Di Pesantren Literasi Prisma Quranuna (PrismaQu) Kudus, tadarus bukan sekadar rutinitas membaca Al-Qur’an. Ia adalah denyut harian yang menyatukan tradisi, literasi, dan refleksi intelektual. Di serambi yang sederhana namun hangat, selepas sholat Terawih atau sehabis ngaji subuh biasanya santri duduk melingkar. Mushaf terbuka, suara dilantunkan perlahan, lalu berhenti sejenak ketika ada huruf yang kurang tepat. Koreksi diberikan, bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk menyempurnakan.
Di sinilah Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi dipelajari dan dihidupi.
PrismaQu memiliki kekhasan yang jarang ditemukan di pesantren lain: kajian Al-Qur’an dikembangkan dalam lima dimensi sekaligus- Al-Qur’an sebagai tulisan, bacaan, tafsiran, kenyataan, dan ilmu pengetahuan. Lima dimensi ini menjadi fondasi epistemologis dalam setiap praktik tadarus.
Pertama, Al-Qur’an sebagai tulisan. Santri belajar bahwa mushaf adalah teks yang memiliki sejarah kodifikasi, struktur bahasa, dan keindahan grafis. Membaca berarti juga menghargai jejak literasi yang panjang.
Kedua, Al-Qur’an sebagai bacaan. Di sinilah tadarus menemukan bentuknya. Tajwid, makharijul huruf, dan adab membaca menjadi latihan ketekunan. Bacaan yang benar bukan sekadar teknis, tetapi cerminan kesungguhan batin.
Ketiga, Al-Qur’an sebagai tafsiran. Setiap ayat yang dibaca tidak berhenti pada bunyi. Ia ditautkan dengan makna, dengan diskusi, dengan pertanyaan-pertanyaan kontekstual yang hidup di tengah masyarakat.
Keempat, Al-Qur’an sebagai kenyataan. Santri diajak melihat bagaimana nilai-nilai wahyu menjelma dalam perilaku sosial: kejujuran, kepedulian, tanggung jawab ekologis, hingga kepemimpinan.
Kelima, Al-Qur’an sebagai ilmu pengetahuan. Ayat-ayat kauniyah tidak dipisahkan dari dinamika sains dan realitas modern. Membaca Al-Qur’an berarti juga membuka cakrawala berpikir.
Kerangka lima dimensi ini merupakan gagasan yang dikembangkan oleh pendiri PrismaQu, Abah Dr. KH. Nur Said, M.A., M.Ag. bersama Bunda Hj. Farida Ulyani, M.Pd. di bawah naungan Yayasan Prisma Quranuna Indonesia (PrismaQu). Keduanya juga merupakan dosen di UIN Sunan Kudus, sehingga atmosfer akademik dan pesantren berpadu secara alami di lingkungan PrismaQu.
Karena itu, tadarus di PrismaQu memiliki nuansa yang khas. Setelah satu ayat dilantunkan, di lain kesempatan muncul dialog kecil: bagaimana ayat ini dipahami dalam konteks sosial hari ini? Apa relevansinya dengan literasi digital? Bagaimana nilai ayat itu diterapkan dalam kepemimpinan yang berintegritas? Diskusi-diskusi ringan seperti ini membuat tadarus tidak berhenti sebagai ritual suara, tetapi berkembang menjadi proses intelektual yang membumi.
Memasuki bulan Ramadan, suasana itu semakin terasa intens. Prinsip one day one juz dijalankan dengan disiplin, namun tetap reflektif. Demikian juga One Day One Artikel juga diupayakan yang dipublikasikan di Platform gusjigangleadership.com khas PrismaQu. Target khatam bukan hanya soal jumlah halaman yang selesai dibaca, melainkan perjalanan batin yang disadari bersama. Ada rasa haru ketika juz terakhir dituntaskan; bukan karena kompetisi, tetapi karena kebersamaan yang terjalin selama tiga puluh hari.
Di tengah arus digital yang cepat dan sering dangkal, tadarus di PrismaQu menjadi ruang jeda yang bermakna. Ia menghadirkan ritme lambat, kedalaman tafsir, dan dialog antara teks suci dan realitas. Santri tidak hanya diajarkan membaca, tetapi juga memaknai dan merefleksikan.
Dengan demikian, tadarus di PrismaQu bukan sekadar tradisi yang dipertahankan. Ia adalah laboratorium literasi wahyu dalam lima dimensi kehidupan. Di sana, Al-Qur’an tidak hanya dilantunkan, tetapi dipikirkan, dirasakan, dan diwujudkan.
Dan mungkin di situlah kekuatannya: wahyu tetap hidup, karena dibaca dengan suara, dipahami dengan akal, dan dijalankan dengan kesadaran.











Comment