by

Petualangan Perempuan Menara: Sebuah Kisah Perjalanan Tiada Akhir

Petualangan perempuan Menara: sebuah kisah perjalanan tiada akhir[i]

Nama: Siti Muflichah

Lembaga: UIN Antasari Banjarmasin

Email: sitimuflichah@uin-antasari.ac.id

Siti Muflichah, Ph.D

Editorial board member of Journal of International Women’s Studies: https://vc.bridgew.edu/jiws/editorialboard.html

The author of: Taking a trip through and with the sisterhood of the Global South.https://www.taylorfrancis.com/books/e/9781315147444/chapters/10.4324/9781315147444-8

Writing a global and Southern sisterhood between Indonesia and Australia.
https://vc.bridgew.edu/jiws/vol21/iss2/16/

Pendahuluan

Namaku Siti Muflichah. Teman-teman bermain waktu kecil memanggilku nduk Muf. Ketika aku besar, (dan aku mempunyai jabatan sosial yang lebih tinggi) mereka memanggilku mbak Muf. Aku tidak tahu apakah sudah ada dalam teori Sosiologi mengenai perubahan panggilan ‘nduk’ ke ‘mbak’, yang aku pahami sebagai strata sosial bawah dan atas. Ketika aku menjadi dosen dan mendapat gelar S2 yang pertama, orang-orang memanggilku bu Muf, tetapi para teman dan tetangga yang tidak tahu status pekerjaanku ini tetap memanggilku nduk dan yang tahu mulai memakai mbak, bu dan jenengan. Di kampus, aku bergaul dengan baik dengan para teman dosen perempuan. Sementara kolega laki-laki tetap memandang dengan mata menyipit sebelah. Ketimpangan ini sudah mulai dari aku duduk di sekolah tingkat Tsanawiyah sampai aku kuliah S3 dan 21 tahun menjalani profesi sebagai dosen. Keadaan cara laki-laki memandang perempuan ini selalu membuatku bertanya, mengapa?

Maka pada bab dari buku ini, aku (sudah dan) akan membeberkan jawaban atas pertanyaanku tersebut. Aku akan menceritakan perspektif hidupku dari cara pandang seorang ‘feminis’, sebuah “kata” yang mungkin ditakuti pada jaman Presiden Soeharto (Suryakusuma, 1996), di mana perempuan ada dalam posisi State Ibuism. Atau dari perspektif “seorang aktifis”, (Qibtiyah, 2010; Simic, 2010) atau dari perspektif ‘perempuan’ saja mungkin? Agar tidak kedengaran menakutkan? Terserah pada anda sebagai pembaca. Tapi kata tersebut “terpaksa” harus aku sebut di “positionality” sewaktu menulis PhD thesisku karena dalam penelitian kualitatif, posisi peneliti harus disebut secara jelas. Begitu kata pembimbingku, seorang feminist decoloniality, Liz.

Pembahasan

Pemicu

Masa yang paling baik kuingat adalah masa-masa masuk sekolah transisi dari Tsanawiyah ke  Aliyah. Aku ingat masa-masa tersebut penuh dengan konflik. Mungkin karena itu adalah masa puber, di mana ia didefinisikan sebagai masa storm and stress (Triyanto, 2010). Masa yang penuh dengan badai dan masa yang memabukkan. Hmmm… Aku ingat bagaimana ketatnya aturan sekolahku, terutama dalam hal hubungan dengan lawan jenis, yang lalu aku and my geng membuat perlawanan tapi tidak berhasil (Hello Meryliana’s gang, apa kabar?). Aku ingat juga bagaimana masyarakat di mana aku tinggal. Sebuah masyarakat yang menjunjung tinggi norma patriarki di mana perempuan jarang dilihat eksistensinya (Untuk membaca deskripsi di mana aku tinggal, baca Muflichah, 2014, p. 63; Catles, 1982). Aku setuju dengan Sardjono dan Harani (2017) yang menyebut daerahku dengan Sacred Space in Community settlement of Kudus Kulon, Central Java, Indonesia. Kerabat besarku (baca: bukan keluarga inti) dan tetanggaku juga merespon yang sama terhadap konvensi tersebut. Mereka hidup dalam tatanan yang sama, kecuali aku dan my gang yang merasa aturan, norma di mana kami tinggal dan bersekolah, terasa aneh. Kami diharuskan melakukan ini itu, lalu kami dilarang keras melakukan ini itu, tetapi tudak mendapatkan penjelsan yang pas, mengapa? Untuk apa?…Atau kami akan mendapat hukuman. Tapi dalam hal akademik, aku selalu ranking 1 waktu di Madrasah Ibtidaiyah (seingatku ya), lalu mendapat gelar bintang pelajar sewaktu Madrasah Tsanawiyah. Tetapi prestasiku waktu Aliyah, sangat merosot, aku tidak bisa menjelaskan kenapa. Kakak sulungku sakit dan meninggal ketika aku kelas dua Aliyah. Pertama kalinya aku melihat ibuku menangis.

Sejak Tsanawiyah aku sudah aktif di kegiatan keagamaan dan kegiatan NU. Waktu Aliyah, aku ikut Makesta, terpilih sebagai wakil desa untuk ikut Lakmud dan wakil kecamatan untuk ikut Lakmad. Aku juga aktif di kegiatan OSIS dan menduduki jabatan sebagai sekretaris baik OSIS maupun IPPNU tingkat sekolah. Aku senang ketika akhirnya aku lulus Aliyah dan mendaftar kuliah di Yogjakarta (YK). Ketika itu, kakak perempuanku sudah menjadi dosen, sehingga bisa memberikan gambaran dunia perkuliahan dan bahkan jika ingin menjadi akademisi. Dan kuliah ke YK merupakan harapan yang besar untuk keluar dari kungkungan kultur saat itu.

Kota-kota yang menjanjikan masa depanku.

Yogyakarta, kuliah S1 dan S2

Aku lulus tes masuk IAIN dan kuliah ke Yogjakarta (YK) setelah lulus Aliyah, melupakan pemberontakanku and my geng dan meninggalkan hiruk pikuk peziarah makam Sunan Kudus yang banyak meninggalkan sampah di depan rumah. Juga kebisingan motor ojek, yang mengangkut mereka dari terminal bus ke lokasi ziarah. Melupakan dering bel becak dan klakson mobil kap terbukanya. Meninggalkan tatanan masyarakat yang orang di luar desa kami menyebutnya “Kudus Kulon”. Sepertinya kata itu merujuk pada bagian wilayah yang sedikit lebih religious dari pada “Kudus Wetan” (Castles, 1982). Kebetulan keluargaku tinggal berjarak tiga rumah dari Menara dan Makam Sunan Kudus. Mengaburkan juga sosok lelaki seumuran yang pernah memanggilku ‘ekrak’, alat untuk mengambil sampah. Anggap saja dia si A. Dia memanggilku itu karena badanku memang lebar (tapi masak seperti ekrak?). Tapi aku tidak tahu alasan mengapa dia menjuluki aku dengan sesuatu yang kotor? Aku tidak pernah menyakiti dia sebelumnya. Kami hanya kenal karena sama-sama mengikuti kegiatan Lakmud dan Lakmad. Aku mewakili sekolah dan kecamatanku, sebagaimana dia. Setelah aku jadi dosen, dia pernah ke kampus dan kami bertemu dalam rangka acara seminar guru. Kulihat ada garis-garis kesusahan hidup dalam penampilannya. Aku cuma berkata dalam hati, “Gusti, jika benar dia hidupnya susah, anggaplah itu balasan ‘ekrak’ dariku”. Kami tidak bersapa di acara guru-guru tersebut, dan aku harap dia ingat soal ekrak.

Dalam acara seminar guru tersebut, aku juga bertemu lelaki yang kukenal ketika kuliah di YK, namanya B. Dan kenapa aku harus menceritakan lelaki ini karena ada kesalahpahaman. Yaitu: di kampungnya sudah santer kabar kalau dia akan menikah dengan perempuan Menara (diyakini, aku). Tetangganya yang sehari-hari menjaga kas Makam Sunan Kudus, memastikan bapakku, bahwa bapakku akan besanan dengan keluarga laki- laki ini. Tetapi kami hanya berteman saja dan anehnya, selama ini B tidak ada kata-kata atau isyarat hendak melamar atau menikah. Jadi ketika di acara seminar guru tersebut kami hanya melempar senyum. Tidak ada guna mengingatkan dia kembali bahwa betapa bapakku resah (dan mungkin malu karena itu cuma kabar burung) dengan berita di kampungnya itu!

Datang ke YK dengan membawa banyak harapan akan “sedikit kebebasan” yang kudamba. Kukirim surat ke my gang tentang how to live in YK. Mereka suka dan berharap bisa mengunjungiku suatu hari. Satu anggota gengku menyusul ke YK dan sempat mengikuti bimbingan belajar untuk kuliah di YK, tapi akhirnya batal dengan alasan yang tidak kuketahui.

Kembali ingatan tentang YK, secara kultur, YK berbeda dengan Kudus, apalagi Menara. Di YK aku bisa melihat aneka budaya dan karakter orang. Teman kuliahku juga datang dari seluruh bagian indonesia. Aku juga punya teman dari luar negeri. Saat itu banyak mahasiswa datang dari Malaysia dan Bangladesh. Sementara di Kudus aku hanya melihat satu jenis budaya. Lebih-lebih jeratan budaya patriarkhal sangat kental kurasakan di Kudus. Norma yang harus aku ikuti adalah norma yang ditetapkan oleh laki-laki. Aku heran, bagaimana perempuan bisa hidup dengan norma yang bukan berpihak kepadanya?

Baca Juga  Perempuan Perkasa Jawa dalam Perspektif Sejarah Modern Indonesia

Kadang-kadang aku enggan untuk pulang ke Kudus saat liburan, meski mobil Elf dari travel Rahayu sudah menjemput di muka gang kosku. Aku (hanya) malas (takut) bertemu dengan tetanggaku, katakana namanya si C yang pernah bilang begini ke Bapak: “Lapo kang anakmu mbok kuliahno adoh-adoh tekan Yogja, mulih-mulih wes ora per*w*n”.

Sebuah ungkapan kekecewaan atau iri dari seorang laki-laki yang dia juga mempunyai anak perempuan. Seorang laki-laki yang taat beragama dan disegani di desa. Nampaknya ajaran agama yang dianutnya dia pahami dan tafsirkan secara sempit. Ungkapan yang mencerminkan bagaimana model masyarakat saat itu, bahwa perempuan tidak perlu menuntut ilmu yang lebih tinggi, (Baca: Sears, 1996) apalagi sampai ngekos di YK. Saat dekade itu, YK memang terkenal dengan kehidupan bebasnya, dan sebagai perempuan (Timur), keperawanan masih dijadikan tolok ukur kebaikan seorang perempuan. Sehingga kalau aku kuliah di YK, mungkin aku akan terkontaminasi menjadi “tidak baik”. Tetapi dia tidak tahu, bagaimana kualitasku dalam hal ini. Lebih-lebih aku tidak melihat di sekitar kampus dan kos, apa yang ditakutkan oleh tetanggaku itu. Lingkunganku baik dan Islami.

Bapak tampak kecewa ketika menceritakan ini kepadaku. Alih-alih bapak mengatakan “awas ya kamu kalau nanti lulus sudah ga pe*aw*n”, bapak malah mengatakan kekecewaannya pada tetangga tersebut.  Bapak menyemangati, dan memberiku kepercayaan. Di sini aku tahu bahwa bapakku sudah cukup berwawasan modern. Bapak juga cukup moderat dengan pandangannya tentang perempuan yang sekolah tinggi (terbukti dengan dua kakak perempuanku menempuh kuliah pascasarjana), meskipun pendidikan bapakku lebih rendah dari tetanggaku tersebut. Sementara itu, kami tidak menceritakan hal ini kepada ibu, karena pasti ibu juga tidak akan suka dengan ungkapan tetangga tersebut. Peran ibu juga sama besarnya dengan peran bapak. Ibuku juga mendukung bagaimana agar aku bisa menyelesaikan kuliah di YK melalui nasehat dan doa-doanya. Sementara kedua kakak perempuanku mempunyai peran mengurus masalah keuangan dan teknis perkuliahanku. Ini berarti, aku mendapat dukungan penuh dari keluargaku.

Dari perlakuan tiga lelaki A, B, C berbeda di atas, aku bisa mulai menjelaskan perasaan yang aneh tadi setelah aku mempelajari teori poskolonial (Mohanty, 2003). Ketika aku membaca kembali tulisan-tulisanku yang dimuat di beberapa jurnal, aku selalu menemukan topik feminisme postkolonial muncul di bagian atas permukaan ingatanku. Aku membaca buku Spivak (1988) lagi. Aku membaca deskripsinya tentang orang-orang subaltern dan dari tulisan Spivak, aku mulai menempatkan diriku sebagai akademisi perempuan subaltern, dan mulai mempertanyakan tentang teori Spivak. Spivak mengklarifikasi bahwa mereka, orang-orang subaltern bukan seperti yang dideskripsikan oleh Barat, sebagai orang-orang yang “tidak dapat melakukan apa pun.” Mohanty (2003) telah berhasil mengungkapkan deskripsi Barat yang buruk tentang Perempuan Timur ini dengan mengatakan secara tegas bahwa perempuan (Indonesia) adalah pejuang untuk mengubah penindasan. Dari pendapat Mohanty tentang cara penilaian Barat, aku dapat mengklaim bahwa perempuan Indonesia tidak dalam keadaan pasif atau tidak aktif dengan kolonisasi. Seperti perempuan Barat, perempuan Indonesia memiliki kemampuan untuk mengambil langkah dan melakukan tindakan untuk menolak status quo dan memilih dengan cara yang sesuai dengan problem yang mereka hadapi. Demikian juga aku! Jika dikaitkan dengan feminism poskolonial, pengalaman, problem, suka citaku sebagai warga negara Indonesia (yang pernah dijajah Belanda), diakui dan dirayakan oleh feminis jenis ini. Aku bisa menjawab kegelisahan-kegelisahan budaya setelah aku terjun di bidang isu-isu perempuan. Kasus ekrak, adalah contoh laki-laki memandang perempuan sebagai yang lain/others (Trinh, 1989). Ekrak adalah kasus pribadiku di ranah non akademik. Di wilayah akademik aku juga mengalami “otherness” (Baca Muflichah, Andriani & Mackinlay, 2018). Kasus isu aku akan menikah dengan lelaki dari Kudus Wetan, menunjukkan bahwa laki-laki tidak memerlukan persetujuanku jika mereka menginginkan pernikahan (Spivak, 1988). Apakah ini contoh yang terlalu jauh? Ah aku tidak tahu. Perempuan tidak mempunyai suara (Spivak, 1988), bahkan untuk menentukan nasibnya sendiri (baca: Subaltern women). Sementara kasus kuliah ke YK dan pulang-pulang tidak peraw*an merupakan contoh kasus bahwa perempuan harus menjaga sikapnya, perilakunya dan bahkan standar baik buruknya perempuan adalah bagaimana dia bisa menjaga prilaku seksnya (yang ini sangat personal aku kira, siapa yang akan tahu aku sudah perawan atau tidak, kecuali my sexual partner, kan?). Bahwa tubuh perempuan menjadi penentu baik buruknya sesuatu (Kristeva, 1982). Yah tidak heran, karena masa kecilku peran orde baru masih kental di mana State Ibuism diterapkan dan perempuan dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab atas baiknya keluarga dan bahkan menjadi tiang negara yang dipahami secara sempit.

Sayup-sayup kudengar suara Saykoji yang merdu di antara rap nya:

“Biarkan apa mereka bilang

Tekatku takkan hilang

Jalanku masih panjang

Garis akhir yang kupandang”

Lalu lagu Saykoji itu pun mulai menghilang, pelan-pelan…

-000-

Kembali ke kota kelahiran saat libur kuliah, aku seperti dibawa arus ke jurang yang dalam. Aku jarang bertemu dengan teman-teman se-angkatan sekolah Tsanawiyah atau Aliyah, karena sudah ada yang menikah sebagian. Kami sekeluarga tidak pernah menekankan pentingnya topik segera menikah. Malah bapak juga mengalami keresahan lagi ketika ada teman lelaki dari Lombok, teman sekelas, yang mengaku sebagai pacarku. Padahal dia ke Kudus dalam rangka ziarah ke Sunan Kudus lalu mampir ke rumah, tapi aku sedang ada di YK. Bapak resah karena mungkin itu benar dan aku segera menikah dengan dia padahal aku masih kuliah. Orang tuaku pun tidak ada menyinggung soal cepat-cepat menikah ketika aku lulus kuliah S1.

Jakarta, pelatihan program ke luar negeri.

Setelah lulus studi S1, aku sendiri tidak mempunyai ruang dan waktu untuk memikirkan menikah. Selama di YK, aku mempunyai banyak teman lelaki dan banyak dari mereka yang mempunyai prinsip yang aku sukai, bukan seperti prinsip para lelaki Kudus yang aku kenal. Yaitu prinsip yang ditengarai dengan keegaliteran dan mengormati teman perempuan. Tetapi karena belum tertarik ke arah menikah, aku lebih fokus pada pencapaian prestasi. Aku mencoba untuk mengambil SKS yang lebih tiap semester, dengan harapan bisa segera selesai kuliah. Aku banyak mengambil matakuliah di kelas kakak angkatan. Sedikit banyak, aku kenal dengan teman-teman di luar kelas paketku. Di Semester 9, aku berhasil melaksanakan ujian munaqasyah pertama dari teman sekelas, dan dinyatakan lulus. Setelah wisuda dan belum sempat menerima ijazah, aku melamar untuk mengikuti tes Pembibitan Dosen. Itu adalah tes pertamaku dalam hal mencari pekerjaan. Hanya Allah yang tahu, mengapa aku bisa lulus, padahal sainganku tentulah senior-senior yang lebih oke. Yang aku ingat dari wawancara bahasa Arab adalah, mengapa mengikuti tes ini, dan jawabanku adalah:

 أريد أن أكون مدرسة بارعة في اللغتين العربية والإنجليزية

Dan ternyata jawaban tersebut terbukti menjadi nyata sekarang. Sekarang aku mengajar di jurusan Pendidikan Bahasa Arab/PBA dan Tadris Bahasa Inggris/TBI. Bersama lima orang dari IAIN YK, aku harus meninggalkan YK untuk ke Jakarta dan tinggal selama 9 bulan untuk mengikuti pre departure training program for overseas studies. Program ini milik kementerian Agama, dan terkenal dengan program pembibitan dosen. Setelah mengikuti program ini, kami diharapkan melanjutkan kuliah ke luar negeri. Di saat itu aku mulai galau meninggalkan YK. Apakah Jakarta akan menawarkan sesuatu yang lebih? Teringat sahabatku yang dengan mata pilu mengetuk jendela mobil travel Elf yang membawa aku dan rombongan perwakilan YK menuju ke Jakarta sore itu. Dari atas sepeda motornya dia melambaikan tangan seolah-olah mengatakan kapan aku kembali ke YK. Akankah aku kembali? Hanya waktu dan nasib yang akan menjawab.

Baca Juga  Perempuan Perkasa Jawa dalam Perspektif Sejarah Modern Indonesia

Di Jakarta/JKT inilah kehidupanku sebagai akademisi dimulai. Kami dianggap sebagai peserta pilihan dan terbaik dari seluruh IAIN se-lndonesia, dipersiapkan untuk bisa studi lanjut S2 ke luar negeri. Aku memilih kelas lnggris yang muaranya akan kuliah ke negara-negara yang berbahasa lnggris. Pilihan ini berlawanan arah dengan kualifikasi S1 yang aku pilih, bahasa (dan Sastra) Arab. Aku sudah mulai merasakan ketidaknyamanan budaya ketika belajar budaya dan bahasa Arab. Aku merasa bahwa kultur Arab terlalu banyak nuansa patriarki. Aku ingin mengetahui bagaimana dengan budaya dan bahasa lnggris? (keinginan ini terkabul karena aku sudah merasakannya ketika kuliah di Australia, dan semester ini aku mengajar matakuliah “Cross Cultural Understanding”).

Masa-masa yang kulalui di Jkt merupakan masa yang getir karena lndonesia sedang mengalami krisis moneter. Krisis ini mempengaruhiku secara keuangan. Ditambah perubahan suasana antara YK dan JKT juga sempat terasa. Yang paling terasa adalah harga makanan di JKT seharga dua kali lipat di YK, meski aku menikmati, saat itulah pertama kalinya aku mendapat stipend. Selain hawa panas, kemacetan dan keterasingan, aku merasa tidak “settle” karena mulai merasakan arus kompetensi yang deras di JKT. Kami, di kelas, perempuan hanya 3 dan laki-lakinya 17 orang. Dosennya majoritas juga laki-laki. Kami digenjot untuk bisa meraih tujuan program ini. Dan di sini aku pun mulai berpolemik dengan teman laki-laki seprogram. Ada problem asmara, iri, budaya dan juga akademik. Aku belajar banyak hal di program ini.  

Menjadi dosen di kampus maskulin abad 21

Singkat kata, aku berhasil dalam program tersebut dan berhasil menjadi dosen PNS, yang ditempatkan di Kudus, kota kelahiranku. Banyak teman se-program yang iri dengan penempatan ini karena kebanyakan mereka ditempatkan di luar Jawa. Tetapi sekarang sebagian mereka pasti bersyukur karena sekarang sudah ada yang menjadi Profesor dan menjabat Rektor di luar Jawa.

Di kampus di Kudus inilah, konfrontasi pertama berbasis gender dimulai. Aku harus tunduk pada pimpinan laki-laki yang mengusung norma tradisional. Kebebasan akademik yang kusaksikan dan pelan-pelan kupelajari di YK, menabrak pagar besi tinggi (Muflichah, Andriani & Mackinlay, 2018).

My activism grows here

Aku mengalah, aku mundur selangkah tapi untuk maju dan menang. Aku dan satu teman sejawat perempuan, berhasil mendirikan Pusat Studi Gender/PSG, walau awalnya tidak ada pengakuan dari pimpinan kampus, kami jalan terus. Aku tetap sibuk dengan kuliah S2 di YK selama dua minggu, mengajar di Kudus dua minggu, tampil di acara-acara gender ke banyak daerah di lndonesia, aku tidak kekurangan energi untuk melangkah pasti. Tawaran untuk mengisi acara, koran., radio, mulai berdatangan. Kudus hanyalah kota kecil. Aku mendapat kesempatan bermitra dengan eksekutif Kudussetelah aku pernah menjadi pembicara tentang Gender dan Islam di pendopo kabupaten. Di luar kampus, dengan dua teman sejawat perempuan, aku terlibat dalam pendirian organisasi Koalisi Perempuan lndonesia/KPI cabang Kudus. Beruntung, wakil bupati Kudus yang seorang perempuan, mempunyai perhatian lebih pada bidang perempuan dan anak, sehingga aku dan teman-teman di PSG terlibat sebagai anggota JPPA (Jaringan Perlindungan Perempuan dan Anak). Beliau juga sangat support ketika aku memutuskan melawan arus di kampus, dengan studi S2 yang ke dua ke Adelaide, South Australia. Sementara pada forum mahasiswa, aku pernah mengisi acara debat poligami, tentu berdebat dengan narasumber laki-laki yang pro poligami, dan diliput oleh Koran lokal. Dari PSG ini, aku juga mendapat kesempatan untuk terbang ke beberapa tempat di Indonesia di antaranya Riau. Juga ke Borneo, di mana sekarang aku hijrah, ke luar dari kemapanan dan keresahan akademik, mencari jati diri yang sebenarnya.

