by

Tadarusan: Budaya Membaca Al-Qur’an di Kampung Jawa

Oleh: Elva Chasna Amalia

Elva Chasna Amalia
Mahasantri Pesantren Literasi Prisma Qur’anuna Kudus/Mahasiswa Prodi Tadris IPA FTIK UIN Sunan Kudus

Di tengah kebisingan modernitas yang terus mengikis nilai-nilai tradisi, masih ada semangat religius yang berdenyut dengan cepat di Kampung Jawa. Salah satu bentuk nyata yang paling jelas dari kehidupan beragama di sana adalah tradisi membaca Al-Qur’an secara berjemaah. Bagi saya, membaca Al-Qur’an bukan hanya sekadar kegiatan biasa, tetapi merupakan sebuah budaya yang menghubungkan saya secara vertikal dengan Tuhan serta secara horizontal dengan sesama manusia.

Saya tumbuh dan dibesarkan di Kampung Jawa, jadi saya melihat langsung bagaimana tradisi ini dilestarikan dari generasi ke generasi. Tadarus, yang artinya mempelajari, di kampung saya bukan hanya tentang mencapai target menghafal Al-Qur’an di bulan Ramadan saja. Lebih dari itu, itu adalah semangat, cara hidup yang membentuk sikap dan karakter masyarakat.

Suasana tenang Kampung Jawa di bulan Ramadan terasa kembali hidup saat waktu Ashar perlahan bergeser menuju Maghrib. Dari suara-suara yang saling berdentuman, kita bisa mengenali rumah-rumah yang mulai ramai dihiasi oleh para ibu dan bapak-bapak lanjut usia yang duduk bersila, dengan kaca mata turun di ujung hidungnya, membaca satu persatu lembaran mushaf. Namun, puncaknya adalah setelah salat Tarawih.

Masjid-masjid kecil atau langgar yang biasanya sepi di siang hari, tiba-tiba penuh dengan orang banyak seperti lautan. Di situlah tadarusan berlangsung. Biasanya, mereka duduk berkelompok sambil melingkar atau membentuk kelompok kecil-kecil. Ada yang membaca pelan-pelan, tapi sering kali terdengar suara lembut seorang qari’ atau qariah amatir yang membacakan ayat-ayat dengan indah, diiringi oleh suara peserta lain yang membaca dengan suara sariawan.

Sistem yang biasa digunakan adalah “setoran” atau “simakan”. Satu orang membaca, sedangkan yang lain mendengarkan dengan saksama. Jika terjadi kesalahan dalam mengucapkan huruf atau tempat asal suara, mereka akan saling mengingatkan dengan cara yang sopan. Bukan untuk mencari kesalahan, tapi karena percaya bahwa membaca Al-Qur’an harus dilakukan dengan baik, sebagai bentuk penghormatan terhadap firman Allah.

Baca Juga  Dari Lapar Menuju Sabar: Pendidikan Karakter pada Bulan Ramadhan di Pesantren PrismaQu

Bagi masyarakat Kampung Jawa, tadarusan berperan sebagai ikatan sosial yang menghubungkan mereka. Di antara pergantian orang yang membaca, biasanya terdengar percakapan ringan. Bicara soal anak, harga bahan pokok di pasar, atau sekadar ngobrol ngobrol. Interaksi inilah yang membuat komunitas terasa hangat. Anak-anak muda yang dulu hanya duduk-duduk di teras masjid, perlahan mulai tertarik untuk ikut bergabung dalam lingkaran tadarus. Awalnya mungkin karena malu atau hanya ingin mencoba, tetapi setelah beberapa waktu, mereka akhirnya terbiasa.

Selain itu, saya juga melihat cara tradisi ini menjadi sarana pembelajaran non-formal yang sangat efektif. Kakek dan nenek di rumah mungkin tidak bisa mengajarkan cucu mereka membaca, tetapi di masjid, tugas itu diambil alih oleh para guru ngaji atau bahkan tetangga yang lebih mahir. Tanpa ada kurikulum resmi dan tanpa papan tulis, ilmu tajwid serta bacaan asing diajarkan secara alami melalui praktek langsung.

Namun, seiring berjalannya waktu, saya mulai merasakan ada perubahan kecil. Dulunya, sebelum gawai mulai banyak digunakan, tadarusan adalah hiburan religius yang paling ditunggu-tunggu. Sekarang, saya melihat banyak remaja lebih suka sibuk dengan layar ponsel mereka daripada ikut serta dalam kegiatan tadarus bersama. Ini adalah tantangan besar.

Meski demikian, harapan tetap membuncah. Banyak orang tua masih bersabar mengajak anak-anak mereka pergi ke masjid. Para pengurus masjid juga kreatif, terkadang memberikan takjil atau makanan ringan setelah tadarus agar anak-anak merasa nyaman. Tradisi ini tetap hidup karena terlekat erat dalam kesadaran bersama bahwa membaca Al-Qur’an merupakan sumber ketenangan dalam hidup.

Tadarusan di Kampung Jawa bukanlah upacara yang sudah usang. Ia adalah napas kehidupan yang menyatukan generasi. Dalam suara lembut mushaf dan keindahan ayat-ayat suci, kita tidak hanya mendapatkan pahala, tetapi juga menemukan identitas diri sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan. Saya berharap, di masa depan, budaya yang mulia ini tetap terjaga dan tidak hilang terbawa oleh waktu. Sebaliknya, karena perkembangan teknologi, semangat tadarusan bisa diubah agar tetap sesuai dengan zaman, seperti membuat grup tadarus secara online atau berbagai konten dakwah yang menarik bagi anak muda. Sebab itu, hati yang dekat dengan Al-Qur’an adalah hati yang selalu menerangi desa, bangsa, dan peradaban.

Baca Juga  Obor Ma’rifat Menyala di Kota Wali: Santri Prisma Quranuna Ziarah Sunan Kudus dan Hidupkan Spirit Dandangan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed