by

Merantaulah

-Motivator-102 views

Merantaulah

 Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman,
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang.
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
jika mengalir menjadi jernih, jika tidak akan keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika mentari hanya diam selamanya di ufuk, 

Seluruh manusia  orang Arab dan ’Ajam akan menjadi bosan
Biji  emas bagaikan tanah sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan

—Imam Syafi’i

Hampir semua orang sukses pernah merantau. Tak terkecuali para Nabi. Apakah istilahnya hijrah, rihlah ilmiyah atau eksodus.  Dan pengaruh mereka meningkat luar biasa setelah itu.  Hal ini bisa dipahami karena merantau memberikan berbagai pengalaman dan pelajaran kehidupan yang berharga. Maka tinggalkan zona nyaman (comfort zone), karena itu akan mematikan potensi secara perlahan. Berpetualanglah mumpung kaki masih kuat, mumpung belum punya asam urat, jangan ragu untuk terus melompat, demi masa depan yang lebih hebat.  

Merantau itu penting. Dengan cara itu maka kehidupan akan berubah. Soft skill menjadi terasah. Kemampuan di luar bidang akademik, yang mencakup komunikasi, kerja sama, perilaku, kepribadian, kemampuan adaptasi, kepekaan sosial dan kultural dalam berinteraksi dengan orang lain serta kemampuan menyelesaikan masalah.  Tak lupa juga kemampuan mengatur keuangannya sendiri dan membuat keputusan sendiri sehingga membuat seseorang belajar menjadi problem solver.  

Hal ini turut dikonfirmasi oleh sebuah penelitian yang dilakukan oleh William Maddux dari Perancis. Dilansir dari TIME, diketahui bahwa mereka yang sekolah di luar negeri atau terlibat dalam lingkungan yang multi-kultural ternyata memiliki kemampuan berpikir yang lebih hebat. Mereka cenderung dapat berpikir secara kreatif, fleksibel, dan mampu menyelesaikan masalah dengan baik. 

Orang yang merantau itu seperti dipaksa untuk sukses. Ibaratnya kalau perang, “Do or Die”. Mau tidak mau harus belajar menyesuaikan diri supaya survive. Tekad dan komitmen ”Saya tidak mau pulang, sebelum jadi Sarjana” itu mirip semangat Bon Jovi  dalam sebuah lagunya, “ it’s nothing but survival”. Memang, dengan merantau orang akan menjadi lebih adaptif, lebih kreatif, lebih open minded, lebih motivated, lebih berani, lebih mandiri, dan masih banyak lagi. 

Mungkin karena dampaknya yang hebat itu merantau menyisakan sejumlah tantangan yang berat. Tentang beratnya perjuangan di rantau, tiap kita pasti punya kisah dan kenangan yang unik dan berbeda. Ada yang naik sepeda ontel dari tempat kost ke kampus. Ada yang memilih asrama agak jauh karena itulah satu-satunya tempat tinggal yang tidak memungut biaya. Ada juga yang rajin puasa, tujuannya selain memburu pahala, adalah penghematan. Ini tentu lebih elegan ketimbang seorang kawan yang selama kuliah jam makannya selalu tepat di angka 12 siang. Gabungan sarapan dan makan malam. Bilangnya tirakat.

Saya sendiri masih ingat ketika menyelesaikan studi S2 di program Interreligious and Cross-Cultural Studies, UGM  tahun 2005. Barangkali saya adalah Mahasiswa di kelas yang paling sederhana—untuk menghindari kata miskin. Beberapa kawan berangkat kuliah pakai mobil, ada juga sih yang naik motor. Tapi motor saya paling antik. Honda 80 warna hitam. Kalau dinaiki semuanya bunyi, kecuali klaksonnya!  

            Setiap malam minggu tiba, saya selalu berdoa dengan khusyu’ agar hujan turun lebat. Beratnya hidup di rantau, jomblo lagi! Membaca buku menjadi satu-satunya peluru mengusir rindu. 

Kembalilah

Setinggi-tingginya bangau terbang, akhirnya ke pelimbangan juga. Artinya,sejauh-jauhnya merantau akhirnya kembali ke kampung halaman juga. Memang logika tak pernah menang malawan rasa. Kampung halaman, seburuk apapun, adalah sumber kebahagiaan sejati. Setiap manusia memiliki ikatan primordial dengan tempat kelahirannya. 

Rasulullah, meskipun mendapatkan perlawanan bahkan diusir dari tanah kelahirannya,  tetap mencintai Mekah. Ketika hendak hijrah ke Madinah, sambil menatap kota Mekah beliau berkata, “Alangkah baiknya engkau dari negeri yang ada, dan engkau adalah negeri yang paling aku cintai, kalau bukan lantaran kaumku mengusirku darimu, aku tidak akan tinggal di negeri selainmu” (HR. Turmudzi). Sesampainya di Madinah, beliau berdo’a :  “Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah seperti cinta kami kepada Makkah, atau melebihi cinta kami pada Makkah”. 

Maka pembebasan Kota mekah  (Fathu Makkah) pada tahun 8 hijriyah menjadi jawaban atas doa dan kerinduan Nabi untuk kembali ke kota kelahiran Mekah, 

Sungguh, Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya bahwa kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, jika Allah menghendaki dalam keadaan aman, dengan menggundul rambut kepala dan memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, dan selain itu Dia telah memberikan kemenangan yang dekat. (QS. AlFath :27)

Ibrahim juga memendam kerinduan yang sama.  Dalam QS. Al Baqarah 126 diceritakan bagaimana kecintaan Nabi Ibrahim terhadap tanah airnya Mekah, sehingga beliau berdo’a : “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman kepada Allah dan hari kemudian”.

Jadi, cinta tanah air (nasionalisme), cinta kota kelahiran atau kampung halaman itu sesuatu yang alamiah dan manusiawi. Sebetulnya tidak membutuhkan dalil.  

Mengabdilah

Kuliah di luar kota itu keren. PR-nya kemudian adalah apa yang kita berikan kepada kota kelahiran setelah pulang merantau? Di sinilah pentingnya membuat semacam peta pengabdian agar ilmu dan pengalaman yang kita miliki bisa bermanfaat bagi masyarakat. Tentu kita sepakat, bukan tingginya jabatan dan panjangnya gelar akademik yang menjadikan kita mulia, tapi apakah keberadaan kita dapat memberikan nilai tambah untuk kemajuan orang lain.     

Hidup ini pilihan. Kita berhak memilih jadi orang sukses atau gagal, pemenang atau pecundang, menjadi super atau kuper, hero atau zero, something atau nothing.Kehidupan adalahapa yang anda buat! Namun, meskipun kita dianjurkan berlomba dalam kebaikan, tetapi kehidupan bukanlah sebuah kontes. Jadi jangan banding-bandingkan diri anda dengan orang lain. Setiap orang punya tujuan sendiri-sendiri, dan Allah telah memberikan semua sarana yang kita butuhkan. 

Renungkan apa yang harus anda berikan pada kehidupan. Mengabdilah. Saya mendirikan Pesantren entrepreneur Al Mawaddah Kudus untuk melatih para mahasiswa. Menapak jejak Rasulullah menjadi pengusaha sejak usia muda. Dan inilah semangat Gusjigang yang diwariskan Sunan Kudus.

Pernah dengar istilah American dream?  Menurut kajian Antropologi, American Dream, atau “mimpi orang Amerika” adalah sebuah kepercayaan di  Amerika Serikat. Mereka percaya, melalui kerja keras, pengorbanan dan kebulatan tekad, tanpa memedulikan status sosial, seseorang dapat mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Gagasan ini berakar dari sebuah keyakinan bahwa Amerika Serikat adalah sebuah “kota di atas bukit” (atau city upon a hill”), “cahaya untuk negara-negara” (“a light unto the nations”), yang memiliki nilai dan kekayaan yang telah ada sejak kedatangan para penjelajah Eropa sampai generasi berikutnya.

Saya kira kita bisa mengadopsi konsep keyakinan yang sama untuk masyarat Kudus. Sebut saja ”Mimpi orang Kudus”.  Rumusannya kurang lebih berbunyi, ”Melalui semangat Gusjigang (Bagus –Ngaji–Dagang),  seseorang dapat mendapatkan kehidupan yang baik di dunia dan akhirat (fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah)”.

Sampai di sini saya membayangkan tipologi orang Kudus itu religius, well-educated dan kaya. Ini tentu bukan sesuatu yang mengada-ada. Bukankah Nabi sendiri yang mengatakan, ”Sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh hamba yang Shalih.”, “Hendaklah kalian berdagang karena berdagang merupakan sembilan dari sepuluh pintu rizki”,  “Seorang pedagang muslim yang jujur dan amanah akan (dikumpulkan) bersama para Nabi, orang-orang shiddiq dan orang-orang yang mati syahid pada hari kiamat.” 

The last but not least, Kita memang hanya setitik debu di tengah semesta, setetes air di luasnya samudera, namun kita adalah bagian dari ciptaan yang  Maha Agung. Bagi saya, hidup bukan sebatang lilin yang pendek yang akan segera padam. Hidup ini seperti obor terang yang dapat saya genggam untuk sesaat, dan saya ingin memastikan obor itu terus menyala terang sebelum saya menyerahkannya kepada generasi penerus di masa depan. []

Oleh Sofiyan Hadi

Spiritual Motivator & Pendiri Pesantren Entrepreneur Al Mawaddah Kudus

Alumni Universitas Al Azhar Mesir dan Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Email: abu.falastin@yahoo.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *