hanya, sekali lagi dulu masih sangat alami. Tidak terlihat pipa di sana sini. Batu-batuan besar di bawah, sekitar air terjun banyak ditemukan. Meski belum banyak tersentuh, aroma alami menjadi daya tarik. Ya, ketika itu belum banyak yang datang seperti belakangan ini.

Sesuatu berbeda terlihat, setidaknya ketika ke Montel 2017 bersama istri, Lia Kamelina dan dua putri cantik; Zahra Aliaya Ri’ya dan Zahira Nafis Maziyya. Untuk mencapai air terjun kalau dulu harus jalan kaki yang butuh setengah jam lebih dari kaki gunung, sekarang sudah ada banyak pengojek. Rp 10 ribu biaya ojek untuk sampai di loket, waktu tempuh tidak sampai 10 menit. Ada pengojek yang menurunkan penumpang di dekat loket, ada yang meneruskan hingga sekitar 300 meter dari air terjun. Setelah bayar tanda masuk di loket—dulu gratis–, pengunjung yang jalan kaki masih membutuhkan waktu sekitar 10 menit. Meski dekat, karena medan pegunungan, cukup membuat ngos-ngosan.  

Baca Juga  Menggagas Kudus Masa Depan: Spirit Kultural Kabupaten Kudus di Era Globalisasi

Sepanjang jalan yang dilalui, aroma asri, sejuk, dan khas pegunungan, perkebunan, dan hutan masih kental. Hanya pemandangan berbeda tampak. Karena jalan sempit dan setelah loket masih berupa jalan tanah setapak, pengunjung yang jalan kaki harus berhati-hati, karena tak jarang ada sepeda motor pengojek yang lalu lalang. Belum lagi kalau hujan tiba, ketika itu gerimis, jalan tanah pun licin. Gubuk-gubuk berdiri di pinggir jalan. Mereka menjajakan aneka makanan berat, ringan, dan khas setempat, serta minuman. Bahkan tak jauh dari air terjun, selemparan kerikil, ada gubuk yang menjajakan makanan dan minuman. Ada juga bangunan atau tempat untuk toilet dan kamar mandi umum. Ini bisa digunakan untuk ganti baju atau membilas badan setelah basah-basahan di bawah air terjun. Sejauh mata memandang, rasanya air terjun ini tak seindah dan senyaman dulu. Sesak, sempit. Sejumlah pipa kecil memanjang—ada yang menyebut untuk kebutuhan pengairan warga sekitar–di sekitar air terjun, juga membuat kesan tidak indah.

Penataan tempat wisata ini harus segera dilakukan tanpa mengubah aslinya. Jika tidak segera tertangani, tidak hanya keindahan Montel yang sirna, tapi pendapatan juga tidak akan mengahasilkan pundi-pundi rupiah ke kas daerah secara maksimal. Lebih dari itu, kenyamanan pengunjung memang tidak bisa ditawar. Ekpekstasi Montel itu indah, asri, sejuk, jangan sampai tinggal kenangan. Sentuhan dan perhatian lebih pihak terkait serta kepedulian semua pihak, termasuk masyarakat dan pengunjung untuk selalu menjaga merupakan sesuatu keniscayaan agar Montel tetap elok, menawan, dan seksi. Perumpaan perempuan, Montel jangan tua dini atau menuai sebelum waktunya. Jadikan selalu cantik, makin bohay, kinyis-kinyis, dan seksi, sehingga terus menjadi daya tarik yang tak lekang oleh waktu. Bukan untuk pemerintah setempat, Pemkab Kudus, dan bukan pula untuk kita, tapi demi anak dan cucu-cucu kita.

Penulis : M. Izzul Mutho Masyhadi*

Praktisi media, lahir di Kudus, tinggal di Tangerang Selatan. Kini aktif di Indopos Strategic Communication Studies Centre (ISCSC), Grup INDOPOS-Jawa Pos Network. Alumni IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Email: zulna2015@gmail.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed