by

Menjadikan Bordir dan Konveksi Sebagai UMKM Unggulan di Kabupaten Kudus

Pendahuluan

Kudus sebagai salah satu kawasan perdagangan di Pulau Jawa berpotensi menjadi pusat perdagangan (trade centre) berskala Internasional. Keunggulan Kabupaten Kudus sebagai salah satu kabupaten di Jawa Tengah dibuktikan dengan ditetapkannya Kabupaten Kudus sebagai Kabupaten/Kota Propinsi peringkat IV dari 32 Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah. Luas wilayah Kabupaten Kudus dianggap paling kecil di Jawa Tengah dengan luas wilayah hanya 42.516 hektare. Wilayah Kabupaten Kudus berbatasan dengan Kabupaten Jepara dan Pati di sebelah utara, Kabupaten Pati di sebelah timur, Kabupaten Grobogan di sebelah selatan, dan Kabupaten Demak di sebelah barat. Sedangkan berdasarkan hasil sensus, jumlah penduduk Kabupaten Kudus pada tahun 2012 sebanyak 791.891 orang terdiri atas 391.722 laki-laki dan 400.169 perempuan (www.kuduskab.go.id). 

Kudus merupakan daerah industri dan perdagangan yang mampu menyerap tenaga kerja yang cukup besar dan memberikan kontribusi besar terhadap PDRB. Sektor industri pengolahan berperan dominan dalam perekonomian dengan menyumbangkan kontribusi bagi PDRB Kabupaten Kudus sebesar 58,89 persen. Jumlah perusahaan di Kabupaten Kudus mencapai 13.482 perusahaan yang terkonsentrasi di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Kota, Jati, dan Kaliwungu. Sedangkan jumlah Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kudus mencapai 10.954 UMKM dengan konsentrasi bidang usaha yang berbeda-beda (www.kuduskab.go,id).

Kudus memiliki klaster UMKM yang cukup dikenal, yaitu UMKM klaster Bordir dan Konveksi Padurenan yang berada di Desa Padurenan Kecamatan Gebog Kabupaten Kudus bagian utara dekat dengan pesisir pantai. Lokasi UMKM ini berjarak sekitar 4 s.d 5 km dari pusat kota Kudus yang banyak dikunjungi oleh wisatawan/peziarah Masjid Menara Sunan Kudus. Desa ini juga berjarak 3 km dari tempat ziarah Gunung Muria. Saat ini, terdapat sekitar 200 unit usaha yang menyerap sekitar 1.500 tenaga kerja. Dari populasi usaha tersebut, diperkirakan sekitar 60% merupakan unit usaha konveksi dan 40% usaha industri kain dan baju bordir. Sebagian besar produk dipasarkan di sekitar Pantura (pantai utara), Semarang, Bali dan daerah lainnya (http://pemdespadurenan.blogspot.co,id).

Seiring dengan kemajuan pertumbuhan usaha UMKM bordir dan konveksi di Kabupaten Kudus, terutama di desa Padurenan yang sangat potensial bagi pengembangan ekonomi produktif klaster bordir dan konveksi, maka tulisan singkat ini menggagas terwujudnya bordir dan konveksi sebagai UMKM unggulan di Kabupaten Kudus. 

Peran UMKM dalam Perekonomian Nasional

UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) memiliki peran penting dalam perekonomian di Indonesia. Sektor ini mampu menciptakan lapangan kerja, menyerap tenaga kerja yang cukup besar dan mendominasi sekian banyak sektor riil yang ada di Indonesia. Lingkup usaha UMKM ini mencakup berbagai sektor, mulai dari pertanian, peternakan, kehutanan, perdagangan, manufaktur hingga pengusaha konveksi dan bordir sehingga cukup beralasan jika pergerakan sektor riil dikuasai olah UMKM. Eksistensi UMKM-pun memang tidak dapat diragukan lagi karena terbukti mampu bertahan dan menjadi roda penggerak perekonomian nasional, terutama pasca krisis ekonomi (Maisaroh dan Sumiati, 2011: 137-138).

Baca Juga  Burung Sebagai Bioindikator di Kawasan Perkotaan Kabupaten Kudus

Sumbangan yang diberikan UMKM terhadap PDB Nasional juga tidak bisa dibilang kecil. Pada tahun 2012 BPS mencatat bahwa UMKM menyumbang sekitar Rp 4.869 Triliun (59,08%) dari total pendapatan Domestik Bruto Nasional. Apabila dibandingkan dengan tahun 2011, nilai PDB UMKM ini mengalami peningkatan sebesar Rp 565 Triliun atau naik sebesar 13,15%. Sementara itu sumbangan usaha bersakala besar pada PDB, meskipun mengalami peningkatan namun kalau dilihat secara persentase terhadap total PDB, sumbangan PDB usaha skala besar mengalami penurunan sebesar 1,14% (Andika, 2013: 5).

Jumlah pelaku usaha industri UMKM di Indonesia termasuk paling banyak di antara negara lainnya, terutama sejak tahun 2014. Abdul Kadir Damanik selaku Staf Ahli Menteri KUKM bidang Penerapan Nilai Dasar Koperasi menyebutkan bahwa pada tahun 2014 terdapat sekitar 57,9 juta pelaku UMKM di Indonesia dan diperkirakan jumlah pelaku UMKM terus bertambah hingga tahun 2016. Selama ini UMKM telah memberikan kontribusi pada PBD 58,92% dan penyerapan tenaga kerja 97,30%. Bahkan, UMKM telah menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia dan ASEAN. Sekitar 88,8-99,9% bentuk usaha di ASEAN adalah UMKM dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 51,7-97,2% (www.lisubisnis.com). Dari berbagai indikator tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa UMKM memiliki andil yang cukup besar untuk menggerakkan sektor riil dan menumbuhkan perekonomian Indonesia, yang pada akhirnya akan mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran di Indonesia.

Upaya Mewujudkan Bordir dan Konveksi Sebagai UMKM Unggulan di Kabupaten Kudus

Desa Padurenan merupakan desa produktif klaster bordir dan konveksi di Kudus. Visi yang telah dicanangkan dalam pengembangan Desa Produktif Padurenan adalah: “Menjadikan Desa Padurenan sebagai Klaster Wisata (Wisata Belanja Bordir dan Konveksi) yang memiliki produktivitas serta daya saing industri yang tinggi sehingga menjadi penggerak bagi pertumbuhan ekonomi desa sekitarnya.” Di desa Padurenan ini terdapat 102 UMKM yang menjalankan usaha bordir dan konveksi sejak tahun 2010.  Pangsa pasar dari usaha ini masih untuk pasar dalam negeri, baik itu wisatawan lokal maupun luar negeri yang sedang berada di Indonesia. Selain itu, kawasan ini adalah mitra binaan dari Pemkab Kudus sebagai mentor dan juga pembina bagi para UMKM.

 Saat ini, UMKM bordir dan konveksi menjadi suatu klaster yang produktif telah mendapatkan dukungan yang cukup baik dari beberapa pihak, antara lain dari Bupati/Pemkab Kudus beserta seluruh jajaran Satuan Kerja Perangkat Desa (SKPD) yang berkomitmen untuk mengupgrade klaster di Padurenan, baik dari sisi modal sosial, infrastruktur maupun kompetensi UMKM/pelaku usahanya. Di samping itu, komitmen yang kuat juga diperoleh dari aparat maupun masyarakat desa di Padurenan serta stakeholder lain (BPPTK Disnaker Propinsi Jawa Tengah, BUMN dan perbankan).

Baca Juga  Memaknai Pergeseran Kudus Kota Santri, Menjadi Kota Industri

Bank Indonesia Semarang memberikan beberapa fasilitas kepada para pelaku UMKM bordir dan konveksi di Padurenan Kudus dalam rangka untuk meningkatkan daya saing pelaku usaha bordir dan konveksi tersebut dan pengembangan klaster. Klaster ini dipilih oleh BI Semarang dengan 2 (dua) alasan, yaitu: Pertama, produk bordir dan konveksi merupakan salah satu komoditas unggulan Kabupaten Kudus yang masih dapat ditingkatkan value added-nya. Kedua, daerah tersebut berlokasi relatif dekat dengan wisata religi Sunan Kudus dan Sunan Muria yang marak dikunjungi oleh para peziarah maupun wisatawan nasional maupun internasional (Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia dan Thailand Selatan). Selain itu, adanya dukungan yang kuat dari Pemerintah Kabupaten Kudus, Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Kependudukan Propinsi Jawa Tengah, Balai Besar Pengembangan Produktivitas Tenaga Kerja (BPPTK), Departemen Tenaga Kerja RI, Bank Jateng dan GTZ RED diharapkan dapat menjadi salah satu pendorong berjalannya program pengembangan klaster bordir dan konveksi, di samping modal sosial para pelaku usaha di wilayah tersebut  (www.banking.blog.gunadarma.ac.id).

Kondisi UMKM bordir dan konveksi di desa Padurenan Kudus saat ini, dari sisi produksi, tidak terdapat kendala dari segi pengadaan bahan baku, proses produksi maupun peralatan produksi. Namun demikian, terdapat kendala utama yang dihadapi adalah dalam segi pemasaran dan penyediaan modal. Dari segi pemasaran produk, para pengusaha konveksi dan bordir memiliki bargaining position yang rendah terhadap pedagang di pasar, sehingga mereka tidak bebas dalam menetapkan harga jual produk. Meskipun demikian, mereka mengaku mendapatkan tingkat keuntungan antara 10% s.d 25%, bahkan untuk produk dengan desain baru, tingkat keuntungannya bisa mencapai 100%. sehingga rata-rata tingkat ekonomi keluarga dapat dikatakan sejahtera. Dari segi modal atau keuangan, mereka tidak mampu mengumpulkan modal dengan cepat disebabkan mereka harus mengeluarkan biaya secara tunai, baik untuk membeli bahan baku maupun untuk membayar upah tenaga kerja. Sementara itu hasil penjualan produk, baru dibayar oleh pelanggan/sales mereka setelah 1 bulan bahkan dengan kredit yang akan dilunasi menjelang hari raya (http://pemdespadurenan.blogspot.co.id).

Pangsa pasar dari UMKM bordir dan konveksi di desa padurenan ini masih untuk pasar dalam negeri, baik itu wisatawan lokal maupun luar negeri yang sedang berada di Indonesia. Namun demikian, strategi pemasaran yang digunakan pada UMKM bordir dan konveksi ini masih dengan cara konvensional atau offline yaitu memasarkan dengan cara memasang hasil produk di toko-toko di kawasan Padurenan, sehingga masih memiliki jangkauan yang terbatas dan mengakibatkan rendahnya orientasi pasar dan lemahnya daya saing di tingkat global. Sementara, dalam persaingan yang kian ketat dan global, pelaku UMKM dituntut untuk semakin kreatif untuk memasarkan produk-produknya.

Baca Juga  Sentuh Montel, Biar Seksi

Upaya dan bantuan teknis yang telah diberikan untuk meningkatkan kompetensi dan modal sosial para pelaku dalam klaster bordir dan konveksi di Padurenan adalah: (1) Fasilitasi dari BPPTK Propinsi Jawa Tengah berupa studi banding bagi para pengrajin bordir dan konveksi ke Desa Produktif/Desa Wisata Kerajinan di Kampung Batik Laweyan, Solo, Desa Gerabah “Kasongan” Bantul, Yogyakarta dan Tanggulangin Sidoarjo, Jawa Timur, pelatihan Achievement Motivation Training dan manajemen usaha dan pelatihan penyusunan laporan keuangan sederhana dan (2) Fasilitasi dari Disperinkop Kabupaten Kudus berupa pemberian ijin Koperasi Serba Usaha (KSU) Padurenan Jaya (www.banking.blog.gunadarma.ac.id) 

Pemberian bantuan teknis tersebut dilaksanakan secara parsial oleh BPPTK Propinsi Jawa Tengah dan Disperinkop Kabupaten Kudus sebelum adanya keterlibatan KBI Semarang dan GTZ RED. Selanjutnya, dalam rangka mensinergikan dan mengintegrasikan effort semua pihak sehingga akan terdapat kesinambungan program kedepannya, beberapa pihak terkait yaitu Pemkab Kudus, BPPTK, KBI Semarang sepakat untuk melakukan Focus Group Discussion (FGD)/workshop partisipatif. Workshop yang masih terbatas pada pelaku usaha, perbankan dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait tersebut mengidentifikasi adanya kebutuhan peningkatan kualitas produk dan promosi untuk meningkatkan penjualan langsung ke konsumen. Berdasarkan kondisi tersebut, KBI Semarang memfasilitasi bantuan teknis berupa pelatihan desain bordir dan inovasi produk bordir yang dirangkai dengan peragaan busana desainer Ramli serta promosi produk bordir dan konveksi Padurenan melalui beberapa pameran di Semarang dan Surabaya (www.banking.blog.gunadarma.ac.id).

Salah satu dampak yang diperoleh UMKM adalah wawasan baru mengenai harga produk, perluasan pasar, pengenalan trend pasar sekaligus mengenali tingkat persaingan produk sejenis. Selanjutnya, jejaring baru yang diperoleh dari desainer Ramli dan pakar bordir Hery Suhersono diharapkan juga dapat meningkatkan segmen pasar baru maupun omzet penjualan produk bordir Padurenan ini. Akhirnya, pada tanggal 5 Agustus 2009 telah dilaksanakan launching “Program Pengembangan Desa Produktif Klaster Bordir dan Konveksi Padurenan Kudus melalui Pendekatan Diamond Cluster” dengan penandatanganan Nota Kesepahaman antara Pemerintah Kabupaten Kudus, Bank Indonesia Semarang, Depnakertrans RI dan Pemerintah Propinsi Jawa Tengah serta Bank Jateng (www.bi.go.id/id/publikasi/kajian-ekonomi-regional/jateng).

DAFTAR PUSTAKA

Anggi Andika, “Optimalisasi Sistem Linkage Pada BMT Dalam Pengembangan UMKM dan Pemberantasan Kemiskinan”, diakses dari http://share.pdfonline.com., diakses pada 25 Oktober 2013, hlm. 1-14.

Http://pemdespadurenan.blogspot.co.id
Http://www.banking.blog.gunadarma.ac.id.
Http://www.kuduskab.go.id
Http://www.lisubisnis.com/2016/02/perkembangan-jumlah-umkm-di-indonesia.html
Http://www.bi.go.id/id/publikasi/kajian-ekonomi-regional/jateng).

Maesaroh dan Ati Sumiati, “Tantangan dan Peluang Perbankan Syariah Dalam Pengembangan UKM Untuk Memperkuat Kesejahteraan Umat”. Jurnal Econo Sains, Vol. IX, No. 2, Agustus 2011, hlm. 133-145.

Penulis : Anita Rahmawaty

Dosen Pascasarjana IAIN Kudus, alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Email: itarahma1275@gmail.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed