Pondok Pesantren Prisma Quranuna menggelar peringatan Nuzulul Qur’an bertajuk “Move On Nuzulul Qur’an Ramadan 1447 H – Prismaguna.” Kegiatan yang dilaksanakan pada malam Minggu di Aula Pesantren Prisma Quranuna ini mengangkat tema “Revitalisasi Spirit Iqra’ dalam Melejitkan Prestasi Mahasantri, Memancarkan Cahaya Al-Qur’an sebagai Lentera Kehidupan.” Acara tersebut diikuti oleh seluruh mahasantri sebagai bentuk refleksi untuk semakin mendekatkan diri kepada Al-Qur’an sekaligus menghidupkan kembali semangat membaca, memahami, dan mengamalkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam sambutannya, Pengasuh Pondok Pesantren Prisma Quranuna, Dr. KH. Nur Said, S.Ag., M.A., M.Ag., menyampaikan bahwa peringatan Nuzulul Qur’an merupakan momentum penting bagi umat Islam untuk kembali menghidupkan semangat membaca dan memahami Al-Qur’an. Menurutnya, revitalisasi spirit Iqra’ tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas membaca semata, tetapi juga sebagai upaya memahami makna Al-Qur’an serta mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari.
“Revitalisasi spirit Iqra’ berarti menghidupkan kembali semangat membaca Al-Qur’an, memahami maknanya, serta mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan,” kata beliau. Beliau juga menegaskan bahwa kegiatan tersebut sejalan dengan misi Pondok Pesantren Prisma Quranuna, yaitu “pancarkan Cahaya Al-Qur’an sebagai Lentera Kehidupan.”
Melalui kegiatan ini, para mahasantri diajak untuk meneguhkan kembali semangat Iqra’, yakni membaca, memahami, dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Semangat tersebut diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi para mahasantri untuk terus meningkatkan kualitas diri sekaligus meraih berbagai prestasi.
Pada kesempatan tersebut turut hadir narasumber Dr. KH. Sofiyan Hadi, Lc., M.A. pengasuh Pondok Pesantren Al-Mawaddah. Dalam pemaparannya, beliau mengajak para mahasantri untuk menyadari betapa besar nikmat yang diberikan Allah Swt. kepada umat Islam melalui diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi kehidupan manusia. Beliau mengutip firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
Artinya: “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185).
Selain itu, beliau juga menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ secara bertahap selama kurang lebih 22 tahun 2 bulan 22 hari. Proses turunnya wahyu secara berangsur-angsur tersebut merupakan bentuk kasih sayang Allah Swt. agar ajaran Al-Qur’an dapat dipahami serta diamalkan secara bertahap oleh umat manusia.
Beliau juga menegaskan bahwa Al-Qur’an memiliki kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah Swt., sehingga segala sesuatu yang berkaitan dengannya juga dimuliakan.
“Segala sesuatu yang berkaitan dengan Al-Qur’an itu mulia. Bulan Ramadan dimuliakan karena di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, Malaikat Jibril dimuliakan karena menjadi pembawa wahyu, dan Nabi Muhammad ﷺ dimuliakan karena menerima wahyu tersebut,” jelas beliau.
Melalui kajian tersebut, para mahasantri diajak untuk kembali menghidupkan semangat Iqra’ terhadap Al-Qur’an, tidak hanya dengan membacanya, tetapi juga dengan memahami serta mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, melainkan pedoman hidup yang membimbing manusia menuju kehidupan yang lebih baik di dunia maupun di akhirat.
Peringatan Nuzulul Qur’an ini diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan para mahasantri terhadap Al-Qur’an serta menjadikannya sebagai pedoman dalam setiap aspek kehidupan. Dengan demikian, cahaya Al-Qur’an dapat terus memancar dalam diri para mahasantri, sehingga melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan memberi manfaat bagi masyarakat.*(Fithria Kamilia)









Comment