by

Suara Tadarus yang Membawa Pulang

Oleh: Ummi Lutfiyah

Ummi Lutfiyah
Mahasantri Pesantren Literasi Prisma Quranuna Kudus / Mahasiswa Prodi Tadris IPS FTIK UIN Sunan Kudus

Menjadi mahasantri di pondok, kini membuatku merasakan pengalaman berbeda saat Ramadhan. Bukan hanya karena jadwalnya yang lebih padat, tetapi karena ada jarak yang tidak terlihat, yaitu jarak antara diri yang sedang belajar mandiri dengan rumah yang diam-diam selalu dirindukan.

Pagi hari dimulai dengan rutinitas mahasiswa pada umumnya. Bersiap kuliah dalam keadaan masih menyimpan kantuk sahur, berjalan ke kelas dengan langkah yang kadang terasa lebih berat karena puasa. Di ruang perkuliahan, tidak ada yang berubah. Materi tetap berjalan, presentasi tetap harus siap, dan tugas tetap menunggu untuk dikumpulkan. Ramadhan bukan alasan untuk berhenti produktif.

Namun kehidupan di pondok saat Ramadhan tidak berhenti di ruang kelas.

Ba’da Ashar, kami kembali duduk berbaris untuk ngaji kitab. Kitab terbuka di pangkuan, suara ustadz membacakan makna, lalu kami menyimak dengan khidmat namun mata tidak bersahabat. Sore hari yang biasanya identik dengan rasa lelah justru menjadi waktu untuk kembali menata hati. Di sela-sela itu, ketika angin masuk dari ventilasi udara dan suasana mulai tenang, pikiran sering melayang jauh.

Ke rumah.

Ke dapur kecil tempat ibu biasanya sibuk menjelang Maghrib. Ke aroma masakan yang menyebar sampai ruang depan. Dulu, saya tidak pernah benar-benar memikirkan bagaimana makanan itu tersaji. Saya hanya duduk, menunggu adzan, lalu berbuka bersama keluarga. Sederhana, tapi hangat.

Sekarang, semuanya terasa berbeda.

Menjelang berbuka di pondok, saya harus memastikan sendiri semuanya. Mencari hidangan untuk berbuka, mengantri di jejeran pedagang sambil memilih menu yang sama dari hari ke hari, membereskan peralatan setelahnya. Tidak ada suara ibu yang mengingatkan, “Sebentar lagi maghrib.” Tidak ada yang memastikan saya sudah makan cukup atau belum. Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa kini justru terasa paling berarti.

Baca Juga  Akhlak dengan Lingkungan: Menggapai Islam Ramah Lingkungan dalam Kajian Kitab Taysirul Kholaq di Bulan Ramadhan

Setelah Isya, kami melaksanakan tarawih berjamaah. Lalu malam dilanjutkan dengan tadarus. Mushaf dibuka, dan suara ayat-ayat suci mulai mengalun dari berbagai sudut. Ada yang membaca dengan lancar, ada yang masih terbata, ada yang mengulang ayat karena kurang tepat. Namun semua menyatu dalam satu irama, yakni irama Ramadhan.

Suara tadarus di pondok tidak pernah benar-benar sepi. Ia mengisi malam dengan ketenangan yang sulit dijelaskan. Tetapi anehnya, justru di tengah lantunan ayat itulah rindu sering datang paling kuat.

Suara itu seperti membawa saya pulang.

Ia mengingatkan pada musala dekat rumah, pada anak-anak kecil yang membaca dengan suara keras agar terdengar paling lancar, pada ibu-ibu yang duduk berderet dengan mukena sederhana. Dulu semua itu terasa biasa saja. Kini, kenangan itu hadir dengan rasa yang berbeda, lebih hangat, sekaligus lebih menggetarkan.

Subuh di pondok pun memiliki ritme tersendiri. Setelah sahur yang harus disiapkan sendiri, dengan alarm yang dipasang sendiri, dengan mata yang masih berat, kami tidak langsung kembali tidur. Ada ngaji kitab lagi. Di waktu yang masih dingin dan langit yang belum sepenuhnya terang, kami kembali membuka kitab, mencoba memahami setiap penjelasan dengan mata yang kadang hampir terpejam.

Di saat seperti itu, saya teringat pada sahur di rumah.

Ibu yang sudah bangun lebih dulu. Suara sendok dan piring yang pelan-pelan berbunyi dari dapur. Bau nasi hangat yang baru matang. Saya hanya perlu bangun dan duduk. Bahkan sering kali masih setengah mengantuk. Tidak pernah benar-benar menyadari betapa besar perhatian yang tercurah dalam hal-hal kecil itu.

Sekarang, apa-apa sendiri.

Menjadi mahasantri berarti belajar mandiri dalam banyak hal. Mengatur waktu antara kuliah dan kegiatan pondok, membagi tenaga antara tugas akademik dan ibadah, serta mengelola perasaan agar tidak mudah goyah. Ramadhan seolah memperjelas semuanya. Ia bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang belajar menguatkan diri.

Baca Juga  Santri Gen-Z Antusias Ngaji Kitab Muqoddimah Al Qonun Al Asasi NU di UIN Sunan Kudus

Namun rindu tetap rindu.

Ia hadir tanpa diminta. Kadang saat melihat teman ditelepon ibunya menjelang berbuka. Kadang saat merasa terlalu lelah setelah seharian kuliah dan malamnya tadarus. Kadang saat duduk sendiri setelah ngaji kitab subuh, ketika suasana masih sunyi dan hati terasa lebih peka.

Di pondok, saya belajar menjadi dewasa. Belajar bahwa hidup tidak selalu tentang kenyamanan. Belajar bahwa kemandirian lahir dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang terus diulang. Tetapi di rumah, saya tetap seorang anak. Anak yang rindu ditanya, “Sudah sahur?” Anak yang rindu berbuka tanpa harus menyiapkan semuanya sendiri, yang kini setiap harinya memikirkan “Besok berbuka dan sahur pakai apa?” Menghemat pengeluaran harus dilakukan karena seringkali berpikiran, “Uang di dompet sisa berapa?”

Suara tadarus mungkin hanya lantunan ayat bagi sebagian orang. Tetapi bagi saya, ia adalah jembatan. Jembatan antara masa kecil dan masa sekarang. Antara rumah dan pondok. Antara kenyamanan yang pernah dimiliki dan kemandirian yang sedang ditempa.

Saya mulai menyadari, mungkin inilah cara Ramadhan mendewasakan saya. Lewat jarak, lewat lelah, lewat rindu yang tidak selalu terucap. Lewat kesibukan dari pagi kuliah, sore ngaji kitab, malam tarawih dan tadarus, hingga subuh kembali mengaji. Semua itu perlahan membentuk ketahanan, membentuk kesabaran, dan membentuk rasa syukur yang sebelumnya tidak pernah benar-benar terasa.

Dan setiap kali suara tadarus mengalun di malam hari, saya sadar bahwa meski jauh dari rumah, saya tidak benar-benar sendiri. Ayat-ayat itu membawa ketenangan. Ia membawa ingatan. Ia membawa pulang, setidaknya lewat kenangan.

Mungkin suatu hari nanti, ketika masa-masa ini sudah berlalu, yang akan paling dirindukan justru adalah kepadatan Ramadhan di pondok. Tentang kitab yang dibuka ba’da Ashar dan subuh. Tentang mushaf yang dibaca bergantian setelah tarawih. Tentang rasa lelah yang bercampur haru.

Baca Juga  Nilai Etis Takjil Gratis: Sedekah Jawa Dalam Spirit Ramadan

Dan tentang rindu pada ibu, yang membuat setiap ayat terasa lebih dalam maknanya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed