Waktu kritis saat Ramadlan adalah selepas subuh. Rawan Ngantuk. Hal ini tidak terjadi saat santri dan mahasiswa Prisma mengikuti PRISMAGUNA (Program intensif santri & mahasiswa siap guna). Pada hari ini 090422 materinya Jurnalisme Profetik melawan Hoak yang penuh tantangan.
Acara yang diselenggarakan di aula Prisma Ngembalrejo ini menghadirkan Narasumber Afina Izzati AH dari NUonline, seorang santri cendekia muslimah yang baru saja menyelesaikan jenjang Magister di IAIN Kudus.
Afina bukan sekedar menyampaikan teori menulis berita atau menulis feature, tetapi juga langsung mempraktekkannya (learning by doing).
Sekitar 50 mahasantri antusias mengikutinya, apalagi metode yang disampaikan sangat dialogis sehingga memancing rasa ingin tahu (sense of curiosity) dari peserta.
Afina juga nampak begitu enjoy dan interaktif menyampaikan materi karena dunia literasi adalah passionnya sejak mahasiswa dan sejak nyantri di sebuah Pesantren Tahfidz di Lasem.
Menurut Abah Nur Said, pengasuh Pesantren Riset Prisma acara ini diselenggarakan sebagai bagian dari pembekalan santri siap guna dalam semarakkan bulan suci Ramadlan dan sekaligus menyiapkan kader ulama perempuan yang ahli menulis sehingga dengan pena mampu tegakkan keadilan. PRISMAGUNA ini akan diselenggarakan selama sekitar 3 pekan di momen Romodlan. Ini semacam alternatif posonan sesuai kebutuhan milenial. Salain materi jurnalisme profetik, juga ada pembekalan pranata Jawa, Cooking Class, Bimbingan Konseling dan juga Mabadi Khaira Ummah. Yang tak kalah menarik Prismaguna juga tetap mempertahankan tradisi balagh kitab kuning setiap hari sehabis Ashar dan Subuh. Hal ini sebagai praksis Almuhafadhatu ‘alal qadimishshaleh wal akhdzu biljadidil ashlah, melestarikan tradisi lama yg baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik (NS).*







Comment