Motherhood vs. Academia is (possibly) tough!/is almost impossible

Sebagai seorang perempuan berkarier (tinggal di lingkungan patriarkal), aku tidak bisa lepas tanggung jawab akan reproduksi. Meskipun di suatu koran, aku pernah diwawancarai mengenai reproduksi, dan aku menjawab bahwa menikah adalah pilihan dan perempuan mempunyai hak atas kemampuan reproduksinya. Tapi bagaimana karierku setelah menikah? Berhubungan dengan reproduksi dan karier, aku memutuskan mengambil keduanya: karier dan reproduksi. Aku ingat apa yang kubaca dari Ruddick (1980). Ruddick terkenal karena analisisnya tentang praktik berpikir seorang ibu yang muncul dari pengasuhan anak. Dia berpendapat bahwa menjadi ibu adalah aktivitas sadar yang membutuhkan pilihan, keputusan harian dan reflektifitas yang terus-menerus dan waspada. Kontribusi Ruddick mungkin adalah pemikir filosofis yang paling penting untuk mengatasi masalah ke”ibu”an, dan ke”ibu”an sejak feminisme gelombang kedua, dan dengan semangat untuk memperluas analisisnya tentang menjadi ibu di bawah patriarki untuk pengembangan nilai-nilai yang diperlukan untuk menentang militerisme dan perang. Aku juga terkagum-kagum dengan Collins (1994) yang sangat pas menjabarkan kondisiku sebagai akademisi dan seorang ibu dengan karyanya “Motherwork”, bahwa menjadi ibu dan akademisi itu secara bersamaan melunakkan dikotomi feminis tentang rumah dan pekerjaan dan cara kita merangkul subjektivitas ini. Bagaimana dengan cerita hak-reproduksiku di lingkungan akademik? Aku masih harus berjuang nampaknya. Setelah 3 minggu melahirkan anak pertama, aku sudah dipanggil oleh atasan (pasti laki-laki) untuk kembali ke kampus, padahal cutiku belum berakhir, masih ada 5 minggu lagi.

Ketika aku memutuskan mengambil keduanya: karier dan reproduksi, ada halangan pasti. Ketika aku mengikuti acara EAP (English for Academic Program) di Denpasar selama 9 bulan, aku tengah hamil anak ke dua. Saat tiga hari menjelang ujian IELTS untuk syarat keberangkatan ke Australia, aku melahirkan di Denpasar. Tidak perlu ada air mata lagi menghadapi kondisi ini. Aku sudah terlatih untuk selalu hidup di tengah dilemma. Ujian dalam hidup membuatku menjadi kuat dan tenang. Kuingat-ingat dalam pikiranku saat itu: Yang perlu aku lakukan hanya berpikir tenang, lahirkan bayi ini dan lalu selesaikan ujian akhir ini. Hanya itu. Usaha dan serahkan pada Allah! Dan akhirnya aku berhasil mencapai nilai IELST yang ditetapkan untuk berangkat ke Adelaide. Sepertinya itulah jawaban Tuhan atas keresahanku dulu; “melahirkan anak dulu, atau kuliah ke luar negeri dulu?” Ternyata jawaban Tuhan: kuliah ke negeri Kangguru sambil mengurus batita dan bayi merah! Aku jalani kuliah ini dengan harapan semua berjalan bersama, meski tidak ada hasil yang luar biasahhh atau outstanding!

Adelaide: kuliah S2 (lagi) di Flinders University.

Kuliah S2 yang ke dua ini kujalani dengan peranku sebagai ibu dengan dua anak batita. Tidak menyangka bahwa aku akan diberi pilihan sulit, kuliah di negeri orang dengan membawa dua bayi. Aku hanya mencoba melihat sisi positif perjalanan ini, yaitu fokus pada kuliah dan pulang ke Indonesia membawa segudang pengalaman dan cerita menarik. Tidak mudah dan hampir putus asa, tetapi selalu ada sinar terang di ujung lorong gelap. Semua kesulitan selama kuliah tersebut, harus ada jalan keluar. Itu prinsipku. Meski sempat merasakan down, tapi aku tahu bahwa masa susah itu hanya dua tahun. Sekembalinya dari Adelaide, aku mengalami puncak karier. Mungkin ini juga balasan Tuhan atas susah payahku di Adelaide. Aku harus selalu berbaik sangka kepada keputusan Tuhan. Tapi aku harus keluar dari kemapanan karier tersebut karena di sisi lain aku merasakan hubungan personalku antar teman-teman dosen, apalagi dengan yang dulu seperjuangan memperjuangkan PSG dan KPI tidak bisa berjalan mulus karena ada halangan politik kampus. Aku memutuskan untuk hijrah, menjemput hidden blessing, meninggalkan tanah kelahiranku.

Baca Juga  Perempuan Perkasa Jawa dalam Perspektif Sejarah Modern Indonesia

Banjarmasin: pindah ke Borneo, perjalanan tanpa peta dan hijrah anti kemapanan.

Aku tahu, di sini aku bukan siapa-siapa. Tidak banyak orang yang kukenal di sini, kecuali beberapa aktifis PSG dan teman sesama lulusan Australia. Aku tetap mempunyai semangat melamar beasiswa S3, dan percaya jika hijrah selalu membawa disguise blessing. Hanya dua semester mengajar di Borneo, akhirnya aku harus pindah lagi ke kota impianku berikutnya, Brisbane.  

Brisbane: kuliah S3 di University of Queensland

Hikmah terbesar pindah ke Borneo adalah mendapatkan beasiswa ke Australia hanya dalam waktu 8 bulan setelah kepindahanku! Padahal, selama 6 tahun setelah lulus dari S2 Adelaide, setiap tahun (ada yang setiap semester) aku melamar beasiswa dan semuanya gagal! Kali ini kota yang aku tuju adalah Brisbane, yang merupakan ibukota dari Queensland. Negara ini terkenal dengan The Sunshine State karena disinari panas matahari sepanjang tahun. Berharap semoga musim dingin sendiriku di Brisbane tidak membunuhku seperti saat di Adelaide yang pernah mencapai minus satu derajat.

Kegagalan mencari beasiswa selama enam tahun terbayar dengan akhirnya bisa kuliah di kampus yang masuk 50 ranking dunia. Tidak pernah terbayang sebelumnya, bisa kuliah di kampus yang juga masuk Group of Eight ini. Mendapatkan supervisor yang baik dan lulus dalam waktu yang tepat saja, sudah merupakan karunia terbesarku sebagai mahasiswa PhD.

Kembali ke kampus abad 21

“Detail pekerjaanku, merasakan kembali otherness di academia”

Setelah melanglang buana ke Brisbane (Melbourne dan Sydney untu presentasi di konferensi internasional) dan melakukan penerbangan sekian kali rute Banjarmasin-Surabaya-Denpasar-Brisbane, per 3 – 6 bulan sekali, bahkan rute Goldcoast-Singapura-Jakarta pun kulalui, akhirnya selesai juga kuliah S3ku. Aku kembali menjadi akademisi lagi dengan tugas dan harapan baru, serta mungkinkan juga menghadapi tantangan kampus maskulin yang baru?. Karena aku sadar sepenuhnya kalau aku bekerja di kampus abad 21 itu bekerja di dunia milik laki-laki. Kampus abad 21 itu milik laki-laki atau yang dikuasai laki-laki. Untuk mengetahui ini, kita hanya perlu membaca beberapa pengetahuan terbaru dan perjuangan perempuan bagaimana mereka menghadapi dunia laki-laki di kampus ini (Henderson, 2018, p. 190). Kenyataan ini menggangguku dan menimbulkan konflik batin, dan aku mempertanyakan alasanku kenapa aku masih saja tetap tinggal dan bekerja di kampus abad 21 ini? Apakah aku bersekutu dengan kekerasan yang diberikan kepada banyak orang? Terutama kepada perempuan-perempuan? Atau, karena ini bukan hanya masalah perempuan, tetapi ini adalah masalah feminisme: yaitu kekerasan yang diakibatkan subjektifitas feminitas. Aku dan teman-teman dosen perempuan mengalami apa yang disebut academics are on fire. Warren (2017) menyebutkan bahwa depresi akademik di kampus modern terjadi karena ada persaingan (yang hampir tidak wajar), tuntutan yang tinggi antara mengajar, penelitian dan administrasi. Jumlah mahasiswa bertambah, sementara sumber daya sangat sedikit dan tidak seimbang, berpacu dengan tuntutan produktifitas riset dan dana/hibah penelitian, ditambah  lingkungan yang penuh dengan ukuran dan pengawasan. Meskipun hal-hal tersebut di atas adalah penyebab para dosen menderita gejala gangguan fisik dan psikologis, dan mereka mengkonsumsi obat anti stress, tetapi aku pribadi mempunyai pendapat lain. Aku tetap kukuh bahwa ketidaksetaraan gender tetap sebagai isu yang nyata dan hadir di akademia karena kultur maskulin di mana perempuan diabaikan atau dianggap “orang lain” dan mempunyai sedikit pengaruh. Menerapkan aksi maskulin akhirnya menjadi norma untuk perempuan jika mereka ingin survive di dalam kampus abad 21.

Simpulan

Pada tulisanku ini, aku menceritakan dari mana aku berasal dan bagaimana lingkungan sekitarku yang patriarkal telah menjadikanku perempuan “alpha”. Aku mengeksplor bagaimana aku menggunakan berbagai sumber, agama, teori feminis, penelitian feminis dan tulisan akademik untuk melihat masa laluku dan menghubungkannya dengan masa sekarang, dengan cara yang lebih sistematik. Dengan menghubungkan pengalaman pribadiku pada kontek sosial-politik yang lebih luas, aku mendapatkan keuntungan, kesenangan, kebebasan (tanda kutip), semuanya! Dan bahwa aku adalah perempuan agensi -di mana dalam menghadapi kenyataan hidup-, aku tidak menyalahkan terlalu banyak pada penderitaanku, tetapi melawannya, dan mencoba menjadi Muslimah moderat dengan melihat beberapa alternatif untuk meraih kebahagiaanku/kesuksesanku, dan aku bisa menjadi sumber inspirasi bagi perempuan lain.

Daftar Pustaka

Castles, L. (1982). Tingkah laku agama, politik dan ekonomi di Jawa: Industri rokok Kudus. Sinar Harapan.

Collins, P. H. (1994). Shifting the center. Representations of Motherhood. Eds. Donna Bassin, Margaret Honey and Meryle Mahrer Kaplan. New Haven, CT: Yale University Press.

Henderson, L. (2018). I am the compliant academic. In A. L. Black, & S. Garvis, (Eds.). Women activating agency in academia: Metaphors,manifestos and memoir (pp. 185-201). New York, NY: Routledge.

Kristeva, J. (1982). Approaching abjection. Oxford Literary Review, 5(1\2), 125-149.

Mohanty, C. T. (2003). Feminism without borders: Decolonising theory, practicing solidarity. Durham, NC: Duke University Press.

Muflichah, S. (2014). The charisma leadership style of Kyai Haji Arwani Amin the founder of Yanbuul Quran pesantren, Kudus. JICSA (Journal of Islamic Civilization in Southeast Asia), 3(1).

Muflichah, S., Andriani, D., & Mackinlay, E. (2018). Taking a trip through and with the sisterhood of the Global South: Storying our experiences as female academics in Indonesia and Australia. In A. Black & S. Garvis (Eds.), Lived experiences of women in academia: Metaphors, manifestos and memoir (pp. 94-104). New York, NY: Routledge.

Qibtiyah, A. (2010). Self-identified feminists among gender activists and scholars at Indonesian Universities. ASEAS – Austrian Journal of South-East Asian Studies, 3(2), 151-174.

Ruddick, S. (1980). Maternal thinking. Feminist Studies, 6(2), 342-367.

Sears, L. J. (1996). Fantasizing the feminine in Indonesia. Durham, NC: Duke University Press.

Simic, Z. (2010). ‘Door bitches of club feminism?’ Academia and feminist competency. Feminist Review, 95(1), 75-91.

Spivak, G. C. (1988). Can the subaltern speak? In L. Grossberg & C. Nelson (Eds.), Marxism and the interpretation of culture (pp. 271-313). Urbana, IL: University of Illinois Press.

Suryakusuma, J. (2004). New Order Indonesia. Sex, power and nation: An anthology of writings 1979-2003. Jakarta: Metaphor Publishing.

Trinh, M. H. (1989). Women, native, other: Writing, postcoloniality and feminism. Bloomington, IN: Indiana University Press.

Triyanto, E. (2010). Pengalaman masa pubertas remaja studi fenomenologi di purwokerto. The Puberty Experience of Adolescent Fenomenology Study in Purwokerto. Jurnal Ners, 5(2), 147-153.

Warren, S. (2017). Struggling for visibility in higher education: Caught between neoliberalism ‘out there’and ‘in here’–an autoethnographic account. Journal of Education Policy, 32(2), 127-140.


[i] Tulisan ini kupersembahkan untuk ibu Nediv, bapak Han, mas Shul, mas Huda, mas Lal, mbak Yus dan mbak Fari; kepada kalian (mimpi) aku (telah dan) akan berlabuh.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed