by

Perempuan Perkasa Jawa dalam Perspektif Sejarah Modern Indonesia

Oleh: Prof. Dr. Peter Carey

Prof. Dr. Peter Carey
Sejarawan Modern di Trinity College, Oxford 1979-2008., Ahli sejarah modern Indonesia, khususnya Jawa, Pangeran Diponegoro, Perang Jawa 1825-1830, Inggris di Jawa 1811-1816

Pengantar

Pemikiran pertama yang menginspirasi saya dalam tema penting ini bisa ditemukan di artikel yang saya menulis bersama kolega sejarawan Belanda waktu itu masih sangat muda, Vincent Houben, “Spirited Srikandhis and Sly Sumbadras; The Social, Political and Economic Role of Women at the Central Javanese Courts in the 18th and Early 19th Centuries”, dalam Elsbeth Locher-Scholten dan Anke Niehof (peny.), Indonesian Women in Focus: Past and Present Notions, hlm.12-42 (Dordrecht: Foris, 1986).

Tiga puluh tahun sesudah artikel itu terbit, saya telah menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia. Diterbitkan ulang dalam bentuk buku kecil berjudul, Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia) pada tahun 2016, publikasi ini sekarang (Oktober 2019) sudah dicetak ulang empat kali.

Sistem Kolonial Belanda

Sistem kolonial Belanda—seperti semua sistem imperialis dari zaman Romawi (27 SM-476M) seantero dunia—didasarkan di atas sebuah patriarki lelaki. Setahu saya, terkecuali ada seorang GG yang trans-sexual, semua Gubernur-Jenderal atau Letnan Gubernur-Jenderal Belanda dan Inggris yang pernah berwenang di tanah air sejak VOC didirikan tahun 1602 adalah lelaki.

Waktu saya menyoroti arsip Belanda dan Inggris saya menemukan sebuah dunia yang terserat sentimen male chauvinist (pemuja kejantanan). Sentimen ini paling menonjol pada jaman Daendels (1808-1811) dan bisa dilihat dengan jelas waktu sang Marsekal menjawab permohonan Residen Yogyakarta untuk melibatkan isterinya dalam urusan pemerintahan.

Sifat pemuja kejantanan ini adalah salah satu pemicu utama Perang Jawa (1825-1830) yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Kepemimpinannya dipengaruhi oleh perempuan, terutama eyang buyutnya, Ratu Ageng, yang menjadi pengasuhnya semasa kecil di Tegalrejo.

Menghidupkan Kembali Tatanan Lama Jawa

Pertanyaannya kemudian adalah apa guna mengenali dan menghidupkan kembali tatanan lama Nusantara dan menulis sejarah secara benar. Pertanyaan ini pernah saya jawab dengan tiga alasan di luar alasan gender.

Baca Juga  Petualangan Perempuan Menara: Sebuah Kisah Perjalanan Tiada Akhir

Alasan pertama adalah menghidupkan tatanan lama untuk membangkitkan kembali semangat pro lingkungan. Saya sering mencontohkan tsunami Aceh 26 Desember 2004. Tsunami dahsyat itu menelan korban sebanyak 180.000 orang Aceh, sementara di Kabupaten Simeulue hanya tujuh orang dari 86.000 penduduk yang meninggal.

Ternyata masyarakat Simeulue masih berpegang pada kearifan lokal. Mereka tidak melaut ketika melihat tanda-tanda alam yang tidak biasa, melainkan segera menuju tempat yang lebih tinggi.

Alasan kedua belajar sejarah adalah terkait dengan eksistensi bangsa. Tiga pertanyaan pokok eksistensial tentang identitas adalah: siapa saya, dari mana saya, dan ke mana saya akan melangkah. Pertanyaan ini penting bagi bangsa Indonesia menjelang perayaan seratus tahun kemerdekaan pada 17 Agustus 2045.

Alasan ketiga belajar sejarah adalah terkait dengan dimensi ekonomi berbasis budaya. Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat besar, namun belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai sumber kesejahteraan masyarakat.

Pentingnya Contoh Pangeran Diponegoro (1785–1855)

Kesadaran Pangeran Diponegoro akan identitas diri dan bangsanya menjadi pelajaran penting bagi generasi sekarang. Ia menekankan pentingnya penghormatan terhadap budaya, agama, dan nilai-nilai lokal dalam kehidupan masyarakat.

Kesimpulan

Priyayi dan perempuan kelahiran keluarga kerajaan di Jawa tengah bagian selatan, setidaknya sampai akhir Perang Jawa, menikmati kebebasan dan kesempatan untuk bertindak yang jauh lebih luas dibandingkan generasi perempuan setelahnya.

Jejak mereka terasa di bidang yang kemudian dianggap sebagai urusan laki-laki, yaitu dunia militer dan politik. Namun untuk mengukuhkan kesimpulan ini, diperlukan penelitian lebih lanjut dalam arsip Belanda dan karya sastra Jawa.

Pada saat yang sama, pengaruh pendidikan gaya Barat dan perubahan sistem sosial mungkin telah mengurangi peran perempuan dalam keraton dan masyarakat Jawa secara umum. Oleh karena itu, penelitian lebih terintegrasi tentang peran perempuan dalam sejarah Indonesia masih sangat diperlukan.

Baca Juga  Petualangan Perempuan Menara: Sebuah Kisah Perjalanan Tiada Akhir

Daftar Pustaka

Carey, Peter. 2017. Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855). Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Carey, Peter. 2019. Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Carey, Peter dan Vincent Houben. 2019. Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Esthi Susanti Hudiono dan Seruni Bodjawati. 2019. Perempuan-perempuan Menggugat; Literasi Rupa Sejarah Perempuan Indonesia. Yogyakarta: Media Pressindo.

Fanon, Frantz. 1963. The Wretched of the Earth. New York: Grove Press.

Wardiman Djojonegoro. 2016. Sepanjang Jalan Kenangan; Bekerja dengan Tiga Tokoh Besar Bangsa. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed