by

Pesantren dan Pencarian Lailatul Qadar: Tradisi Ibadah yang Bermakna di Bulan Ramadhan

Oleh: Naili Anugrah Aldini

Naili Anugrah Aldini
Mahasantri Pesantren Literasi Prisma Qur’anuna Kudus

Santriyah Ma’had Prisma Quranuna Kudus dan Mahasiswa Prodi Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam UIN Sunan Kudus.

Bulan Ramadan selalu menjadi momen istimewa bagi umat Islam, terlebih di lingkungan pesantren. Suasana religius yang sudah terbentuk sepanjang tahun terasa semakin kuat ketika para santri memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, masa yang diyakini sebagai waktu turunnya Lailatul Qadar malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Allah SWT menjelaskan kemuliaan malam tersebut dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Al-Qadr ayat 1-3:

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadar.

Dan tahukah kamu apakah malam Lailatul Qadar itu? Malam Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1-3)

Ayat ini menjadi motivasi kuat bagi para santri untuk meningkatkan ibadah, karena satu malam tersebut diyakini memiliki nilai pahala yang sangat besar. Di pesantren, pencarian Lailatul Qadar bukan sekadar ritual tahunan, tetapi menjadi proses pembelajaran spiritual yang mendalam. Para santri diajak memahami bahwa malam istimewa tersebut tidak hanya dicari melalui ibadah fisik, tetapi juga melalui ketulusan hati, keikhlasan, dan peningkatan kualitas diri.

Biasanya, kegiatan pesantren pada sepuluh malam terakhir Ramadan diisi dengan berbagai ibadah tambahan seperti qiyamul lail, tadarus Al-Qur’an, zikir bersama, serta kajian keagamaan yang membahas makna dan hikmah Lailatul Qadar. Banyak pesantren juga mengadakan i’tikaf, yakni berdiam diri di masjid untuk fokus beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah.

Hal ini sejalan dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari:

Barang siapa melaksanakan salat pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari)

Baca Juga  Digitalisasi Nyantri: Dialektika Tradisi Jawa dan Ekspresi Gen-Z di Langit Ramadan

Hadis tersebut semakin menegaskan bahwa kesungguhan ibadah pada malam tersebut bukan hanya tradisi, tetapi memiliki janji spiritual yang besar. Tradisi ibadah di pesantren juga membentuk karakter disiplin dan kesungguhan para santri. Hidup sederhana di lingkungan pesantren justru membantu mereka lebih fokus pada ibadah, jauh dari distraksi duniawi yang sering mengganggu konsentrasi spiritual.

Selain itu, kebersamaan antar santri selama Ramadan menciptakan ikatan emosional yang kuat. Mereka saling mengingatkan dalam kebaikan, berbagi semangat ibadah, bahkan saling menguatkan ketika rasa lelah muncul. Nilai kebersamaan ini menjadi bagian penting dari pendidikan pesantren yang menekankan tidak hanya ilmu, tetapi juga akhlak dan solidaritas. Para kiai dan ustaz biasanya menekankan bahwa Lailatul Qadar bukan semata soal “menemukan malam tertentu”, melainkan tentang konsistensi dalam beribadah dan peningkatan ketakwaan. Jika seseorang mampu menjaga kualitas ibadah setelah Ramadan, itulah salah satu tanda keberhasilan spiritual yang sesungguhnya.

Pada akhirnya, pesantren mengajarkan bahwa pencarian Lailatul Qadar adalah perjalanan batin. Bukan sekadar menunggu tanda-tanda khusus, tetapi membangun hubungan lebih dekat dengan Allah melalui ibadah, refleksi diri, serta perbaikan akhlak. Tradisi ini menjadikan pesantren bukan hanya pusat pendidikan agama, tetapi juga ruang pembentukan spiritual yang mendalam terutama dalam momentum Ramadan yang penuh berkah.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed